Rava diam-diam memperhatikan Savia. Sahabat kecilnya itu terlihat sangat tegar dan selalu bisa menghadapi apa yang sedang menimpa dirinya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan jika hal yang sama juga terjadi kepadanya. Rava mungkin akan berdiam diri di rumah atau memutuskan untuk bersekolah di rumah. Dia tidak memiliki kepercayaan diri sebesar milik Savia, walaupun selama ini dia seperti melindungi sahabatnya itu, tetapi dia diam-diam kagum atas ketegaran Savia. “Ngapain loe liat-liatin gue? Beliin somay dong? Lapar nih.” Rava tersadar dari lamunan ketika mendengar suara Savia yang berbicara kepadanya. Dia berdecak, pura-pura malas turun dari daun jendela dan melangkah mendekati Savia. “Uangnya?” “Dih, pelit banget. Beli dua puluh ribu ya, sama jus alpukat.” Ucap Savi

