Hujan Dan Kecupan

1848 Kata
Villa yang di bangun di tanah pribadi keluarga Sarah itu, terletak di dekat pegunungan Kawi. Tak jauh dari tempat wisata Lembah Indah Malang. Ayah Sarah memilih untuk membeli aset di daerah ini, karena Laras, sang Istri sangat menyukai pemandangan yang indah. Karena itu Villa ini di bangun. Dan, takkan pernah di jual kepada siapapun. Padahal, bisa saja Laras menambah isi tabungannya. Karena wisatawan asing, jatuh cinta dengan bangunan estetik Villa itu. Termasuk pemandangannya. Dia menawarkan harga paling tinggi sekalipun, Laras menolak. Alasannya sangatlah sederhana. "Banyak kenangan indah bersama keluarga dan mendiang suamiku di sini. Kau bisa saja membeli bangunan ini. Tapi, kau tak bisa membeli kenangan yang tercipta di dalamnya." *** Pukul 16.00. Setelah rehat dan melakukan pembagian kamar. Dina bersama Sarah. Dhira dengan Yura. Sisanya, para lelaki sekamar. Mereka memilih untuk membuat pesta barbeque sebagai makan malam, setelah tadi siang makan mi instan. Andalan saat sedang berlibur kemanapun. Ketiga lelaki menyiapkan tempat untuk memanggang. Menata arang di atas panggangan, yang kemudian ditutup tatakan baja nirkarat berongga. Para wanita sedang menyiapkan bahannya. Sarah memotong paprika. Dina memotong daging dan sosis. Yura merangkai ketiga bahan tersebut dalam satu tusukan besi panjang. Seperti tusuk sate. Dhira.. Hanya memperhatikan dengan lagak seperti bos. Sarah—Dina hanya menggeleng heran. Panjang desahan mereka melihat gaya sok Dhira. Potongan paprika terakhir Sarah sudah rampung. Ia pergi ke halaman belakang, dimana hujan rintik turun tanpa pemberitahuan. Beruntungnya kanopi plastik putih transparan terbentang di atas halaman belakang. "Arangnya sudah siap?" tanya Sarah. "Tunggu sebentar lagi. Jika, bukan karena Dokter ini aku pasti sudah menyelesaikannya daritadi," kata Niko. Menggerakkan kipas bambu dengan cepat. Gigi Willy mengatup kesal. Memicing tajam pada Niko yang melakukan hal yang sama. Keduanya saling menggiring asap agar membuat sesak lawannya. "Pelan-pelan saja.. Nanti terbakar semua," kata Aldi. Aldi duduk di bangku dekat pintu. Tepat di samping Sarah. Ia sedang menikmati soda dan kacang kemasan. Berlagak seperti bos. Persis Dhira. "Auch! Sakit, mbak!" Sarah memukul kepala Aldi, setelah mendekatinya. "Mereka lebih tua darimu. Seharusnya, kau yang melakukan itu! Cepat kesana!" "Biarkan mereka yang-" "Satu.." "Mbak, aku-" "Dua.." Aldi berdiri dengan muak. Berjalan melewati Sarah dengan langkah kesal yang sengaja ia tunjukkan. Berhenti di detik selanjutnya. Menengok pada Sarah. "Nenek sihir jahat!" ejek Aldi, menjulurkan lidah. Kemudian mendekati Niko dan Willy. Sarah mendesis kesal. Membalik badan. "Mas Willy." Suara kalem dari seorang perempuan menghentikan langkah Sarah. Menengok ke belakang. Tepat di arah perempuan itu berdiri. Wajah yang sebelumnya tanpa ekspresi, kini tertegun. Matanya melebar. "Indah! Kenapa lama sekali sampai sini?" tanya Willy, mendekati Indah dan tunangannya. Sementara Aldi terkesiap, Niko mengerutkan kening. Tatapannya geram. "Mas Rama?" kata Aldi lirih. "Bukan. Dia bukan Rama." Aldi memandang Niko. "Iya. Tadi Mas Alan ada pekerjaan mendadak. Lalu, ponselku