Bab 02

1101 Kata
Malam hari telah tiba. Selepas mandi dan membersihkan badan, aku ingin menuju ke dalam kamar. Pasalnya, sejak sore kamar mandi tidak berhenti karena Arjuna dan sahabatnya yang lalu lalang tanpa henti. Dengan menggunakan handuk sebagai kemban, aku melangkah laju mengenakan sendal jepit ke dalam kamar. Malam ini ingin rasanya memakai pakaian yang sangat seksi, karena udara akhir-akhir ini sangatlah gerah. Pilihan pun jatuh pada gestring berwana hitam, serta celana pendek hitam. Sebelum menggunakan pakaian tidur itu, aku mamanjakan badan dengan memberikan lotion ke sekujur badan, agar lembap dan kulit tak begitu bau keringat. Seharian ini, aku menghabiskan waktu dengan berberes, sehingga sangat sulit untuk mengontrol keringat yang hendak ke luar. Ketika selesai menggunakan lotion, aku memakai celana dalam dan gestring hitam. Kemudian, badan kembali mendudukkan diri di depan cermin berbentuk lingkaran. Tatapan pun sejurus seraya memandang pantulan sosok diri. Tak berapa lama, aku mengambil ponsel di atas nakas. Ternyata, pesan singkat dari suamiku yang tengah tugas di luar provinsi. Rutinitasnya setiap malam adalah bertaya kabar, memberikan perhatian sekadarnya lewat chat. Apalagi kalau sudah membahas anaknya, pasti akan lama dan berujung debat. Pasalnya, sang suami tidak begitu peduli dengan anak yang aku bawa, karena dia hanya fokus untuk menjadikan putranya sebagai angkatan darat. Ya, semua itu terjadi belakangan ini dan telah tertebak oleh nyata. Tepat arloji menunjukkan pukul 18.00 WIB, aku tak mendengar suara gitar dari dalam kamar Arjuna. 'Kok, mereka enggak bernyanyi lagi. Apakah ... Arjuna lagi ke luar, ya?' tanyaku dalam hati. Karena merasa sangat kepo, aku pun ke luar kamar untuk mengintip kegiatan sang anak dengan sahabatnya itu. Tapakan demi tapakan pun aku langkahkan, demi membayar lunas rasa kepo ini pada kedua remaja di dalam kamarnya. Suasana sunyi rumah membuat apa pun yang dilakukan akan terdengar oleh telinga. Karena di area kamar tak ada suara sama sekali, aku pun mencoba untuk meletakkan daun telinga di ambang pintu. 'Enggak ada suara apa pun, tetapi kenapa seperti ada orang yang sedang bergerak gitu, ya, di atas tempat tidur?' Selepas bertanya dalam hati, aku pun meninggalkan ambang pintu dan ingin bergerak menuju kamarku lagi. Namun, setelah aku berjalan dua langkah, suara orang yang mendesah terdengar sangat lirih dari dalam ruang sepetek milik anak tiriku. Seketika rasa penasaran pun menemui lagi, aku bergerak memutar badan seraya berjalan mundur. Menggunakan tangan kanan, aku mencoba membuka pintu secara perlahan. Terlihat jelas di kedua bola mata, kalau sahabat dari Arjuna tengah mensturbasi di atas ranjang dengan menatap ponselnya. Namun, Arjuna tidak ada di lokasi dan membuat aku celingukan ke kanan dan ke kiri. Setelah diri ini merasa aman, aku mencoba memberanikan diri memasuki ruang kamar. Karena lampu telah dimatikan, membuat suasana menjadi sangat temaram. Dengan menutup pintu, aku berjalan dan menemui remaja bernama—Andre itu. Setibanya di hadapan remaja berambut cepak itu, aku mendudukkan badan seraya menatap rudal miliknya yang telah runcing mengeluarkan pelumas di ujung kepala. "Kamu ngapain?" tanyaku. "Astaga!" Mendengar pertanyaanku, remaja di hadapan pun membuyarkan lamunan. Lelaki yang telah membuka celananya itu mendadak sangat takut. "Kamu jangan takut, enggak ada siapa-siapa, kok," kataku menjelaskan. "Tan, Tante? Kok, masuk kamar enggak permisi," jawab Andre sangat takut. Menggunakan jemari kanan, aku menutup mulut lawan bicara. Kemudian, aku berkata, "di mana Arjuna?" "Di-dia, ke luar, Tan. Katanya mau beli sesuatu di market," jawabnya terbata-bata. "Kamu ngapain melakukan ini? Lebih baik main sama tante, mau enggak?" tanyaku menawarkan. "Ma-main, Tan?" Tanpa menjawab, aku pun mengangguk seraya membuang tatapan penuh nafsu. Andre pun terdiam, dia hanya sekadar membungkam dan menelan ludah. Napasnya pun berubah menjadi ngos-ngosan. Kemudian, aku membuka bra yang kupakai agar terlihat p******a yang besar itu pada Andre. Mendapati hal tersebut, remaja di hadapan menatap mantap menuju payudaraku dan dia memalingkan pandangannya. Lalu, aku meraih tangan Andre dan meletakkannya di p******a sebelah kanan. "Tan, Tante! Nanti kalau Arjuna tau bagaimana?" tanyanya. "Udah ... kamu enggak perlu takut, kalau kita saling jaga rahasia pasti aman, kok," kataku. Andre pun kembali terdiam. Lalu, aku menarik leher lawan main untuknya menghisap p******a sebelah kananku. Tanpa basa-basi, remaja itu pun mau dan dia menghisap p****g tersebut hingga menciptakan kenikmatan tak terhingga. Sementara tangan kanannya aku tarik agar menyentuh ladang yang telah lama kering. Andre pun mengetahui berhubungan intim, mungkin karena telah terbiasa menonton video porno. Mendapati hal itu, aku pun mendesah dan menikmati permainan indah remaja berusia delapan belas tahun itu. Tanpa menunggu lama, aku membuka celana dalamku dan memerlihatkan lubang yang masih rapat dan terlihat sangat tebal itu. Dengan menelan ludah, Andre pun tak mampu berbuat apa-apa. "Dre, ayo, kamu tunggu apa lagi? Masukkan aja," kataku merayu. "Tapi, Tan? Entar kalau Arjuna sampai tahu bagaimana?" "Ah, kamu enggak jantan banget masih takut. Banci kamu, Dre, atau punya kamu enggak hidup?" Aku pun menantang Andrew agar dia memerlihatkan kejantanannya. "Enak aja, punya aku masih hidup, Tan. Ya, udah, aku tusuk, ya?" Kemudian, Andre pun memasukkan rudalnya ke dalam lubangku yang sudah merangsang dan mengeluarkan pelumas putih. Perlahan, kepala rudal lawan main terasa sangat sakit ketika masuk, karena benda pusaka itu lumayan besar. "Ah, Dre. Ayo, goyang sayang," kataku. Dengan meletakkan badannya di atas badanku, dia pun memeluk badan ini hingga habis. Ternyata, Andre jago dalam menyelami kenikmatan dunia. Desahan demi desahan pun kami nikmati malam ini. Karena suaraku terdengar sangat keras ketika mendesah, Andrew menciumnya dan mengemut hingga diri ini pasrah menikmati tusukan brondong yang nikmat itu. "Gimana, Tan? Enak enggak rudal aku?" tanyanya. "Enak sayang, ayo, goyang yang kencang," suruhku. "Tembak di dalam apa di luar, Tan?" "Tembak dalam aja, Drew, biar tante hamil anak kamu." "Ah, enggak. Aku masih belum mau jadi ayah, Tan," pekiknya. "Ya, udah, ke luarkan aja di mulut tante. Biar tante minum," kataku. Setelah bergoyang lumayan lama, Andre pun melepas rudalnya dan dia bergerak menuju kepalaku. Dengan membuka mulut sangat lebar, cairan miliknya pun muncrat di dalam mulut ini hingga mengeluarkan bau cinta. "Ach ...," ringis Andre keenakan. Karena pejuh itu telah penuh di dalam mulutku, kemudian aku menelannya dan terasa sangat nikmat. Andre yang telah selesai berhubungan intim, langsung menutup rudalnya dengan mengenakan calana jins biru. Aku pun mengambil tisu di atas meja dan menghapus cairan sisa dari rudal Andrew di pinggir ladang yang mulai basah. Akhirnya, malam ini kenikmatan tercipta dari teman sang anak tiri. Seketika aku mendudukkan badan seraya memperbaiki rambut, Andre pun mendekat dengan menatap mantap dari depan. "Tante, terima kasih telah memberikan aku kenikmatan," katanya. "Beres, yang penting sering-sering aja main ke rumah tante, nanti akan saya servis." "Benar, Tan?" tanyanya. Tanpa menjawab, aku pun mengangguk. Andre langsung mencium keningku dan dia membuang senyum bahagia. Karena suara motor milik Arjuna telah tiba di luar rumah, aku pun segera ke luar dan ingin kembali memasuki kamar tidurku. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN