Bab 05

1039 Kata
'Haduh ... Arjuna kenapa belum pulang juga, ya, sekarang?' gumamku dalam hati. Karena perasaan tak enak terus menghujani, aku pun mencoba untuk tenang dan menyediakan masakan yang telah matang di atas meja. Menjelang pukul 12.00 WIB, Arjuna pun tak kunjung memerlihatkan batang hidungnya. Entah kenapa, belakangan hari ini aku sangat khawatir jika dia tidak terlihat semenit pun. Padahal, lima bulan yang telah berlalu tak pernah seperti itu. Perlahan perasaan konyol itu tumbuh seiring berjalannya waktu. Bahkan, aku sempat bermimpi telah menikah dengan anak tiriku sendiri. Seraya menyibak keringat yang ke luar membasahi badan, aku pun mencoba mengambil ponsel dari dalam kantong baju. Dengan mencari beberapa nomor sahabatnya, aku mengirimkan pesan singkat melalui aplikasi berwarna hijau. Akan tetapi, balasan dari mereka malah membuat aku bertambah bingung karena tak ada yang melihatnya. Untuk menghubungi nomor Andre, aku tak punya dan belum sempat memintanya. Lamat-lamat, aku pun berjalan menuju ruang tamu seraya celingukan tanpa henti. Dari ambang pintu, terlihat sebuah taman indah dan beberapa tanaman hasil kegiatan sang anak. Dengan senyum simpul, aku buang menuju beberapa bunga kesukaan yang tumbuh indah di sana. Arjuna adalah salah satu pria paling keren dan sempat membuat jantung ini bergetar ketika suamiku membawanya ke rumah. Sembari menyibak rasa khawatir berlebihan, aku pun memasuki kamar Arjuna dan menelusuri tiap sudut ruangan. Entah kenapa, batin ini mendadak ingin berada di dalam ruangan sepetak dengan aroma khas lelaki tangguh. Ketika aku sampai di dinding kamar, tampak celana panjang sang anak tengah tergantung rapi. Bokser serta baju berlengan pendek yang kemarin sore telah dia pakai. Menggunakan tangan kanan, aku menyentuh bokser itu dan menciumnya. Aroma di bagian s**********n celana Arjuna memberikan aura yang mampu menggetarkan jantung ini. Ketika aku berpaling, celana dalam berwarna hitam terjatuh dari jemuran berukuran mini itu. Secara saksama, aku menjongkokkan badan sembari mengambil benda tersebut. Setelah mendapatkan celana dalam berwarna hitam itu, aku mendudukkan badan di atas dipan seraya mencium aromanya. Terngiang syahdu memasuki sanubari, seakan menambah keinginan diri ini untuk menemuinya. Namun, sampai saat sekarang Arjuna tak terlihat sama sekali. Karena perasaan yang terus terbang, membuat aku segera merebahkan kedua sayap di atas ranjang. Kemudian, aku menyentuh ladang segitiga dan mencoba untuk merasakan kenikmatan dengan mencium aroma celana dalam milik Arjuna. Terbayang sudah kehadiran sang anak tiri di dalam badanku, dia menemui dan seakan mengajak untuk berhubungan badan. Dengan penuh penghayatan, khayalan itu seakan nyata terjadi hingga membuat rangsangan dan mengeluarkan cairan bening dari ladangku. Tak berapa lama, aku pun mencoba untuk menyeringai sprei serba putih milik Arjuna. Tersentuh sebuah benda yang sangat basah dan membuat diri ini membuka mata secara spontan. Tapakkan tangan merasakan sangat aneh, karena benda tersebut begitu licin dan lendir. Dengan menarik tangan kanan, aku pun bangkit seraya mendudukkan badan. Secara saksama, netra ini menatap mantap jemari yang sempat menyentuh benda aneh tersebut. 'Tangan aku kenapa basah, ya? Kok, seperti sangat aneh gini?' tanyaku dalam hati. Kemudian, aku mencium jemari kanan yang masih terdapat cairan lendir itu. Ketika ujung kuku ini sampai di pangkal hidung, terdapat bau aroma amis. 'Amis? Kok, seperti s****a laki-laki?' Sembari merumuskan pertanyaan dalam hati, aku pun mencoba untuk meletakkan celana dalam milik Arjuna di samping kanan. Lalu, badan ini menjadi jongkok dan mencoba mencari benda yang sempat tersentuh tadi. Ketika aku menatap di pinggir ranjang, terdapat sebuah gulungan putih seperti karet. Karena penasaran, aku mengambilnya dan menatap secara saksama. Ketika benda elastis itu di tangan, barulah aku sadar kalau ternyata alat tersebut adalah pengaman atau kondom bergerigi yang dipakai oleh laki-laki. 'Kondom? Kok, Arjuna pakai benda ini? Sama siapa dia melakukannya? Atau jangan-jangan ... Arjuna lagi m***m dengan cewek tadi, ya?' Berjuta pertanyaan tumbuh dalam isi kepalaku, dan membuat rasa penasaran kian gelenyar hingga merubah detak jantung yang kian menjadi-jadi. Karena aku tidak habis pikir akan perbuatan sang anak tiri, badan ini pun bangkit dari ranjang dan bergerak menuju meja belajar. Tepat di samping nakas, terdapat bungkus pengaman atau kondom bergerigi yang telah terbuka. Ya, sama persis dengan benda yang saat ini aku pegang. Kemudian, plastik bekas pengaman itu juga ada di samping kanan bantal. 'Jadi ... jadi, Arjuna telah berhubungan intim dengan perempuan tadi?' Menggunakan tangan kanan, aku mengambil bungkus kondom yang masih tersisa banyak, sekitar sebelas lagi. Kemungkinan, Arjuna baru memakainya satu. Sementara pengaman yang tadinya aku pegang berisikan s****a, kubuang di dalam tong sampah. Dengan membawa bungkus kondom itu, aku ke luar dari dalam kamar dan menutup pintu sangat rapat. Ketika badan ini bergeming di ambang pintu, Arjuna pun tiba dengan tatapan tercengang di dalam ruang tamu. Untuk melangkah, dia sangat takut dan badannya seperti gemetar hebat. Sementara di tangan kanan ini, telah ada bungkus kondom berwarna biru tua. Seketika aku menatap wajah sang anak dengan penuh kekesalan. Selama aku di rumah bersamanya, ini adalah kali pertama penemuan yang sangat membuat aneh. "Dari mana kamu Arjuna?!" tanyaku memekik. "Hmmm ... Juna-Juna ... lagi ...," jawabnya terbata bata, kemudian dia menarik napas berat. "Dari mana kamu Juna! Sini kamu! Duduk di kursi sekarang!" bentakku dengan suara penuh kekecewaan. Dengan mengikuti perkataan ini, sang anak pun berjalan dengan menundukkan wajah menuju lantai. Ketakutan yang aku ciptakan berhasil membuat Arjuna sangat merasa bersalah. Tampak dari wajahnya, kalau dia berekspresi sangat pucat. Setelah mendudukkan badan, Arjuna menatapku dengan sangat takut. "Ma ... kenapa Mama masuk kamar aku?" tanyanya. "Oh, sejak kapan mama enggak boleh masuk kamar kamu? Emangnya, selama ini yang bersihkan kamarmu siapa?" pekikku ngegas. "Bu-bukan begitu, Ma. Tetapi ... enggak sewajarnya Mama masuk kamar anak lajang, di sana ada privasiku, Ma," jawabnya sangat takut. "Emang privasi apa yang kau sembunyikan dari mama? Ini benda apa, Jun? Ini benda apa!" Dengan sangat keras, aku melempar bungkus kondom itu di wajah sang anak. Mendapati hal tersebut, Arjuna pun tak mampu berkata dan dia memalingkan tatapan. Mulutnya terkunci, akan tetapi keringatnya bergerak cepat membasahi leher dan pipinya. Kejantanan anak tiriku memang membuat adrenalin merasa tertantang, apalagi setelah melihat badannya yang semakin berotot. "Aku bisa jelaskan, Ma, enggak seperti apa yang Mama lihat," ucap Arjuna meyakinkan. "Sudahlah, Jun. Mama enggak mau dengar apa-apa lagi dari mulut kamu. Baru juga mama tinggal beberapa jam untuk belanja, kamu sudah berani berbuat demikian di rumah. Mau jadi apa kamu?" "Mama ... tolong dengarkan penjelasan aku, Ma. Ini enggak seperti apa yang Mama bayangkan," katanya lagi, kali ini terdengar sangat lirih. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN