Prinsipku, aku harus terima semua kekurangan pasanganku. Tapi aku takkan pernah terima keburukkannya, karena aku akan merubahnya menjadi lebih baik.
_Ashley_
***
"Temannya Kak Ash ganteng banget!" ujar Lyona.
"Lyona! Kamu ini buat kakak jantungan tahu gak? Hampir aja aku jatuh dari tangga gara-gara dengar suara teriakkanmu!" gerutu Ashley.
"Hehe ... maaf, Kak. Habisnya Kak Ash gak bilang, kalau teman yang kakak bawa itu ganteng banget," ucap Lyona.
"Minta maaf model apa itu? Masa minta maaf sambil menghakimi kayak gitu?"
"Sabar, Hon," ujar Arsen sambil memeluk pundak Ashley.
"Hon? Dia pacar kamu ya, Kak? Asik aku punya calon kakak ipar cogan!"
"Dia pacar kamu, Ashley?" tanya Elliot.
"Hehe ... iya," jawab Ashley.
"Ashley kamu bawa pacar kamu ke ruang keluarga, ganti bajunya nanti aja!" perintah Elliot dengan wajah datarnya.
***
"Kalian bicara baik-baik ya, kamu juga El jangan selalu ka-"
"Tenang aja sweetie, kamu bisa pergi buatkan minum untuk kami."
"Ya sudah aku tinggal dulu ambil minum dan roti," ucap Airine.
"Kakak namanya siapa?"
"Arsen."
"Kakak satu tempat ku-"
"Lyona kamu diam dulu!" perintah Elliot.
"Yes, Pa."
"Modal apa kamu berani mengajak anak saya pacaran? Berani menginjakkan kaki di rumah saya juga? Sudah punya mobil? Sudah punya rumah? Deposito berapa? Atau jangan-jangan malah belum punya kerjaan?" tanya Elliot.
"Papa, pertanyaan macan apa itu? Emangnya aku perempuan mantre apa?" gerutu Ashley.
"It's okey, Sweetie. Kan setiap orangtua pasti selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya," ujar Arsen. "Saya sudah kerja, Om."
"Apa pekerjaanmu?"
"Saya dosen di tempat Ashley kuliah, Om."
'Matilah aku!' batin Ashley.
"Dimana?" tanya Elliot.
"Maksudnya?" tanya Arsen bingung.
"Kak Ashley, kan kuliah di dua tempat. Kak Arsen ngajar yang di mana?"
“Pacar apa kamu! Gitu aja gak tau! Jangan-jangan kamu gak serius dengan anak saya!”
"Di Lexio University," jawab Arsen.
"Hmm ... berani juga kamu, hanya seorang dosen tapi pacaran dengan anak saya? Kamu tau siapa saya?"
"Saya rasa tidak ada yang salah dengan pekerjaan saya."
"Memang tidak, tapi saya gak yakin kamu bisa memenuhi kebutuhan anak saya dengan hanya mengandalkan gajimu sebagai dosen!" sinis Elliot.
"Memang gaji saya sebagai dosen tidak seberapa besar, tapi saya bisa memastikan bahwa seseorang yang saya cintai tidak akan sampai kekurangan sesuatu," tegas Arsen.
"Saya suka optimismu, tapi saya tidak butuh optimismu," ucap Elliot, “Anak saya makannya pakai uang, bukan pakai cinta sama sikap optimismu yang gak ada buktinya itu.”
“Om bisa pegang janji saya.”
"Baik saya pegang janjimu,” ucap Elliot, “Gimana keadaan Papa kamu?”
“Om kenal papaku?”
“Iya, kamu anaknya Jeremy.”
"Kok om bisa tau?"
"Kita rekan bisnis," jawab Elliot.
"Berarti om juga tahu kalau saya hanya anak ti-"
"Iya, saya tahu semuanya. Masa kamu lupa? Kita sudah pernah bertemu saat pernikahan Jeremy dan Karina," ucap Elliot.
"Hehe ... lupa, Om."
"Karena kamu ngelupain saya, maka saya mencoret kamu dari daftar calon menantu saya," ucap Elliot sambil menepuk bahu Arsen.
“Janganlah, Om. Saya sudah sampai berkeringat gini untuk menghadapi, Om.”
"Maaf lama ya, harus motong rotinya dulu," ujar Airine sambil meletakkan beberapa cangkir minuman dan sepiring roti.
"Gak papa, Tan."
"Habis ngobrol apa aja kalian? Kamu bakalan kemarin lagi, kan, Arsen?" tanya Airine.
"Cuma ngobrol-ngobrol biasa, Tan. Tentu aja, kalau aku gak kemari lagi nanti gimana aku ngelamar Ashley-nya," ujar Arsen.
"Haha ... Kak Arsen ternyata sudah keburu menikah," goda Lyona.
"Gaklah, saya kan hanya berbicara realita," ucap Arsen.
