"Hehe ... lumayan kepedasan sih, tapi ya mau gimana lagi. Namanya juga suka," ucap Ashley.
"Aku melihatnya aja sudah ngeri, gak bayangin gimana dengan kamu yang memakannya," ujar Arsen.
"Coba dulu deh, Kak. Enak kok rasanya, dijamin ketagihan," ucap Ashley.
"Hehe ... bukannya gak mau coba, Ash. Tapi perutku gak kuat kalau harus makan makanan sepedas itu, kalau hanya pedas biasa masih bisa," ucap Arsen.
"Ah ... sayang sekali, padahal makanan pedas itu makanan paling enak sedunia," ujar Ashley.
"Ck ck, hati-hati usus buntu," ujar Arsen.
"Hehe ...."
"Kak, aku temui dosen pembimbingku dulu ya. Itu dia sudah datang," ucap Ashley sambil menunjuk seseorang yang baru saja mendapatkan tempat duduk.
"Oke, aku tunggu kamu di sini," ucap Ashley.
***
"Selamat siang, Pak!" sapa Ashley.
"Siang, Ash! Duduklah," ucapnya.
"Jadi mana skripsimu?" tanyanya.
"Ini, Pak," ujar Ashley sambil menyerahkan sebuah buku tebal yang dijilid.
"Permisi, mau pesan apa?" tanya seorang pelayan.
"Saya pesan nasi cap jay saja sama kopi pahit. Kamu, Ash?"
"Ah ... aku pesan air putih saja."
"Kamu gak makan, Ash? Jangan bilang kalau diet!"
"Haha ... Pak bisa aja, aku sudah makan."
"Oo, ya sudah itu saja, mbak," ujar Orland --dosen pembimbing skripsi Ashley--.
"Aku akan langsung mengecek skripsimu."
"Hmm ... skripsi sudah benar, kamu akan aku daftarkan mengikuti seminar. Kapan kamu ada waktu?"
"Minggu depan hari Senin aku tidak ada jadwal kuliah di Lexio, Pak."
"Baiklah, kamu akan aku masukkan ke seminar hari Senin minggu depan. Setelah itu kamu akan sidang seminggu setelahnya, apa kamu bisa?"
"Bisa, Pak."
"Bagus, kalau kamu lolos sidangnya, kamu akan ikut kelulusan bulan Maret nanti. Tapi apabila kamu gak lolos sidangnya, maka kamu dengan terpaksa harus membuat skripsi baru dan ikut jadwal kelulusan di bulan September," jelas Orland.
"Saya pasti lulus, Pak. Masa asisten dosen killer gak lulus, wkwk."
"Haha ... kamu bisa saja, tapi beneran kamu harus lolos sidang itu. Jangan malu-maluin aku loh," ujar Orland.
"Itu sudah pasti, Pak. Jadi Pak Orland siap-siap cari pengganti aku," ujar Ashley.
"Hah ... iya, aku bahkan tidak pernah berfikir akan mengganti asistenku. Harusnya kamu jangan lulus dulu, biarin aku gak perlu repot-repot cari pengganti."
"Itu mah maunya, Pak Orland. Kalau aku sih ogah, mana mau aku jadi mahasiswi abadi," ujar Ashley.
"Yah ... sedih aku," ujar Orland.
"Gak usah lebay, Pak!" ejek Ashley.
"Btw, aku sudah dapat kok penggantimu."
"Maaf, Pak. Saya terlambat, karena macet," ucap seseorang menginsterupsi pembicaraan Orland dan Ashley.
"Memangnya sejak kapan jalanan gak macet, Ibu? Hari gini jalanan juga pasti macet, semua orang pun tahu itu!" ejek Orland.
"Ma-ma-maaf, Pak. Saya sungguh gak bermaksud membuat Pak menunggu," ujar seseorang itu sambil mengenggam erat-erat tali tasnya.
"Huh ... ya sudahlah, kali ini saya maafkan anda. Duduklah!" ucap Orland.
"Siapa, Pak?" tanya Ashley.
"Ah ... dia penggantimu, mahasiswi semester 4. Yah ... gak sepintar kamu sih, tapi mau gimana lagi? Dia yang terpintar di antara mahasiswa saya yang belum lulus," ujar Orland.
"Jangan gitu, Pak. Kasihan tau, masih untung Pak bisa dapat asisten terpintar dari mahasiswa yang sekarang ada. Bayangin kalau Pak gak punya asisten atau lebih parah lagi, asisten Pak gak bisa apa-apa," ujar Ashley.
"Hai, aku Ashley. Mahasiswi semester akhir, kalau ada kesusahan hubungi aku aja. Nanti aku bantu, oh ya ... kalau kamu jadi asisten Pak Orland kan pasti bakalan gak betah. Betah-betahin aja ya, kan lumayan dapat uangnya," ujar Ashley sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ah ... ya sudah, Pak Orland dan-"
"Chika."