mati. Charge di mobil juga sedang rusak. Beruntungnya, mas Alan tahu Villa ini. Jadi, kita tak terlalu malam sampai sini." "Ini.. Villa milik temanmu?" tanya Alan. Willy mengangguk. "Lebih tepatnya, pasien istimewaku." Willy tersenyum. Berlari kecil ke arah Sarah. Menggandeng tangan Sarah, yang tak melawan ketika di ajak. "Ini Sarah," ucap Willy. "Ah.. Ini wanita yang sering Mas ceritakan itu?" tanya Indah. "Tapi.. Sepertinya aku pernah melihatnya." "Mungkin, kalian bertemu di perusahaan S. Sarah bekerja di situ. Dan, juga dia-" Seolah menyadari sesuatu, Willy tak melanjutkan kata-katanya. Menatap Sarah yang bertukar pandang dengan Alan. Tampak tatapan runyam dan aneh. Jemari Sarah yang masih di genggam Willy juga terasa dingin. "Sarah.. Kau baik-baik saja?" Sarah tersadar dari sensasi terkejutnya. "Oh.. Aku.. Tunggu sebentar. Maaf, aku permisi dulu." Sarah berlari masuk. Niko dan Aldi menyusul. Dhira menyunggingkan senyum. Melipat tangan di d**a. Bersandar pada pintu. Menghalangi langkah Niko. "Biarkan adiknya yang menenangkan. Kau di sini saja," pinta Dhira. Niko hanya mendesah panjang. Aldi yang baru tiba di depan kamar Sarah, mengetuk pintu. Dina menepuk bahu Aldi. "Kenapa dengan Sarah?" "Nanti saja aku jelaskan." Aldi kembali mengetuk pintu. "Mbak.. Aku masuk, ya?" Tak ada respon dari Sarah. Aldi nekat masuk. Menarik gagang pintu ke bawah. Mendorong pintu ke dalam. Sarah mondar-mandir. Mulutnya komat-kamit tidak jelas. Jemarinya saling bertautan. "Mbak.. Lagi apa?" tanya Aldi, ragu. Menutup pintu. Sarah tak menghiraukan. Terus melakukan hal itu. "Mbak.. Kau baik-baik saja?" Sarah tetap tidak merespon. Merasa kesal, Aldi menghalau langkahnya. "Bisa kau hentikan itu? Dan, ceritakan padaku apa yang terjadi. Pria di luar itu.. Mas Rama?" "Aldi.. Aku harus bagaimana ini? Ternyata tunangan Alan adalah adik Willy. Lalu, kenapa mereka kemari? Apa sebaiknya aku pulang saja? Atau aku lebih baik di dalam kamar saja? Aku tidak tahu bagaimana caranya menghadapi mereka." "Mbak!" Aldi meremas lembut bahu Sarah. "Ambil napas. Lalu, keluarkan perlahan." Sarah melakukan yang di perintah sang adik. "Sudah tenang?" Sarah mengangguk. "Bisa kau jelaskan padaku apa yang terjadi?" Sedangkan, di halaman belakang, Niko yang merasa kesal menghampiri Alan yang masih berdiri dengan Willy, juga Indah. "Kenapa kau bisa di sini?" "Siapa kau?" Indah bertanya. "Seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu. Siapa kau—dan untuk apa kau datang kemari?!" "Dia adikku. Aku yang mengundangnya kemari." "Atas izin siapa? Ini liburanku bersama teman-temanku. Aku saja tidak mengenalmu. Aku juga tidak mengerti, kenapa Sarah harus mengajakmu. Dan, kau.." Niko menatap Alan. "Seharusnya kau menghindari Sarah. Kau pasti sudah tahu apa alasannya. Aku harap kalian pergi secepat mungkin." Niko berbalik. Saat di langkahnya yang kedua, Alan bicara, "Kenapa? Aku tidak seharusnya berada di sini?" Niko kembali berbalik. Berjalan cepat. Lebih mendekat pada Alan. "Karena kami benci melihat wajah familiar mu!" Aldi yang baru saja selesai mendengarkan cerita Sarah, hanya bisa mendesah panjang. Keduanya kini duduk di bibir ranjang. "Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?" "Tidak ada. Bersikaplah seperti biasa. Anggap dia bukan Rama. Meski, kebenarannya kita tak pernah tahu." Sarah menyetujui saran Aldi. Mengangguk pelan. "Sekarang kita keluar. Dan, hadapi mereka. Kau tidak melakukan salah apapun. Jadi, tak perlu takut. Ada aku. Juga Mas Niko. Kami akan selalu menjagamu." "Aku tahu. Aku ingin mandi. Kau keluar saja dulu." "Baiklah. Aku tunggu di halaman belakang." Aldi keluar kamar. Dina yang melihatnya segera menghampiri. "Sarah.. Baik-baik saja?" "Sepertinya.. Kita tidak bisa memberitahu hal itu hari ini." *** Hujan menderas. Udara semakin dingin. Sarah membenamkan wajah dan kepalanya dalam bak mandi yang penuh dengan busa. Berharap otaknya menjadi dingin setelah terendam air hangat. Sarah mengenakan piyama panjang abu. Di lapisi dengan sweater merah muda favoritnya. Menyisir rambut. Memandang dirinya sejenak dalam cermin. Menatap betapa malang dirinya. Setelah mencoba untuk keluar dari siksaan itu, ia berharap semua akan berjalan kembali normal. Namun, kenyataan berkata lain. Masalah demi masalah menghujam dirinya tanpa ampun. Mau tidak mau dia harus menghadapinya. Agar tak berdarah-darah dalam kesedihan. Seperti kata Aldi, dia tak melakukan kesalahan apapun. Sarah memantapkan hari. Mendorong udara keluar dari mulut. Membuka pintu. Melihat Dina dan Yura berada di dapur, dari tempat ia berdiri. Menghampiri keduanya. "Apa semuanya sudah siap?" tanya Sarah. Keduanya kompak memandang Sarah. Memutari meja dapur. Memeluk Sarah tanpa kata. Mengusap punggung Sarah dengan lembut. Sarah yang sudah tegar sepanjang sore tadi, akhirnya tak mampu juga menahan. Air matanya menderas tanpa di perintah. Seperti hujan di malam ini. *** Pukul 20.20. Mereka semua sudah selesai makan malam. Kecuali Niko dan Sarah. Niko sengaja tidak makan bersama mereka, agar bisa menemani Sarah. Menyisihkan banyak daging dan sosis. Tanpa paprika. Sarah tak suka itu. Niko tahu betul. "Cepat makan. Aku sudah memanggang daging yang banyak untukmu," kata Niko. Menghampiri Sarah yang sedang berbincang dengan kedua temannya di meja dapur. "Terima kasih. Aku tidak lapar." "Kalau begitu, bagian Bu Sarah untukku saja," sahut Dhira, menyembul dari punggung Niko. "Hei, Kau sudah terlalu banyak makan tadi." "Tidak apa-apa, kan Bu Sarah?" "Makan saja. Aku sedang tidak selera makan." Dhira meninju udara ke atas. Berjalan riang kembali ke halaman belakang. "Kalau tidak makan, nanti kau sakit." "Sebenarnya, aku sudah makan." Sarah meringis. "Makan? Kapan?" "Aku membuatkannya mie instan tadi," sahut Dina. Sarah tersenyum lebar. Menunjukkan sederet gigi putihnya. "Kalau begitu, bisa kita bicara di lantai atas?" tanya Niko. Sarah mengangguk. "Aku tunggu di sana." Niko berjalan menunjuk atas. Ia lebih dulu pergi ke lantai atas. Menuju beranda. Hujan sedikit mereda. Setidaknya, tidak akan ada badai malam ini. "Apa yang ingin kau bicarakan?" Niko yang sebelumnya bersandar pada pagar beranda. Berdiri tegak. Menengok ke samping. Sarah sudah berada di sisinya. "Kau baik-baik saja? Aku melihatmu berlari dengan wajah pucatmu." "Maaf, aku pasti membuatmu khawatir. Aku hanya terkejut saja. Pak Alan bisa datang kemari dengan tunangannya." "Itu wajar