Savia merasa tubuhnya seperti remuk, dia mendengar suara yang monoton terus menerus tetapi tidak bisa membuka kelopak matanya. Setiap dia berusaha, seperti ada yang menahan kelopak matanya untuk tidak terbuka. Dia terus berusaha, tetapi akhirnya gagal sampai kesadarannya kembali menghilang. Savia kembali terbangun, dia tidak tahu sudah berapa lama dia tidak sadarkan diri, tetapi suara ruangan itu masih tetap sama. Savia penasaran dia di mana sekarang. Tapi merasakan kelembutan tempat tidur dan ruangannya yang sedikit sejuk membuatnya tahu jika dia tidak lagi berada di jurang. Kesadarannya kembali hilang, itu terjadi terus-menerus beberapa kali. Sampai dia mendengarkan suara yang asing. Itu seperti suara perempuan dan laki-laki yang saling berbicara. Savia berusaha menajamkan indra pen

