7

1066 Kata
"Ashley bangun!" "5 menit lagi, Ma." "5 menitmu itu sudah dari 50 menit yang lalu! Sekarang sudah jam 7 kurang 10 menit!" omel Airine. "Beneran deh, Ma. Lima menit lagi," ujar Ashley. "Bangun sekarang juga, Stephanie Ashley Amortta!" Jeduk "Makanya disuruh bangun, langsung bangun!" "Aku kaget tahu, Ma. Mama tiba-tiba teriak kayak gitu," ujar Ashley. "Iya, sekarang kamu segera mandi, Ash. Sudah jam 7 kurang 10 menit!" "Oh My God! Kenapa setiap Hari Selasa aku sial banget sih?! Mana jam pertama jamnya Pak Es Balok Kutub Selatan!" gerutu Ashley sambil mengambil asal pakaiannya di lemari. *** "Pa, hari ini aku bawa sepeda motor ninjaku," ujar Ashley setelah menenguk s**u dan langsung menyambar rotinya. Lalu langsung berlari sebelum Elliot menegurnya. "Anak itu benar-benar, ck ck!" decak Elliot. "Haha ... yang sabar ya, El! Berasa punya jiplakan," ujar Airine yang juga melihat kelakuaan anak tertuanya. "Perasaan kita gak salah didik deh, lihat aja Lyona aja displin waktu!" ujar Elliot. "Wajarlah, El. Setiap orangkan punya kepribadian yang berbeda," ujar Airine. *** "Astaga, Ash! Ini beneran lo? Gila amat, lo gak mandi ya?" ejek Leo. "Sialan lo, Cleo! Gue ini naik bluez –nama montor ninja Ashlay-- makanya berantakan," ujar Ashley. "Wuih ... kesambet apa lo sampai naik bluez setelah sekian lama?" "Kesambet setan telat oy, lihatlah semenit lagi tuh dosen bakalan masuk," ujar Ashley sambil menunjukkan jam di tangannya. "Haha ...." *** "Selamat pagi!" "Selamat pagi, Pak Arsen!" "Baiklah saya akan mengabsen kalian satu-persatu," ujar Arsen. "Angelin Wijaya!" "Hadir, Pak!" ... "Stephanie Ashley Armortta!" "Hadir, Pak!" "Cat rambut lagi, huh? Kemarin ungu, sekarang merah?" "Ini bukan cat rambut kali, Pak. Ini tuh ombre," protes Ashley. "Halah, Pak. Cabe kayak dia mah wajar aja!" ujar seseorang lalu tertawa. "Dasar cleo air galonan!" balas Ashley. "Dasar cabe rawit!" balas Leo lagi. "Biarin, wlek .... cabe rawitkan harganya mahal," ujar Ashley. "Cukup, kalian berdua ini!" geram Arsen. "Sudahah, My Baby Lovely. Ngapain juga ngurusin mereka berdua, kayak gak ada kerjaan lain aja," ujar seseorang. "Tolong jaga perkata anda, saudari Steffin Harissen!" tegas Arsen. "Ya ampun, Baby kamu berlebihan banget sih?!" ujar Steffin. "Silahkan anda keluar dari ruang kelas saya!" tegas Arsen ke Ashley dan Leo. "Ta-" "Apakah perintah saya kurang jelas, Ibu?" ujar Arsen yang membuat sekelas tertawa. "Baik, nanti setelah kelas saya selesai untuk Saudari Ashley, saudari juga bisa menemui saya dikarenakan rambut saudari sangat menganggu saya dalam mengajar," ujar Arsen. *** "Sialan tuh, Es Balok Kutub Selatan!" umpat Ashley setelah kelasnya buyar. "Yang sabar, ya my bestie. Haha ...," ujar Leo sambil mengacak-acak rambut Ashley. "Menyebalkan lo!" ujar Ashley. "Sudah sana, segera temui, Es Balok Kutub Selatan," ujar Leo. *** Tok tok tok "Masuk!" "Hargai yang jomblo, please!" "Lo kalau sirik bilang aja deh, Ash!" ujar Steffin. "Aduh gak guna banget deh sirik sama lo, gue itu ke sini mau ketemu Pak Arsen untuk ngurus masalah rambut gue, bukan ngelihat kemesraan lo dan Pak Arsen!" ketus Ashley. "Maaf, ini gak seperti yang anda lihat. Dia tiba-tiba mencium saya," jelas Arsen. "Memangnya gue harus tahu gitu?" "Tentu saja, karena apabila anda tidak mengetahui kebenarannya, bisa saja anda menyebarkan hal ini ke mahasiswa yang lainnya," jawab Arsen. "Ya sudahlah, terserah Bapak saja. Tapi saya ke sini mau segera mengurus masalah rambut saya yang katanya menganggu