"Iya, tapi gimana nanti kalau Arsen menyakiti Ashley?" protes Elliot.
"Arsen gak mungkin menyakiti Ashley, El. Kamu lihat kan keseriusan Arsen, setelah dia berkenalan dengan kita, gak lama dia langsung bawa orangtuanya. Kalau aku pribadi lebih setuju Arsen dan Ashley segera menikah, biar nanti tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena mereka kelamaan pacaran. Lagian laki-laki kayak Arsen sekarang ini langkah, sudah ganteng, pinter, rajin, rajin ke gereja pula. Melewatkan Arsen, Ashley belum tentu bisa dapat yang lebih baik," ucap Airine.
"Huh ... ya sudahlah, kalau ibu negara sudah berkata seperti itu aku bisa apa," pasrah Elliot.
"Hahaha ...." gelak tawa Ashley dan Lyona.
"Makanya tuh, Ma. Papa tuh terlalu posesif, sampai-sampai gak ada yang berani dekati aku!" adu Lyona.
"Jangan menyulut api, Lyona!" ujar Elliot.
"Biarin, wlek ...."
"Kalau kamu sih, memang masih belum pantas pacaran, Lyona! Fokus belajar dulu, minimal kamu boleh pacaran saat kuliah," ujar Airine.
"Tuh ... kan, papa menang!" ujar Elliot.
"Tapi teman-teman Lyona sudah pada pacaran, Pa, Ma!" protes Lyona.
"Mama bilang belum, ya belum!" tegas Airine.
"Tapi kenapa?"
"Kamu belum bisa cari uang sendiri, 'kan?" skamat Airine. "Modal apa kamu berani pacaran?"
"Aku emang belum bisa cari uang, tapikan biasanya kalau pacaran yang perempuan dibayari sama yang laki-laki."
"Kamu yakin laki-laki yang kamu suka sudah bisa cari uang sendiri dan dapat bertanggung jawab?" sinis Airine.
"Ya kan yang penting dia punya uang buat kita jalan, Ma."
“Kalau Mama sih gak mau ya, malulah sama orangtuanya. Uang orangtua kok dibuat modal pacaran!” ujar Airine.
“Papa sih setuju dengan Mama,” ujar Elliot.
"Menurut mama sih, pacaran itu boleh. Tapi jangan sampai pup rasa coklat," ujar Airine.
"Kamu mengertikan kenapa kami melarang kamu berpacaran, Lyona?" tanya Elliot mengabaikan perkataan Ashley.
"Iya, Pa," jawab Lyona.
"Bagus, Papa harap kamu gak sembunyi-sembunyi berpacaran!" tegas Elliot.
"Iya, lebih baik kamu fokus sama sekolah kamu dulu, Lyn. Kan kamu tahun ini juga harus menghadapi unas, unas itu gak main-main loh, Lyn," ujar Ashley.
"Iya, Kak," jawab Lyona.
"Ya sudah, sebaiknya kita tidur sudah malam!" ujar Elliot.
"Siap, Pa!" ujar Ashley dan Lyona bersama dengan membentuk hormat ala captain.
***
"Ash, lo dipanggil Pak Arsen tuh di ruangannya!" ujar Hendrik.
"Buat apa, Drik?" tanya Leo.
"Gue juga gak tahu, gue hanya disuruh panggilin Ashley aja."
"Oh ya sudah, makasih, Drik!" ujar Leo.
"Yoi, sama-sama, Le!" ujar Hendrik lalu beranjak pergi.
"Habisin dulu makanan lo, baru temui tuh Es Balok Kutub Selatan!" tegas Leo.
"Aye-aye, captain!" ujar Ashley.
"Dah habis, aku pergi temui Es Balok Kutub Selatan dulu ya," ujar Ashley.
"Okey, gue tunggui di sini ya," ujar Leo.
"Gak usah, gak papa. Pulang aja duluan, takutnya nanti aku lama. Biasa kalau aku sudah dipanggil pasti lama, paling-paling juga hukuman lagi. Padahal aku gak ngerasa melakukan kesalahan," ujar Ashley.
"Okey, kalau ada apa-apa jangan lupa kabari gue! Atau kalau nanti sudah sampai rumah juga kabari aku," ujar Leo.
"Siap, bosque!" ucap Ashley.
***
Tok tok tok
"Masuk!"
"Ada apa, Kak?"
"Kamu ikut aku, kita harus cari cincin pertunangan," jawab Arsen.
"Hah? Terus mobil aku gimana?"
"Gampang, mobil kamu biarkan diantarkan ke rumahmu oleh orang kepercayaanku. Ayo kita berangkat sekarang," jawab Arsen.
"Ooo, okey," ujar Ashley lalu menyerahkan kunci mobilnya.
***
"Kamu pilih aja, Ash cincin yang kamu suka. Aku kurang tahu kalau tentang kayak ginian," ujar Arsen.
