"Udah, Mang Diman, hitung aja semua belanjaanku," kataku mengakhiri percakapan.
"Sebentar, Dek, biar akang hitung dulu," jawab Mang Diman.
Lelaki yang mengenakan blangkon pada kepalanya itu bergerak ke sana dan ke mari, dia mengambil alat hitung dan sesekali menatap dengan membuang wajah genit. Karena aku ingin sekadar mendapat diskon dalam berbelanja, apa yang dia lakukan pun akhirnya terbalas sempurna.
Di warung telah sunyi dan hanya aku dan Mang Diman saja, sehingga dia bisa leluasa dalam menggoda wanita cantik sepertiku. Kalau disuruh memilih, aku tidak akan mau jika digodanya, karena Diman bukanlah tipe lelaki idamanku.
Apalagi untuk saat ini, dia berbeda usia jauh di atasku, dan telah memiliki lima orang anak. Bahkan yang paling kecil, usianya sama dengan Arjuna—anak tiriku di rumah.
"Totalnya seratus lima ribu, Dek," ucap Diman spontan.
"Apa! Mahal banget, Bang, bisa kurang enggak?" Setelah berkata, aku pun mendekatkan posisi berdiriku dan menonjolkan p******a berukuran jumbo tepat di hadapan lawan bicara.
Dengan menatap mantap, lelaki itu pun hanya menelan ludah dan dia sesekali memegang alat kelaminnya yang telah berdenyut. Terlihat dari kedua bola mata, karena Diman gemar memakai celana berbahan tipis dan pergerakan itu tampak sangat jelas.
Secara perlahan, aku pun menyentuh alat kelaminnya dengan menggunakan tangan sebelah kanan. Mendapati rangsangan itu, Diman hanya sekadar menelan ludah dan menatap langit-langit warungnya.
"Astaga ... kenapa pada nonjol semua gini, ya, mana bisa aku menahan. Kalau aja dia mau, pasti udah aku hamili," ucapnya terdengar lirih.
"Jadi berapa belanjaan saya, Bang?" tanyaku lagi.
"Ya, udah, deh, dua puluh lima ribu aja."
"Dua puluh ribu aja, deh," tawarku lagi.
"Boleh, Dek, ambil dua puluh ribu enggak masalah. Apalagi kalau dapat s**u yang besar itu, gratis pun enggak masalah."
Mendengar ucapan itu, aku membuang cengir. Dengan cepat, aku mebgambil uang di dalam bra sebanyak dua puluh ribu. Takutnya, kalau Diman akan berubah pikiran dan dia tidak jadi mendiskon belanjaan.
Setelah aku membayar, Diman pun meraihnya seraya menyentuh tangan kananku.
"Kalau begitu, aku pamit pulang dulu, Bang."
"Iya, Dek, kalau bisa nanti malam belanja lagi. Biar akang serobot masuk kelambu," jawabnya seraya mencium tangannya—bekas dari sodoran jemariku.
Dengan cepat, aku meninggalkan warung seraya merubah posisi menjadi sangat biasa. Kemudian, aku menghapus tangan bekas sentuhan Diman itu di baju yang berukuran lumayan pendek.
'Amit-amit ... kalau bukan karena ingin belanja murah, enggak mungkin aku mau pegang-pegang rudalmu, Man,' omelku dalam hati.
Belum lama berjalan, seorang lelaki pun melintas di sampingku. Pasalnya, dia adalah mantan kekasih yang sekarang telah menjadi ustaz. Tatapannya juga tajam, karena sedari dulu dia sangat mencintaiku.
Penampilan sang kekasih yang selalu mengenakan kopiah itu membuat aku sangat malu. Apalagi, sekarang dia menjadi seorang ustaz di kampung ini. Tanpa membalas tatapannya, aku hanya sekadar melintas.
Tepat berselisihan, Rizal pun mengelus dadanya karena melihat penampilan ini. Sejak dinyatakan janda beberapa tahun lalu, aku merubah seratus persen penampilan ini hingga warna rambut pun ikut berubah. Dulu, aku adalah wanita yang terkenal sangat alim dan menjaga aurat.
Akan tetapi, penampilan alim tidak menjamin mulut orang-orang dalam berkata. Ucapan dan hinaan menyakitkan perihal kehidupanku terlontar, karena saat itu mereka mengatakan kalau aku mengandung anak haram dari perbuatan m***m di gubuk kecil.
Padahal, aku mengandung Erika dengan cara yang baik-baik yaitu menikah. Pandangan orang-orang di kampung terhadapku telah jelek, sehingga aku merubah penampilan ini seperti p*****r agar semua tidak ada yang merasa di zalimi lagi.
"Lihat itu gaya si Mirna, makin lama makin hot aja."
"Iya, padahal udah punya suami tentara. Bukan berubah, malah makin menjadi."
"Ya, iyalah, namanya l***e sampai kapan pun tetap lonte."
"Hus! Jangan pada ngegibah, karena hidup kita juga belum tentu baik."
Begitulah ocehan para warga di kampung ini, selalu membuat gerah dan aku menghadapinya dengan menahan emosi setiap hari. Cacian yang begitu terus-terusan membuat diri ini terbiasa, sehingga apa yang aku jalani pun sudah sangat biasa saja.
Setibanya di depan rumah, aku melihat motor sang anak telah pulang dari pelatihan pembentukan otot badan, atau yang dikenal dengan istilah GYM. Akan tetapi, sepertinya Arjuna tengah membawa seseorang ke dalam rumah.
Secara saksama, aku pun menatap ruangan yang sudah ada tertutup pintu kamar dengan sangat rapat. Karena merasa penasaran, aku pun mengetuk pintu kamar yang terletak di bagian depan.
"Juna ... kamu di dalam, Nak?" tanyaku.
Ucapan ini pun tanpa jawaban, kemudian aku mencobanya lagi dan kembali mengetuk pintu.
"Juna ... kamu sudah pulang?" tanyaku.
"Sudah, Ma ...," teriaknya dari dalam kamar.
Karena telah mendapat respons, aku pun mengembuskan napas panjang setelah mendapati sang anak tiri telah berada di dalam kamarnya. Seperti rutinitasnya setiap hari, kalau Arjuna tak pernah ke luar rumah dan lebih suka mendekam dalam kamar.
Dengan langkah laju, aku berjalan menuju dapur seraya membuka semua belanjaan. Namun, ternyata minyak goreng yang kubeli tidak ada dan membuat diri ini terpaksa harus menyuruh Arjuna kembali ke warung.
Ketika aku merogoh uang, langkah kaki pun membawa diri ke ambang pintu yang menghubungkan antara dapur dan ruang tamu. Secara saksama, aku mendapati sang anak tengah ke luar dengan menggandeng seorang wanita dari dalam kamar.
Deg!
'Perempuan itu siapa, ya? Kok, aku asing banget melihatnya. Enggak biasa Arjuna membawa teman wanitanya ke dalam kamar,' ucapku dalam hati.
Sembari memerhatikan, aku pun meletakkan badan di dinding dapur. Ternyata, Arjuna pun menggandeng wanita itu untuk sedikit berlari meninggalkan kamar. Mereka ke luar rumah dan menaiki motor milik anak tiriku.
Karena sangat kepo, aku pun berlari ke ambang pintu dan menatap Arjuna tengah melaju membawa wanita yang rambutnya sudah berantakan itu. Baru saja ditinggal dalam hitungan jam, dia telah berhasil membawa seorang wanita remaja di dalam rumah ini.
'Mereka habis ngapain, ya? Kok, aku merasa sangat penasaran gitu? Atau jangan-jangan ... mereka lagi? Enggak-enggak, Arjuna bukanlah anak yang jahat.'
Sembari merumuskan berjuta pertanyaan dalam hati, aku pun mencoba untuk kembali menuju dapur. Ya, langkah kaki membawa diri untuk memahami apa yang terlihat barusan. Pikiran positif pun aku singkronkan pada logika, agar kecurigaan itu tidak merambat jauh.
Setibanya di dalam dapur, aku pun memasak menu dengan penuh keceriaan. Sebagai rutinitas setiap hari, pekerjaan ini memang sudah aku geluti. Namun, sampai arloji menunjukkan pukul 11.00 WIB, Arjuna tak kunjung pulang.
Kemungkinan, dia telah bermain dengan Andre—sahabatnya yang sempat membuat aku enak-enak di rumah. Remaja polos itu sempat bermain kuda-kudaan denganku.
Sampai sekarang, permaianan indahnya masih terekam jelas, betapa kerasnya rudal yang dia miliki hingga mengeluarkan sedikit bercak darah dari dalam ladang segitigaku. Sembari memasak, aku pun tak henti-hentinya berkhayal.
Menyentuh ladang berbentuk segitiga yang telah berair dan mengeluarkan pelumas bening. Gairah bermainku memuncak, sejak mengenali dua remaja di rumah ini. Dengan mengembuskan napas panjang, aku menggoreng ikan.
Wajah Arjuna dan Andre selalu saja mengitari, karena keduanya memang membuat gairah untukku bercinta kembali hadir. Apalagi keduanya masih berondong, tenaga keduanya masih sangat segar dan membuat diri ini selalu ingin untuk melakukan hubungan intim
Bersambung ...