Bab 03

1067 Kata
Setibanya di dalam kamar, aku merasakan gerah badan ditimpali keringat yang ke luar membasahi badan. Tak hanya itu, aroma s****a hasil hubungan dengan Andre juga masih menyengat amis di sekitar mulut dan perut. Tepat arloji menunjukkan pukul 19.00 WIB, aku pun menuju kamar mandi lagi dan hendak membersihkan badan. Setibanya di dalam dapur, kedua bola mata ini tercengang setelah mendapati sang anak tiri telah bergeming menunggu air rebusan. Tatapan yang dia lempar juga membuat aku merasa aneh, sedikit maksa dan penuh tanda tanya. "Juna, kamu ngapain di dapur?" Seketika Arjuna pun membuyarkan lamunannya. "Ah, i-ini, Ma, aku lagi rebus air untuk buat mi instan." "Oh, mama kira ngapain di dapur sendirian," jawabku menambah. Karena merasa salah tingkah, Arjuna pun menggaruk kepalanya dan dia kembali memalingkan tatapan. Tanpa peduli, aku pun kembali menapak menuju kamar mandi dan menutup pintu dengan rapat. Dengan melepas handuk yang kupakai sebagai penutup badan, aku pun menyalakan shower dan membasahi badan ini dengan air hangat. Malam ini sungguh menguras tenaga, karena permainan dari Andre sangat membuat aku ketagihan. Apalagi ketika remaja itu meramas payudaraku, serta dia mengelus ladang segitiga yang telah lama tak terkena siraman. Namun, meskipun semua adalah dosa, aku menganggapnya sebagai dosa terindah. Setelah sekian menit membasahi badan, batinku pun merasa seperti tengah ada yang memerhatikan. Tepat di ambang pintu, lubang berbentuk lingkaran itu seperti tengah memerlihatkan sebuah bola mata tengah berkedip. Namun, aku tidak tahu itu siapa. 'Kok, kayak ada yang lagi ngintip aku mandi, ya? Atau jangan-jangan ... itu adalah Arjuna? Tetapi enggak mungkin, karena dia tak pernah melakukan itu.' Seraya berdebat dalam hati, perasaanku semakin tak enak dan ingin mengecek. Dengan menutup badan menggunakan handuk, aku berjalan ke ambang pintu sembari menemui siapa gerangan di balik pintu luar. Ketika aku tiba, kemudian kubuka pintu dengan lambat. Di sana tak ada siapa pun, hanya bekas bungkus mi instan di atas meja yang tadinya telah dibeli oleh Arjuna. 'Enggak ada siapa-siapa, mungkin aku lagi berhalusinasi saja kali, ya?' tanyaku bermonolog. Setelah mandi, aku mengeringkan rambut sejenak sebelum ke luar dari ruang ganti. Dengan cepat, aku membuka celana dalamku dan sengaja kulempar di bak—tempat baju kotor lainnya. Kemudian, aku ke luar dan mendapati Arjuna tengah mendudukkan badannya di atas kursi. Padahal, tadi aku tak melihat dia ada di sana. Dengan sangat terkejut, langkah kaki serta tatapan sejurus pada remaja bercelana pendek itu. "Mama kenapa diam aja?" tanya Arjuna. "Ah, eng-enggak, Nak. Mama cuma ... cuma, kasihan liat kamu malam-malam makan mi instan. Iya, padahal mama udah masakin ayam goreng di lemari," titahku terbata-bata. "Lagi gak nafsu, Ma, makan ayam," jawab Arjuna, lalu dia pergi meninggalkan aku dan memasuki kamar mandi. Dengan tatapan penuh selidik, aku pun curiga akan gelagat sang anak yang mendadak melas dalam berkata. Saking keponya, aku tak melanjutkan langkah karena ingin melihat Arjuna yang tadinya memasuki kamar mandi. Bersama langkah gontai, aku pun tiba di ambang pintu dengan menatap mantap menuju ruangan terang dengan cahaya lampu berwarna putih. Dari lubang kecil di samping pintu, tetapan tercengang setelah mendapati Arjuna tengah memegang celana dalamku. Kemudian, Arjuna celingukan ke kanan dan ke kiri. 'Kok, Arjuna memegang celana dalamku untuk apa, ya?' tanyaku dalam hati. Tak berapa lama memegang celana dalamku berwarna hitam, dia pun menciumnya dan meletakkan di bagian d**a. Lalu, Arjuna membuka resleting celananya dan mengeluarkan rudal berukuran runcing dan tegap dari dalam celana. 