"Aku juga sama kurang tahunya, Kak."
"Hmm ... kalau gitu kita pilih bareng aja deh, aku juga gak tahu mau pilih yang mana kalau kamu suruh pilihin," ujar Arsen.
"Nah ... iya, gitu aja, kita pilih bareng. Oh ya, Kak ... Leo belum tahu kalau kita mau tunangan ya?" tanya Ashley.
"Iya, aku baru sebar undangannya hari ini," jawab Arsen.
"Oh ya, ada undangan yang buat teman-teman kamu ada di mobilku, sementara yang buat keluarga kamu sudah disebarkan oleh papa dan mama kamu," ujar Arsen.
"Sesuai yan aku minta, 'kan, Kak?"
"Iya, aku bingung. Kenapa yang kamu undang cuma 2 orang?"
"Karena aku cuma ngundang sahabat aku, hehe .... Aslinya sahabatku 3, tapi yang satu kan sepupunya Kakak, jadi pasti sudah dapat."
"Kenapa?"
"Aku gak dekat sama yang lain, hehe ... terlalu sibuk belajar," ucap Ashley.
"Tenang saja, aku juga cuma ngundang sedikit kok. Aku cuma ngundang 2 tangan kananku, 2 assistenku dikantor, dan seorang sahabatku," ujar Arsen.
"Wah ... tenyata sahabat Kak Arsen lebih sedikit, hanya punya satu sahabat," ujar Ashley.
"Haha ... iya, aku lebih gila lagi belajarnya dari kamu. Jadi jangan kaget," ucap Arsen.
"Haha ... kita pasangan gila belajar berarti ya," ujar Ashley.
"Hmm, yang ini kayaknya bagus deh," ujar Arsen sambil menunjuk sepasang cincin.
"Iya, aku juga suka," ujar Ashley.
"Lakinya pintar banget ya milihnya, suamiable nih. Cincin yang bapak tunjuk itu adalah produk baru kami dan belum semua toko punya," ujar pegawai toko tersebut.
"Toko ini hanya punya satu desain yang baru?" tanya Arsen.
"Adalagi, Pak. Tapi masih belum kami release, release-nya baru seminggu lagi, Pak," jawab sang pengawai itu.
"Saya mau lihat desain yang lainnya juga kalau begitu," ujar Arsen.
"Maaf, Pak. Kami gak bisa mengeluarkannya kalau tidak ada perintah dari bos kami," ucap sang pengawai.
"Kalau begitu tolong tanyakan ke bos Anda!" ujar Arsen.
"Ta-"
"Bisakah anda berbicara kepada bos anda tanpa protes lebih lanjut, ingat saya adalah pembeli maka saya adalah raja di sini! Anda bisa bilang kepada bos anda, saya Arsenic Earland Flowz mencarinya atau Anda akan menyesal!" tegas Arsen.
"Aish ..., Kak Arsen kenapa mau beli cincin harus sampai mengancam segala?! Beli cincin kayak orang mau ngerampok," omel Ashley.
"Karena aku akan mendapatkan yang terbaik untuk kamu, Sweetie," ujar Arsen sambil mengusap dengan sayang kepala Ashley.
"Tapi, kan gak harus sampai segitunya juga, Kak! Aku malu dilihatin orang banyak," ucap Ashley.
"Ya kalau aku sih cuek aja, toh, aku punya uang untuk bayar. Pokoknya selama aku bisa melakukannya, akan aku lakukan," ujar Arsen.
"Ya, ya, ya, dasar keras kepala!" ketus Ashley.
"Maaf, Pak. Saya gak tahu bahwa bapak adalah tamu khusus, bos kami menunggu anda di dalam," ucap pegawai itu setelah berbicara kepada bosnya.
"Oi, Ar! Lama gak ketemu, gimana kabar lo? Parah banget lo! Datang-datang langsung ngancam pegawai gue sampai muka pucat gitu," ujar seseorang itu sambil bertos ala laki-laki dengan Arsen.
"Baik, salah lo sendiri yang pergi gak balik-balik, Ray! Jadinya kan gue gak punya alasan untuk ke toko lo ini, ya pengawai lo gak ngenali gue deh,” ledek Arsen.
"Sialan lo, Ar! Sahabat macam apa lo," ujar Rayeen. "Oh ya, siapa tuh yang lo bawa?"
"Calon istri gue," ucap Arsen sambil memeluk pinggang Ashley.
"Hai, namaku Rayeen, sahabatnya si Es Batu," ucapnya sambil menyodorkan tangan.
"Ashley," ucapnya sambil bersalaman dengan Rayeen.
"So ... kalian berdua ke sini mau cari cincin pertunangan, 'kan?" tanya Rayeen.
"Iya, aku mau yang edisi terbatas. Kalau bisa malah hanya ada sepasang,” jawab Arsen.