"Kak Arsen kaku banget sih, jangan pakai saya, pakai aku-kamu, Kak."
"Namanya juga Es Balok Kutub Selatan," ujar Ashley.
"Hush, Ashley! Itu gak sopan," ucap Airine.
"Hehe ... peace, Mom!" ucap Ashley.
"Gak papa kok, Tan. Mungkin itu panggil sayang Ashley untuk sa-aku," ucap Arsen.
"Haha ... kamu bisa aja, Arsen!" ucap Elliot.
"Kamu gak pulang?" tanya Ashley.
"Ashley!" ucap Elliot dan Airine bersamaan.
"Hehe ... peace, maksud Ashley kan baik. Arsen pulang kerja langsung pergi-pergi dengan Ashley, Arsen kan pasti capek."
"Kalau ada kamu, aku gak mengenal kata capek," ujar Arsen.
"Uuu ... so sweet banget deh, Kak Arsen!" pekik Lyona.
"Lyona, jangan teriak-teriak! Kamu itu perempuan," peringat Airine.
"Peace, Ma."
"Om, tante aku pinjam Ashley-nya sebentar boleh ya?" tanya Arsen.
"Boleh, tapi di rumah aja. Jangan pergi keluar, sudah malam. Dan jangan di kamar, kalau butuh privasi di taman belakang saja gak papa," ucap Elliot.
"Baik, Om."
***
"Kamu kok gak bilang ke aku, kalau kamu kuliah di dua tempat?"
"Kamu gak pernah tanya."
"Kenapa kamu gak inisiatof kasih tau aku gitu."
"Kita kan baru dekat hari ini, gimana sih?"
"Oh iya ya, kamu kuliah dimana lagi?"
"Ososeru University."
"Semester berapa?"
"Semester akhir."
"Lalu setelah lulus dari sana mau kerja atau hanya kuliah aja di Lexio?"
"Kerjalah, ya kali hanya kuliah."
"Sudah ada rencana mau kerja dimana?"
"Sudah, aku ingin coba Dellio Corp."
"Kenapa gak di Lexio Corp aja? Kan kamu mahasiswinya Lexio University pasti maulah mereka menerima kamu," tanya Arsen.
"Hehe ... suka aja, toh nanti setelah aku lulus dari Lexio University juga kerja di Lexio Corp. Jadinya aku ingin coba di tempat lain dulu," ujar Ashley.
"Kamu memangnya ingin kerja bagian apa?" tanya Arsen.
"Desain ruangan, kan seru banget tuh!" jawab Ashley.
"Berarti kamu suka menggambar?"
"Lumayan, hehe ...."
"Mantan kamu ada berapa?" tanya Arsen.
"Gak punya, hehe ...."
"Gak punya?"
"Iya, hehe .... Sibuk, belajar dan kerja. Gak punya waktu buat pacaran," jawab Ashley dengan cengiran polosnya.
"Astaga, aku gak menyangka. Seharusnya anak baik-baik kayak kamu gak dapat orang kayak aku!" ujar Arsen.
"Memangnya kenapa?" tanya Ashley.
"Aku suka keluar masuk club malam," jawab Arsen.
"Cuma keluar masuk, 'kan?"
"Iya, karena menjaga sahabatku. Entah, kenapa dia suka banget minum," jawab Arsen.
"It's okay, asalkan jangan kamunya aja yang minum. Karena aku pasti gak akan bisa menerima hal itu," ujar Ashley. "Prinsipku, aku harus terima semua kekurangan pasanganku. Tapi aku takkan pernah terima keburukkannya, karena aku akan merubahlahnya menjadi lebih baik."
"Kamu tenang aja, Sweetie. Kalau masalah minum aku jarang, hanya sesekali, saat pesta perusahaan. Tapi gak sampai mabuk," ucap Arsen.
"Ah ... kalau itu sih aku maklum, aku sendiri kalau di pesta perusahaan juga minum. Kan memang minumannya rata-rata mengandung alkohol," ucap Ashley.
"Hmm ... ya sudah, aku pamit pulang dulu ya. Gak enak, sudah malam," ujar Arsen sambil beranjak berdiri.
"Iya," ucap Ashley.
***
"Pa, Ma, Kak Arsen mau pulang," ucap Ashley mengahlikan kedua orangtuanya yang tengah menonton tv.
"Om, Tante, aku pamit pulang," ucap Arsen.
"Iya, jangan lupa ke sini lagi," ujar Airine.
"Gak ke sini lagi juga gak papa, malah bagus. Jadi gak akan ada yang mengambil My Princess dalam waktu dekat ini," ujar Elliot.
"Papa!" "Elliot!"
"Hehe ... peace, My wife!"
"Omongan papanya Ashley jangan dimasukkin ke hati ya, Arsen. Biasa, papanya Ashley ini terlalu possesive," ujar Airine.
"Iya, Tan. Aku mahklum kok," ucap Arsen.