'Astaga! Jadi ... Juna ingin juga berhubungan denganku. Kenapa kamu enggak bilang, sayang? Coba saja kamu datangi mama, pasti kita akan main kuda-kudaan malam ini. Hmmm ... lain kali akan mama paksa kamu untuk gagahi mama.' Selepas bergumam dalam hati, Arjuna pun meringis karena dia mengeluarkan cairan dari rudalnya tepat di celana dalamku. Barulah dia tampak sangat beraura dengan membuang senyum simpul pada celana dalam itu. Karena telah lama mengintip, aku pun kembali merubah posisi berdiri dengan menatap sekitar. Dengan langkah laju, aku bergerak dan melintasi koridor temaran untuk menuju kamar tidur. Setibanya di dalam kamar, aku menutup pintu dan mendudukkan badan seraya menatap cermin untuk merias wajah. Pantulan sosok diri tampak jelas, kalau keriput di pipiku tidak ada sama sekali. Sekarang, usiaku sudah menginjak di angka kepala tiga, akan tetapi masih awet muda dibandingkan dengan perawan masa kini. Untuk urusan miss V, aku merawatnya hingga merapat seperti perawan lagi. Karena Andre telah memuji, kalau ladang milikku masih sempit dan membuat rudalnya licet setelah menggoyang. Untuk perawatannya, aku selalu memberikan berbagai pengharum, agar siapa pun yang kelak akan memakainya, dapat ketagihan dan tidak bosan. Pernikahanku pada suami baru terbilang lumayan lama, hampir lima bulan. Namun, kami belum pernah bermain kuda-kudaan di atas ranjang. Apalagi suamiku harus bertugas ke luar provinsi, membuat diri ini kesepian dan selalu merindu akan sentuhan. Nafkah batin yang tak pernah aku dapatkan, membuat diri ini sangat nafsu jika melihat Arjuna—anak tiriku. Akan tetapi, aku masih menahan karena tak tahu kalau ternyata Arjuna menyimpan perasaan juga padaku. Terlihat jelas tadi di kamar mandi, kalau dia memuja celana dalamku hingga mensturbasi dan mengeluarkan cairan itu di permukaan kain saja. Selepas mengenakan celana dalam, aku pun tidur tanpa pakai bra sama sekali. Karena menurut dokter, kalau tidur tengah telanjang saja akan membuat tubuh sehat. Pagi telah tiba ... Belum pun lama menutup kedua bola mata, ayam jantan telah berkokok di luar rumah. Semburat arunika telah datang memasuki lubang ventilasi. Dengan bergegas ke luar kamar, aku mengambil bandana di tembok seraya memakainya. Mengikat rambut dengan rapi, kemudian bergegas menuju warung untuk belanja sayuran. Berjalan kaki kurang lebih lima menit, aku pun tiba. Di sana sudah ada orang-orang yang sedang berbelanja, ada juga Diman—lelaki yang sedari dulu sangat suka mencagil. Apalagi kalau aku yang berbelanja, dia selalu memberikan diskon jika istrinya tak ada di sekitar warung. Dengan langkah lebar, aku pun tiba di samping lelaki hidung belang itu. "Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Meski tak lagi janda, namun hadirnya selalu menebar pesona. Mirna cantik, belanja apa?" tanyanya. "Kasih aku telur, Bang," jawabku. "Berapa, Dek?" "Empat saja," kataku. Kemudian, Diman pun memasukkan telurnya di dalam plastik. Sembari menunggu telur, aku pun memilih sayuran. Lelaki berwajah humoris itu meletakkan dua butir telur di sampingku, lalu aku mengambilnya. "Bang, telurnya empat. Bukan dua," kataku. "Dek Mirna, itu ada dua. Yang dua lagi, ambil sendiri di bawah sini." Setelah berkata, Diman pun menoleh ke bagian bawah celananya. "Aku bilangi Bi Eem baru tau rasa kamu, Bang," pungkasku. "Halah-halah ... jangan atuh, Dek. Entar kalau dia datang, mana bisa kakang kasih diskon," celetuknya. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN