Usai makan siang, di hari Jumat, Gema izin untuk tidak kembali ke kantor. Meninggalkan Lara dengan pekerjaan yang sudah longgar dan membuat perempuan itu leyeh-leyeh. Merdeka sekali rasanya sampai Alara gegulingan di sofa yang biasa Gema gunakan untuk menerima tamunya.
Oke, skip soal Alara Senja yang menikmati waktunya. Fokus ke Gema yang sedang berdegup kencang detak jantungnya. Dalam hitungan menit, Gema tarik napas dan di embuskan dengan sangat pelan. Terus begitu sampai berulang-ulang. Sesekali matanya akan melihat spion tengah guna meyakinkan penampilannya jika wajahnya tidak norak-norak amat atau pun kucel. Ini siang hari, harap maklum.
“Perasaan dulu mau ngelamar mantan istri nggak gini amat sensasinya?” Gumam Gema yang di jawab suara AC dalam mobilnya. “Gusti.” Sekali lagi berteriak pelan dan mesin mobilnya Gema matikan. Sudah sampai di tempat tujuan.
Rumah tujuan yang menjadi sasarannya. Sudah pernah Bahtiar Gema sambangi rumah sederhana ini. Ini ketiga kalinya dan rasanya masih sama. Jantungnya tidak mau slow malah menjadi-jadi. Saat pikirannya berkecamuk, deritan gerbang yang terbuka melirikkan ekor mata Gema sepenuhnya.
Seorang lelaki muda—seumuran dengan Lara—keluar dari sana. Wajahnya ganteng, tiba-tiba Gema kalah saing. Ini loh dirinya duda, 33 tahun. Merasa minder dengan ingusan berumur 26 tahun. Asli nggak kaleng-kaleng. Gema saja bingung mengartikan perasaannya yang kelimpungan.
“Makasih nak Yan.”
Samar-samar Gema mencuri dengar suara ibu Lara yang mengucapkan terima kasih di lapisi senyum tipis di wajah ayunya. Oh, sekarang Gema tahu dari mana asal kecantikan wajah Alara yang nampak awet muda dan terlihat tidak seperti umur yang sebenarnya.
“Gue kenapa, sih?” Misuhnya kesal sendiri.
Belum mengizinkan lelaki seumuran Alara hengkang dari sana, Gema bergegas membuka pintu mobilnya. Menarik perhatian dua kepala beda jenis kelamin dan di sambut dengan satu wajah penuh kebingungan sedang satunya lagi memancarkan binar yang tak biasa.
Jayanti, ibu Alara menangkupkan kedua tangannya. Mengusap dadanya dengan lembut seolah mengucap syukur.
“Ibu pikir nak Gema lupa.” Gema gelengkan kepalanya dan menyalami tangan Jayanti. Mengundang ekspresi penuh tanya lelaki di sampingnya. “Ya Allah lupa. Ini Iyan, teman Lara. Iyan, ini Gema, calon suami Lara.”
“Calon?” Iyan balas uluran tangan Gema yang entah sejak kapan sudah tersodor di hadapannya. Dalam benak Iyan ‘not bad’ pilihan Lara oke juga. “Tapi kita pernah pacarana.” Iyan meralat perkataan Jayanti dengan wajah penuh ketidakterimaan. “Lumayan lama.”
“Tapi sekarang mantan?” Gema juga tak mau kalah. Dengan senyumnya yang ringan, Gema tatapi wajah Iyan lekat-lekat. Seperti tidak asing dan pernah menemuinya. Tapi di mana?
“Yuk, yuk masuk. Iyan kalau mau ikut masuk juga boleh. Gema mau ngelamar Lara. Besok mereka pulang.”
Hati, kuatlah. Kira-kira begitu yang meraung di kepala Iyan. Dan gelengan Iyan sudah sangat tepat sebagai jawaban untuk jangan ikut serta.
Nyatanya, setelah Gema pelajari lebih dalam tentang sebuah hubungan, cinta saja tidak cukup untuk membina sebuah hubungan. Lamanya pacaran tidak bisa dijadikan patokan. Karena kunci dalam menjalin sebuah hubungan harus ada saling; saling cinta, saling sayang, saling setia, saling jujur, saling percaya, saling memahami.
Dan itu tidak Gema dapatkan di hubungannya yang dulu dengan sang mantan istri. Mereka hanya saling cinta dan saling sayang. Lebih kepada membutuhkan untuk bisa mendapatkan pelepasan kepuasan. Sisanya… hambar. Tidak ada kepercayaan yang di tanamkan. Tidak adanya sebuah pemahaman akan kesibukan masing-masing.
Jadi jelas, hubungan semacam itu takkan bisa di pertahankan. Bekerja sama dalam membangun cinta terjalin apabila keduanya bisa menjalankan rasa ‘saling’ dengan imbang. Wajib dua, bukan hanya satu.
“Kenapa bisa cinta sama Lara?”
Pertanyaan dari ayah Alara sungguh menelakkan kelu di lidah Gema. Hingga detik ini, cinta itu entah ada atau tidak, Gema lebih suka mengakui rasa nyamannya. Bersama Alara, Gema temukan sisi lain di jati dirinya yang belum pernah terjamah bahkan oleh si mantan istri. Bersama Alara, Gema ketahui arti kebersamaan tanpa ingin ada pengakhiran yang tak bisa di jabarkan lewat kata-kata. Bersama Alara, semuanya terasa sangat benar meski pengawalan keduanya jelas salah di mata khalayak.
