"Hallo, Mom! I miss you so much," ujar Arsen.
"Kamu ini ada-ada aja, Arsen. Padahal dua hari yang lalu kamu juga baru dari sini," ucap Karina. "Kamu bawa siapa, Arsen?"
"Kenalin Mom, ini Ashley. Pacar Arsen," ujarnya sambil merangkul bahu Ashley.
"Anak mom sudah besar ya ternyata, udah pacaran lagi. Udah pacaran berapa lama sama Arsen, sayang?"
"Baru-baru aja, belum lama kok, Tan," jawab Ashley.
"Aku gak tahu kamu sepemalu itu sampai gak mengakui kalau kita udah pacaran lama, Hon," ujar Arsen.
"Siapa yang datang, Hon?" tanya seseorang yang tiba-tiba memeluk Karina.
"Arsen sama pacarnya," jawab Karina.
"Oh, kamu gitu ya, Son. Pacaran gak cerita-cerita ke Daddy."
"Maaf, Dad. Setiap aku ajak Ashley ke sini gak mau-mau, katanya takut."
"Haha, santai aja, Son. Kamu serius amat sih!" ucap Jeremy sambil menepuk bahu Arsen. "Ayo masuk dulu, kita sambung di dalam."
***
"Ashley sudah kerja?" tanya Karina.
"Hehe ... belum, Tan," jawab Ashley.
"Dia masih kuliah, Mom. Baru juga semester 4," ucap Arsen.
"Kuliah di mana?"
"Di Lexio university, Tan."
"Ah ... jangan-jangan kamu mau ngajar di sana, karena ada Ashley ya," goda Jeremy.
"Tidak, aku aja baru ngajar Ashley semester ini," ujar Arsen.
"Oo, lalu gimana pertemuan pertama kalian?" goda Jeremy.
"Di taman." "Di kampus."
"Hayo, yang mana yang benar?"
"Di taman." "Di kampus." Jawab keduanya sambil plotot-plotan.
"Terus aja begitu kalian berdua," ucap Karina.
"Di taman kampus, Mom," ujar Arsen final.
"Ayo, makan siang dulu," ucap Karina.
"Mommy masak apa?" tanya Arsen.
"Ayam kecap," jawab Karina.
"That's great!" ujar Arsen.
"Arsen suka makan ayam kecap, Ash. Sering-sering aja kamu masakin Arsen ayam kecap biar tambah cinta sama kamu," goda Jeremy.
"Daddd!" ujar Arsen.
"Kalau aku dan Ashley mau menikah, bagaimana menurut kalian?"
"Kapan?" tanya Karina excited.
"Kami juga masih belum tau, Mom. Hanya saja aku pikir, aku akan mulai merencanakannya," jawab Arsen.
"Mom setuju," ucap Karina.
"Dad juga setuju," ucap Jeremy.
"Mereka baik, ‘kan, Hon? Kamunya aja yang terlalu pesimis," goda Arsen.
“Memangnya kenapa, Son?” tanya Jeremy.
“Ashley pas aku ajak kemari takut, Dad,” jawab Arsen yang mengabaikan plototan Ashley,
"Arsennn!"
"Hayo kamu, Son. Ashleynya ngambek tuh!" ujar Karina.
"Mana ada, Mom. Pacarku kan gak ngambekkan."
“Siapa bilang? Aku ngambek plus marah sama kamu!”
“Ada gitu ya, orang marah plus ngambek bilang-bilang?” ujar Arsen sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Ck … ck … Arsen ini memang usil, Ash. Mom pinjam Arsennya sebentar ya, Ash. Kamu sudah selesai makan, 'kan, Ar? Kamu ikut mommy sebentar."
***
“Kenapa, Mom?”
"Ini, kamu kasihkan Ashley ya. Ini gelang turun-temurun di keluarga mom," ujar Karina sambil menyerahkan sebuah kotak berisi gelang.
"Iya, Mom," ucap Arsen.
"Ya udah, ayo kita kembali," ujar Karina.
***
"Sweetie, ayo aku antarkan kamu pulang," ucap Arsen.
"Om, tante saya pulang duluan," pamit Ashley.
"Iya sayang, hati-hati di jalan ya," ucap Karina.
"Bye, Mom! Bye, Dad!" pamit Arsen.
"Hati-hati nyetirnya, Ar!" peringat Jeremy.
"Siap, Dad!"
***
"Pak, sampai di sini aja."
"Kenapa?"
"Hmmm ... saya hanya takut papa dan mama saya akan marah."
"Kenapa papa dan mamamu akan marah?"
"Karena saya gak pernah bawa teman laki-laki selain Leo dan Vino, saya takut papa dan mama akan berpikir macam-macam."
"It's okay. Kamu kan memang calon istri saya," ujar Arsen.
"Ta-"
"Saya juga perlu bertemu dengan papa dan mama kamu," ucap Arsen.
“Buat apa?”
"Yang ada papa kamu akan kaget, kalau tiba-tiba anaknya bilang dia mau menikah, tanpa pernah mengenalkan pacarnya."
"Memangnya sekarang kita pacaran? Kan aku bilang, aku masih piker-pikir dulu tawaran dari Bapak," bantah Ashley.
"Tentu saja, mulai hari ini kamu adalah pacar saya."
"O."
"O doang?”
"Lalu saya harus apa? Teriak-teriak kayak orang gila atau nari salsa di pinggir jalan gitu? Lagian saya juga gak setuju jadi pacar Bapak," sinis Ashley.
"Tapi aku mau kamu jadi pacar aku!”
"Terserah Bapak deh, saya lelah kalau ngomong sama Bapak!"
"Langsung tekan klason aja," ujar Ashley saat sudah di depan rumahnya lalu menekan klason.
Tin ... tin ... tin ....
"Astaga, Sweetie! Sabar dong," ucap Arsen.
"Hehe ... aku kebiasaan," ujar Ashley.
"Malam, Pak Ali!" sapa Ashley.
"Non sama siapa?"
"Orang yang maksa jadi pacar saya, Pak,” jawab Ashley yang berhasil mendapatkan hadiah plototan dari Arsen.
“Non, Ashley kalau punya pacar malu-malu ya. Sampai gak ngakui kalau nerimanya karena suka.”
“Ish … Pak Ali ini beneran, kok belain dia sih!”
“Non, pacarnya sudah ganteng, romantis, mapan pula, masa gak diakui,” ujar Pak Ali.
“Saya masuk dulu ya, Pak. Tambah pusing saya menanggapinya,” ujar Ashley
“Silahkan, Non."
“Romantis darimana? Orang jadiin pacar aja gak ada nembaknya!” gerutu Ashley.
***
"Malam, Pa! Malam, Ma! Malam, Little Sis!" sapa Ashley.
"Tumben baru pulang, Ash?" tanya Airine.
"Ya gitu deh, Ma. Ashley ke atas dulu ya," ujar Ashley.
“Eitz … tunggu dulu. Ya gitu deh itu gimana, Ash? Jawabanmu tidak menjawab pertanyaan Mama,” tegur Airine.
“Habis main ke rumah temen, diajak makan malam dulu di sana, baru pulang,” ucap Ashley.
“Lain kali kalau kamu main di rumah temen, kabari orang rumah dulu, Ash. Papa sama Mama kuatir kamu gak kasih kabar, lalu gak bisa di hubungi,” ujar Airine.
“Iya, Ma. Maafin, Ashley, karena lupa kasih kabar. Lain kali pasti gak akan terulang lagi.”
“Ya sudah, gak papa. Tapi ingat, lain kali jangan sampai terulang lagi.”
“Siap, ibu negara!” ujar Ashley sambil membuat gaya seolah-olah memberi hormat kepada komandan di militer.
"Nanti aja dulu, Ash. Duduk sini dulu deh, kita ngobrol-ngobrol dulu," ucap Elliot.
"Sebentar, Pa. Gak enak ditunggu'i sama temen aku di ruang tamu," ujar Ashley.
"Siapa? Vina? Kenapa gak disuruh masuk aja?" tanya Airine.
"Bukan, Ma. Temen baru aku, biarin ajalah, dia gak lama kok. Bentar lagi juga pulang," ucap Ashley.
“Itu gak sopan, Ashley. Masa tamu dianggurin sendirian di luar,” tegur Airine.
“Gak di luar kok, di ruang tamu.”
“Coba buat apa temenmu bertamu, kalau cuma untuk kamu anggurin di ruang tamu?” tanya Airine.
“Dia kan hanya mau pinjam catatan kuliahku, ya jadi kusuruh tunggu di ruang tamu. Sementara aku, mau naik ambil catatan kuliahku.”
“Ya sudah deh, kamu segeralah ambil buku catatan kuliahmu. Kasihan temenmu nanti nunggunya semakin lama,” pasrah Airine.
“Ajak temen Ashley masuk, Lyona!” perintah Airine setelah Ashley naik ke atas.
"Dasar, Kak Ash!" ujar Lyona.
***
"Argh!" teriak seseorang dari ruang tamu.
“Mataku gak salah lihat nih? Ada malaikat turun di rumah!” ujar Ashley sambil mengucek-ucek matanya seolah-olah tidak percaya apa yang dilihatnya.
"Ada apa?" "Kenapa?" "Ngapain kamu teriak?"