Savia berusaha keras untuk mengendalikan dirinya, dia sangat gugup ketika menunggu pria itu pergi dari ruangan ini. Belum lagi jantungnya berdegub kencang membuat keringatnya bercucuran. Dia mendengar suara langkah lain masuk ke dalam, Savia berusaha untuk tetap rileks agar kelopak matanya tidak bergerak terus. “Bagaimana dengan anak itu? Dia sudah bangun?” Tiba-tiba dia merasa ada seseorang yang mendekat ke arahnya, Savia merasa ada orang yang membungkuk dan menatapnya. Dia berbaring di dekat karung-karung yang di tumpuk. Dia berjuang sangat keras untuk menahan bau ruangan ini karena baunya sangat menyengat. “Kurasa kau memukulnya terlalu keras.” “Atau dia yang terlalu lemah. Padahal kemarin aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri dia bisa menembak bos tanpa usaha keras.” balas p