“Lara itu beda. Lain daripada yang lain. Unik dan bisa bikin suasana tegang menjadi kendur dengan caranya. Jadi, saya memilih kata bergantung ketimbang cinta. Nantinya, cinta akan datang dengan sendirinya. Lewat sebuah kebiasaan. Dan saya usahakan untuk terus bersama.”
Penjelasan Gema tidak sepenuhnya buruk. Wiratmo menganggukkan kepalanya setuju. Seperti pria paruh baya itu juga demikian dalam menyikapi perkara cinta.
“Kadang nak, yang kamu lihat baik memang nggak semuanya nampak baik. Yang kamu kira jahat juga belum tentu demikian. Nanti, akan ada waktu yang hadir memberi kejelasan. Semesta ikut bicara.”
Sedikit banyaknya Gema tahu, setiap orang tua punya cara tersendiri untuk khawatir kala putrinya di minta oleh seorang lelaki. Yang akan di boyong menjauh dari keluarganya dan di lepas dari tanggung jawab kedua orang tuanya. Gema sadar, ini risiko yang harus dirinya lalui. Tapi memilih Lara juga bukan sesuatu yang buruk untuk di sesali. Perempuan itu harus segera di selamatkan sebelum di miliki orang lain.
“Saya suka nggak rela kalau Lara di lirik cowok lain. Jadi, ini pasti bikin bapak dan ibu kaget.”
Baik Jayanti maupun Wiratmo tertawa. Jiwa muda Gema harus Wiratmo acungi jempol. Duda pun bisa sebucin ini—pikirnya begitu.
“Namanya juga hidup. Kadang di bawah, kadang di atas. Sama kayak kamu menjalin sebuah hubungan. Dilukai, dikhianati, dikecewakan dan lebih parahnya malah ditinggalkan. Itu sudah biasa. Dicampakkan oleh satu orang bukan berarti semua orang akan berbuat yang demikian juga. Sudah bapak katakan tadi, yang kelihatannya baik nggak mungkin sepenuhnya lurus baik. Yang baik pun menyimpan sejuta racun kejahatan. Sebaliknya yang jahat. Hitam nggak akan terus-terusan hitam. Ada masanya putih menyambangi meski harus menjadi abu-abu dulu.”
Masuk. Gema setuju. Semakin cerah saja otaknya. Pikirannya terbuka. Tua pun bukan jaminan karena hanya umurnya saja yang bertambah. Sedang kedewasaan seseorang pasti memiliki porsi yang berbeda.
Wiratmo masuk dalam kategori yang menyenangkan. Filosofi makna dalam kehidupannya banyak. Penggambaran mengenai cinta juga tidak tanggung-tanggung.
“Orang baik, jodohnya yang baik pula.” Imbuh Jayanti.
Ibu Lara itu menerawangkan tatapannya. Tidak kosong juga tidak penuh binar. Lebih kepada syukur yang tidak ada habisnya.
“Lara sulung kesayangan Ibu. Tapi belum pernah Ibu katakan yang sejujurnya. Dia terlalu kuat dan mandiri. Sampai nggak bisa di sentuh hatinya. Sampai keras hatinya, keras pendiriannya. Dan Ibu lumayan nyesal nggak bisa menggapai hatinya. Kita jauh dan punya halangan yang nggak bisa di rubuhkan.”
Begitulah rasa sakit. Begitulah kecewa yang sudah menggerogoti.
***
Nah, sekarang mau punya alasan, mengelak misalnya, juga percuma.
Gema sudah memegang—ibaratnya kepala Alara Senja—untuk jangan ke mana-mana. Maka perempuan itu hanya bisa berdiam diri tanpa melayangkan protes. Aksinya saja sudah di katakan percuma. Jadi wajar saja nggak akan ada dampak baik buat ke depannya.
Karena sebal dan kesal terhadap kewenangan yang Gema miliki dan itu sangat semena-mena. Lara jadi curhat ke buku diarynya. Tulisannya begini:
‘Terima kasih untuk segala kerumitan hidup. Yang sudah mau menjadi pendampingnya, menemani setiap cerita absurd di dalamnya, menjadi teman tumbuh di mana tertuang makna dari setiap kehidupan, sahabat untuk berproses, walaupun tidak mudah langkahnya. Dan mengingat ada ‘pengiring’, hanya percaya yang bisa di pegang dalam melewati semua ini.’
“Tambahin dong, Ra.” Lara tutup cepat-cepat bukunya. “Aku nggak mau dengan yang lain. Cukup dengan kamu maksudnya Abang ya, Ra—” Maksa woi! “Dengan seluruh kasih sayangmu. Gitu baru keren, Yang.”
Oke endasmu!
Lagian sejak kapan manusia ini nongol? Mirip jailangkung; datang tak diundang, pulang ya pulang sendiri lah.
“Semuanya sudah beres, Ra.” Perkataan Gema menghentikan tungkai Lara yang hendak masuk ke kamar keduanya. “Kamu tenang saja. Ini nggak akan lama.”
Ada rahasia yang bahkan Gema enggan berbagi kepada Lara. Ini tentang perempuan itu yang telah membuat hatinya kocar-kacir. Maka menyimpan segala sesuatunya sendiri adalah jalan terbaik untuk kelancaran di hari sakralnya nanti.
“Abang aneh. Aku bukan tipe cewek yang bakal narik kesempatan begitu aku sudah ngasih. Sekalinya Abang mutusin buat masuk, Abang nggak bakal nemuin pintu buat ke luar. Aku jamin itu.”
Ini … ancaman berbau keromantisan, ya?