"Hmm ... Pak Orland dan Chika, aku pamit duluan, bye! Kalian yang akur ya sebagai dosen dan asisten, muehehe ...."
***
"Kayaknya cara berinteraksimu dan dosen pembimbing terlalu santai," ujar Arsen.
"Hehe ... itu karena aku juga merangkap sebagai mantan asistennya. Selain itu Kak Orland juga masih muda, aku cuma manggil dia pak untuk iseng aja," balas Ashley.
"Mantan asisten? Sejak kapan asisten jadi mantan? Adanya itu hanya mantan pacar."
“Kan aku sudah bilang aku gak pernah pacaran, lagian aku bisa santai karena dia juga adalah kakak sepupuku. Dan karena dia sudah menemukan penggantiku. Jadi aku hanyalah mantan asisten, hehe ...."
"Jadi gimana skripsimu?"
"Diterima, yey!"
"Kapan ikut seminar?"
"Senin depan," ucap Ashley.
"Lalu sidangnya?"
"Senin depannya lagi," jawab Ashley.
"Hmm ... nanti aku akan ajari kamu untuk sidangnya," ucap Arsen.
"Memangnya situ bisa?"
"Hmm ... menghina, gini-gini aku juga lulusan s2 arsitek," ujar Arsen.
“Sejak kapan Kak Arsen kuliah arsitek? Setauku kok Kak Arsen itu lulusan informatika.”
“Kamunya aja yang gak perhatian sama pacar, bahkan anak-anak satu kampus pasti tau kalau saya lulusan arsitek dan informatika. Dan sekarang saya sedang menempuh s3 informatika.”
"Hah? Berarti Kak Arsen sendiri juga masih kuliah?"
"Iya, aku lagi kuliah S3 teknik informatika. Kalau gak telat ya tahun depan sudah lulus," jawab Arsen.
"Aku bingung, Kak Arsen lulusannya Arsitek dan informatika. Lalu kenapa bisa ngajari akutansi, kan gak nyambung banget tuh," ujar Ashley.
"Kan akutansi yang kalian pelajari bukan akutansi manual, tapi akutansi komputer. Jadi wajar saja dong kalau aku yang mengajari, gini-gini saya juga pernah belajar akutansi," ucap Arsen.
“Oo, gak tanya sih.”
***
Drrtt drttt[SA1]
---
08567831009
Mom bilang, hari Sabtu nanti kita akan ke rumahmu untuk melamarmu dan sekalian tunangan. So ... dandan yang cantik ya, Sweetie.
Ini aku, Arsen. Jangan lupa simpan nomerku, Sweetie.
Me
Males
Eh ... salah emoticon, harusnya yang ini
Es Balok Kutub Selatan
Gak usah gengsilah, Sweetie. Aku juga cinta kamu kok
Me
Siapa juga yang gengsi
Es Balok Kutub Selatan
Sudah sana tidur, sudah malam. Jangan dibalas chatku Good night and sweet dream, Sweetie
---
"Huaaa!" teriak Ashley sambil loncat-loncat di atas kasur.
Bruk
"Ada apa, Princess?" "Kenapa, Ash?" "Ngapa kamu teriak-teriak, Kak?!"
"Hehe ... papa, aku lagi seneng banget!" ujar Ashley lalu memeluk papanya.
"Iya, seneng kenapa? Sampai teriak-teriak kayak gitu, kamu ini buat papa jantungan tahu gak?!" ujar Elliot.
"Pokoknya aku lagi happy banget deh, Pa," ujar Ashley lalu mencium pipi Elliot, kemudian berahli mencium pipi Airine, dan terakhir mencium pipi Lyona.
"Kak, kamu sudah gak waras ya? Ieuh … ngapain juga cium-cium pipiku," ujar Lyona sampai mengusap pipinya yang dicium Ashley.
"Hehe ... peace, aku tuh lagi bahagia banget."
"Bahagia kenapa sih, Ash? Kalau kamu gak cerita gimana kita ngertinya," ucap Airine.
"Jadi, nanti hari Minggu itu Arsen dan keluarganya akan datang ngelamar Ashley. Katanya sih sekalian tunagan, hua ... bahagia banget aku!"
"Apa?! No, papa gak setuju."
"Kenapa, El?" tanya Airine.
"Aku belum rela tanggung jawab Ashley pindah ke orang lain, Ai. Aku masih ingin mengemban tanggung jawab atas Ashley paling tidak sampai dia umur 25 tahun," ujar Elliot.
"Jangan egois, El. Kamu harusnya tambah senang, Arsen mau lamar Ashley. Itu berarti Arsen laki-laki yang baik, semakin lama mereka pacaran itu semakin gak baik ," nasehat Airine.