Pak Arsen dalam mengajar. Tolong diurusin duluan masalah saya dan tunda dulu mesra-mesraan Bapak dengan pacar, ups … salah, dengan selingkuhan Bapak. Karena saya ada jadwal bimbingan skripsi," ujar Ashley. "Silahkan Anda keluar, Ibu Steffin!" ujar Arsen. "Saya rasa, saya belum setua itu untuk dipanggil ibu, Pak," protes Steffin yang membuat Ashley menahan tawanya. "Tapi saya merasa itu pantas!” "Bahkan saya dengan Ashley masih tuaan Ashley," gerutu Steffin. "Silahkan anda keluar secara baik-baik, Ibu Steffi!" tegas Arsen yang mau tak mau membuat Steffin keluar dari ruangan Arsen dan langsung membuat tawa yang ditahan Ashley pecah seketika. “Dasar cabe, lihat aja aku akan balas!” ujar Steffin ke arah Ashley lalu membanting pintu saat keluar. "Sudah tertawanya, hmm?" ujar Arsen. "Hehe ... iya, jadi apa hukumanku? Gece, aku harus segera nemui dosen pembimbing skripsiku," ujar Ashley. "Temeni aku makan siang," ucap Arsen. "Nanti aku telat gimana? Besok aja ya, please ...." "Tidak ada penolakkan, Ash!" "Dosen pembimbingku itu killer, Kak. Nanti kalau sidangku ditunda gimana?" "Aku yang akan menemuinya!" ujar Arsen. "Eh ... jangan, aku akan telepon dosen pembimbingku dulu." "Hmmm ...." --- "Hallo, Pak. Ini saya Ashley." ... "Begini, Pak. Kalau hari ini bimbingannya gak di kampus bisakah?" ... "Di cafe biasanya aja, Pak." ... "Terima kasih banyak, Pak." --- "Bimbingan di luar kampus, huh?" "Hehe ... iya, kan lebih hemat waktu dan aku gak perlu takut terlambat. Jadi setelah aku makan siang dengan Kak Arsen aku akan langsung bimbingan skripsi," jelas Ashley. "Memangnya sejak kapan dosen mau memberi bimbingan di luar kampus?" "Aku asistennya, Kak. Hehe ... jadi ya gitu, aku beberapa kali bimbingan di cafe. Selain bimbingan biasanya aku juga sekalian periksa hasil ujian dan quiz mahasiswa," ucap Ashley. "O, biasanya berapa lama?" "Gak mesti, jadi nanti Kak Arsen tinggal aja setelah kita makan." "Aku akan tunggu kamu." "Eh ... gak usah, Kak. Aku bawa sepeda motor sendiri," ujar Ashley. "Aku akan tunggu kamu, kemudian nanti kita pulang bareng!" "Aku ba-" "Kamu naik sepeda motormu dan aku akan mengikuti kamu dari belakang dengan mobilku." "Oke, baiklah." *** "Selamat datang!" sambut seorang pelayan. "Meja berapa orang?" "Dua," jawab Arsen. "Mari, silahkan ikuti saya," ucap pelayan itu sambil berjalan mendahului Arsen dan Ashley. "Terima kasih," ucap Ashley setelah mereka duduk. "Sudah kewajiban saya, ini menunya. Silahkan dilihat-lihat terlebih dahulu," ucap sang pelayan sambil memberi mereka buku menu. "Ice cappucino, lagsana, dan air putih," ujar Arsen. "Kamu pesan apa, Sweetie?" "Aku pesan nasi goreng ektra pedas, ice cappucino, dan jus strawberry," ujar Ashley. "Baik, saya ulangi. 1 lagsana, 1 nasi goreng ektra pedas, 1 air putih, 2 ice cappucino, 1 jus strawberry. Ada tambahan lainnya?" "Tidak, sementara itu dulu," jawab Ashley. "Baik, saya ambil buku menunya, Pak, Bu," ucap sang pelayan. "Silahkan, mbak," ujar Ashley. "Dosen pembimbing kamu datang jam berapa?" tanya Arsen. "Jam 2, Kak," jawab Ashley. "Sejam lagi," ujar Arsen. "Iya, Kak." Tak lama makanan yang mereka tunggu pun telah disajikan, mereka makan sambil berbincang-bincang ringan. Menanyakan banyak hal seperti: hobby satu sama lain, makanan kesukaan satu sama lain, dan hal-hal lain yang berguna untuk saling mengenal satu sama lain. "Kamu gak kepedesan makan nasi goreng yang bau pedasnya menyengat kayak gitu?" tanya Arsen.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN