Alara selalu dianggap mampu oleh kedua orangtuanya. Sudah dewasa dan mampu mengatasi segala urusannya sendiri. Tidak kekurangan karena mampu memenuhi semua kebutuhannya sendiri. Tidak butuh sandaran karena mampu bangkit berdiri untuk tetap bertahan sejauh apa pun pijakannya.
Yang tidak pernah di ketahui oleh orangtuanya hanyalah betapa rapuhnya Alara oleh timpaan kehidupan. Seberapa sulitnya bertahan meski sudah di jatuhkan berkali-kali. Susahnya untuk bangkit meski hati tak berbentuk lagi.
Mereka lupa bahwa Alara Senja tetaplah seorang anak yang memiliki kelemahan dan butuh perlindungan. Alara Senja tetaplah manusia lemah yang butuh perlindungan di saat masalah datang menyapa. Dan Alara Senja lebih dari butuh di dengarkan bersama dengan pelukan.
Mereka lupa akan peran yang sesungguhnya hanya dengan melihat ‘semampu’ itu Alara Senja dalam menerima kehidupan. Bukan ingin negatif tapi pemikiran ‘di bedakan’ sudah sangat kentara terlihat walau selalu di sangkalnya. Entah mengapa Alara benci dengan ini. Tidak tahu kenapa Alara dendam dengan kehidupannya. Dan bersumpah bahwa nantinya, hidupnya hanya untuk dirinya sendiri tanpa mau melibatkan pihak lainnya.
“Katanya mau beli?”
“Ngagetin!” Alara pukul lengan Gema. “Nggak tega sama Abang.”
“Baiknya calon istri.”
Lelaki ini sedang membuka diri kepada Alara. Dan sampai fajar terbit di ufuk timur, Alara masih saja meragu. Semalam itu hebat. Dan Gema tidak mengajukan tanya yang sesungguhnya Alara penasari.
“Perut abang bakalan lebih buncit kalau kamu masaknya enak-enak terus tiap hari, Ra.”
“Tetap ganteng.”
“Jangan pintar-pintar masak, sih, Ra.”
“Aku tetap jatuh cinta sama abang. Di setiap harinya.” Spatula Alara memberi arahan menempatkan dirinya seperti guru yang menerangkan materi terhadap muridnya.
Dan Gema memperhatikan dengan saksama. Matanya tak berkedip barang sedetik pun sedang Alara fokus dengan bumbu-bumbu untuk ayam rica-ricanya.
“Masa lalu kamu buruk.” Bukan jenis tanya yang seharusnya Gema ajukan. Melainkan tebakan tepat sasaran yang mengundang kekehan di bibir Lara.
“Itu nyakitin.”
“Abang mau ngehapus itu.”
“Dan pergi setelahnya.”
“Abang nggak kayak gitu—”
“55% pria akan memanfaatkan atau menyalahgunakannya. 30% pria langsung pergi meninggalkan. Hanya 15% pria yang menerima, melengkapi dan menyempurnakannya. Abang di bagian mana?”
Tidak mengerti dengan apa yang Lara katakan, dahi Gema berkerut-kerut. Ini lucu.
“Aku pernah jujur. Dan pilihan pertama menjadi yang sering terjadi.”
“Jadi kamu—” Pening sekali kepala Gema menghadapi Lara dengan sikap dan cara pikirnya yang konyol. “Nggak semua cowok kayak gitu!” Bentak Gema penuh amarah.
“Abang duda. Betah sendiri karena banyak yang ngasih perhatian. Sepak terjang abang dalam dunia gelap patut di acungi jempol. Jadi kenapa milih persentasi yang aku ajuin saja nggak bisa?”
“Bukan soal bisa atau enggaknya! Lara … Kamu nggak bisa memukul segala sesuatunya sama rata. Kamu nggak bisa bandingin aku kayak cowok-cowok kamu sebelumnya. Sekarang—”
“Apa alasan abang ngajak aku nikah?”
“Orang tua—”
“Sudah aku duga.”
Jika mengumpat di perbolehkan, ingin Gema lakukan itu. Sayangnya, mentari baru saja menyembul dari balik pepohonan rimbun. Tidak etis mendahului dengan amarah.
“Abang nggak pernah masalah dengan virgin tidaknya seseorang. Bagi abang, bukan masa lalunya, tapi masa sekarang yang mau menemani abang dan masa depan yang mau di sisi abang. Lara … Kamu salah melempar bom. Kamu salah menganggap abang sama dengan cowok di luaran sana. 55% abang, murni untuk menyempurnakan kamu terlepas dari ketidaksempurnaan yang abang miliki.”
***
Pembicaraan pagi tadi tidak usai. Dan itu berdampak buruk bagi mood Gema. Marah tidak pada tempatnya dan melempar semua pekerjaan yang semestinya milik Alara. Pun dengan eksistensi Alara yang seolah-olah transparan di penglihatan Gema. Ada denyutan lain yang mencubit ulu hati Alara. Sedang bagi Gema, kejadian semalam masih terus membekas meski dirinya coba enyahkan.
Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Gema akui itu. Kehadiran Lara sungguh sangat memengaruhi seluruh sistem kerja tubuhnya. Mulai dari hal-hal buruk yang terjadi di rumah tangganya dulu sampai dengan sesuatu yang bangkit tanpa sebuah sentuhan. Hanya dengan senyum Lara yang sangat indah, bagian pangkal paha Gema berkedut sakit.
Semuanya di luar dugaan. Gema yang tidak tahu apa artinya dan Lara yang selalu menarik diri dari dekapan Gema. Astaga, apa sesulit itu meluluhkan hatinya? Apa begitu mendalam rasa sakitnya sampai harus ada perbandingan yang konyol seperti ini?
“Lara, kopi buat abang mana?” Mati-matian Gema tekan nada suaranya untuk sebiasa mungkin. Karena jika harus meminta orang lain yang membuatkan, takarannya berbeda.
“Malas,” jawaban Alara di luar dugaan.
Kepala Gema terdongak. Mendapati perempuannya tengah asik duduk menyamping bersama ponsel di tangannya. Suara interupsi memberitahu Gema bahwa Alara bermain game.
“Abang haus.”
“Minum.”
“Kopi.”
“Air putih, kan, ada.”
“Abang nggak bisa mikir.”
“Pakai otaknya.” Makin-makin saja sarkasme yang Alara sampaikan.
“Maunya kopi buatan kamu.” Gema tak kalah merajuknya.
“Abang manja banget, deh. Resek!”
“Kapan lagi, kan bikin kamu kesal kayak gini. Gih, buatin.” Secara tiba-tiba tubuh Gema sudah berada di belakang kursi Alara dan melingkarkan kedua lengannya di leher Alara. “Nggak ada yang bisa ngalahin buatan kamu soalnya. Sabtu besok ikut abang pulang, ya?”
“Jangan mulai bang!” Hardik Lara. Tubuhnya menegang total tapi enggan keluar dari kungkungan Gema yang diakuinya nyaman. “Yang tadi pagi pun nggak kelar. Jangan abang tambahin lagi.”
“Ra …” Sudah Gema duga akan begini jadinya. “Tapi kamu harus tahu. Abang sudah ada omongan serius ke orang tua kamu.”
Gila! Alara menjerit dalam hati. Dirinya kecolongan start dari Bahtiar Gema yang sudah bertindak sejauh ini.
“Hubungan kita nggak lebih dari partner di atas ranjang. Abang ngapain berjuang sampai sebegininya!? Abang sengaja pamer ke aku atau—”
Cepat-cepat Gema bungkam bibir Alara yang hendak mengoceh. Tidak ada rontaan. Yang ada hanya geraman tertahan seperti semalam yang berputar di kepala Gema. Rahang Alara mengeras, Gema tahu dari telapak tangannya yang mengusapnya perlahan. Dan mengendur tidak lama setelahnya.
“Maaf kalau itu bikin kamu nggak nyaman. Bagi abang… cuma mau perjuangin apa yang sudah jadi pilihan abang. Dan kamu berhak dapatin apa yang memang milik kamu. Ra, kamu salah menganggap abang sekadar ‘pemain’. Abang mau kita lebih.”
“Aku nggak mau! Aku nggak bisa.”
“Bagian mana yang bikin kamu nggak bisa. Kita bisa mencobanya. Kita bisa memulainya. Kita bisa—”
Berganti Gema yang bungkam. Lumatan Alara menelakkan seluruh kata-katanya yang sudah tersusun. Diamnya seseorang bukan selalu diartikan sebuah persetujuan dan amarah. Demikian dengan Gema yang terdiam akan sebuah keputusan. Dan maju adalah pilihannya. Tidak akan lagi lepas segala sesuatunya jika itu mengenai Alara Senja.
Karena perempuan ini, mampu menggeser luka hina masa lalunya tanpa sedikit pun bayang-bayangnya. Karena Alara Senja telah mencukupi segala kebutuhan hidupnya lewat sebuah kehadiran dan Bahtiar Gema mampu melewati semua itu.
Dari seorang Alara Senja untuk Bahtiar Gema.
Cinta sedekat dan setidak terduga ini.
***
Harus Alara Senja tuliskan apa lagi untuk menggambarkan perasaannya hari ini? Ah, enggak hari ini juga, sih. Ini di mulai sejak semalam atau malah beberapa malam yang lalu? Lupa. Tapi intinya masih sama; bingung.
Jawaban Lara terkesan ngambang kayak something berwarna kuning yang dari jauh terlihat uwu pas di deketin … aduh bangsul. Akhlaknya rendah maksimal. Oke skip.
Zaman sekarang, ada quotes nih dari warga +62 yang tiba-tiba mampir di pikiran Alara. Bunyinya begini:
‘Hukum gantung saja sudah di ganti dengan tembak. Kamu kenapa masih gantungin aku? Tembaknya kapan?’
Kira-kira begitu dan Lara menjadi seorang yang sangat jahat karena menggantungkan pertanyaan yang Gema ajukan. Jahara banget nggak, sih Lara ini?
“Abang masuk angin kayaknya, Ra.”
Duh Gusti! Apa nggak bisa manusia satu ini jangan geremutin hidup Lara muluk? Sudah lepas dari jam pulang kerja bahkan di rumah saja, masih harus Lara, Lara dan Lara yang mengurusi t***k bengeknya. Biadab sekali memang Bahtiar Gema ini. Sikap manjanya menjadi-jadi kalau nyari perhatian ke Lara tapi nggak dapat gubrisan.
“Kerokin sini deh, Bang.” Mengalah menjadi kegemaran Lara akhir-akhir ini. “Jangan begadang makanya. Abang kalau di rumah, ya istirahat. Nggak perlu bawa-bawa kerjaan kantor.”
“Njih, ndoro.”
Endasmu itu!
Lara balurkan minyak kayu putih ke seluruh punggung Gema untuk setelahnya menggosoknya dengan koin kecil. Sendawa yang Gema keluarkan jelas-jelas menunjukkan bukti bahwa lelaki itu masuk angina.