saja. Tapi, jika aku jadi kau, pasti sudah aku usir mereka." Sarah mengernyit. Menarik lehernya ke belakang. "Pak Niko, sekarang bisa kejam juga, eh?" Niko mendesis malu. "Biarkan saja. Aku juga takkan menghindari mereka lagi. Sekarang, aku akan menjadi Sarah yang kuat." "Bagus. Dan, ingat.. Aku selalu ada di belakangmu." "Bohong." "Hei, sungguh. Kenapa kau tidak percaya padaku?" "Buktinya, kau ada di sampingku sekarang." Niko merapatkan kelopak mata. Kesal. "Itu hanya kiasan, Nona." Sarah tertawa kecil. "Aku tahu. Terima kasih.. Kau selalu ada untukku." "Itulah gunanya teman." Sarah mendesah panjang. Menatap langit hitam. Hujan telah berhenti. Menyisakan butiran-butiran air, yang menetes dari ujung genteng. "Jika saja, tak turun hujan.. Pasti bintang-bintang terlihat jelas," kata Sarah. "Kau benar. Pasti sangat indah." "Dulu.. Ketika aku kecil, Ayah selalu mengatakan—jika orang baik tiada, maka ia akan berubah jadi bintang. Ayahku.. Pasti salah satu bintang di langit, kan?" "Tentu. Ayahmu orang yang baik. Aku yakin itu." "Bagaimana kau bisa yakin? Kau saja tak pernah bertemu." "Karena kau baik." Niko menatap Sarah. "Sifat baik ayahmu.. Ada padamu." Sarah tersenyum. "Jika.. Alan benar-benar, bukan Rama. Dan, jika benar Rama sudah mati, mungkin.. Dia juga menjadi salah satu bintang di langit. Karena.. Dia pria yang baik." Niko diam. Menatap Sarah lama. "Semakin malam semakin dingin. Aku ambil selimut." Niko pergi. Turun ke lantai bawah. "Bodoh.. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu," kata Sarah. Di detik selanjutnya, selimut sudah terpasang pada tubuh Sarah. "Terima kasih, Niko." "Bagaimana kau bisa berpikir aku Niko?" Sarah menengok ke belakang. "Willy? Bagaimana kau tahu aku ada di sini." "Yura yang memberitahuku. Kau sedang bersama Niko tadi? Apa aku harus pergi sekarang?" "Tidak-tidak. Di sini saja." Sarah terkekeh alakadarnya. "Kau, baik-baik saja?" "Kau orang ketiga yang menanyakan hal itu. Iya, aku tidak apa-apa." "Hehe. Maaf, tanganmu terasa dingin tadi. Jadi, aku sedikit khawatir. Dan, maaf juga aku tak memberitahumu soal adikku akan kemari. Tadi, Aldi sudah memberiku izin." "Tidak apa-apa. Jika aku menjadi Aldi, aku juga akan mengatakan hal yang sama." Sejenak hening. Tetesan sisa air hujan terdengar. Kodok masih saja menyanyi sepanjang senja tadi. "Sarah.. Aku boleh menanyakan sesuatu?" "Tentu." "Pria itu.. Yang bersama Indah. Apa dia.." Sarah mengangguk. "Dia pria yang ku ceritakan padamu." Willy mendesah terkejut. "Wajahnya benar-benar mirip dengan Rama?" "Aku bimbang. Apa benar dia bukan Rama. Ataukah dia memang Rama, tapi hilang ingatan. Aku juga tidak tahu." "Maaf, aku harus mengatakan ini. Tapi, Sarah.. Sudah saatnya kau tidak memikirkan pria itu lagi. Terlepas dari dia Rama atau bukan, aku harap kau tidak menyiksa dirimu sendiri. Ingat kataku waktu di rumah sakit." "Iya. Aku tahu. Aku akan berusaha untuk itu. Terima kasih, kau sudah-" Sarah terdiam tiba-tiba. Matanya melebar. Jantungnya berdegup gugup. Willy mencium pipinya tiba-tiba. "Itu.. Bentuk perhatianku padamu," jelas Willy. Sarah hanya diam. Begitu pula Niko yang melihat adegan itu dari belakang mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN