Savia mengerjabkan matanya, dia baru saja di pindahkan dari ruangan pemeriksaan. Pandangannya berkunang-kunang dan dia memilih memejamkan mata untuk meredakan rasa pening itu. Dua hari tidak bisa melihat, pendengarannya lebih peka. Dia bahkan bisa membedakan suara langkah dokter, kedua orangtuanya dan Rava. Semua berbeda karena sepatu dan sandal yang mereka gunakan juga tidak sama. Dari semua informasi yang dia dengar, mereka akan melakukan operasi besok lusa. Itu karena kondisi kesehatannya yang masih kurang stabil. Savia juga merasakannya, sekarang dia lebih cepat tertidur. Apalagi semenjak penglihatannya menghlang. Perasaannya semakin buruk setiap hari karena di landa ketakutan dia tidak bisa meihat normal seperti dulu. “Savia, sekarang kita kembali ke ICU.” Savia tersenyum, “Baik

