Hening membentang diantara keduanya. Malam bernuansa dingin itu semakin mencekam, terapi tidak dengan d**a yang bergemuruh. Ada kebencian yang terselip disana, mengakar kuat hingga membuat jantung berdebar-debar seperti meledak. Emosi dari penghinaan yang terucap langsung dari bibir Alfredo sungguh berhasil membangkitkan amarah Salsa. Desakan benci bercampur sakit hati yang kian beruntung membuat pandangan Salsa mengabur oleh kristal bening yang bersiap untuk bermuara, mengalir di pipi. Salsa menggertakkan giginya, mengangkat tangannya untuk kemudiaan menampar pipi Alfredo sekuat tenaga. Dadanya naik turun, rasa panas itu membuat telapak tangannya berdenyut namun sayang tidak sama sekali mampu untuk mengurangi rasa sakit hatinya. "Tuan Alfredo yang terhormat, kau harus paham dengan satu

