KABAR MENGEJUTKAN
"APA?! KABUR?!"
Suara pekikan penuh keterkejutan itu menggema di seluruh penjuru ruangan bernuansa biru langit ini.
Rihanna, istri dari konglomerat kaya di Indonesia, menatap wajah suaminya, Pandu, dengan raut cemas.
"Pah! Gimana ini?! Para tamu udah pada dateng loh, Pah! Apa yang harus kita lakukan?!"
"Sabar, Mah! Sabar! Papah sudah suruh orang buat cari Claudia!"
Semua orang dewasa yang berada di sana sama-sama tak percaya mendengar kabar dadakan yang tak diinginkan ini.
Tidak ada masalah sebelumnya. Bahkan, semua berjalan dengan lancar sesuai rencana yang telah ditentukan.
Lalu, bagaimana mungkin pengantin wanita justru menghilang di detik-detik pernikahannya sendiri?
"Biar Davka cari!"
Sang mempelai pria hendak melangkah pergi, namun sengaja dicegah oleh Pandu.
"Tidak! Kamu tetap di sini! Papah tidak mau kalau kamu juga ikut melarikan diri!"
Kadavka Baskara, pria ber-tuxedo dark grey itu menaikkan sebelah alisnya. Apa kata ayahnya tadi?
Ikut melarikan diri?
Untuk apa Davka lakukan itu?
Sudah sejak lama Davka menanti hari bahagia ini. Lalu, kenapa dia harus kabur juga?
Paramitha, ibu dari pengantin wanita yang tiba-tiba dinyatakan hilang, menggigit bibir bawahnya.
Jujur, dia tidak menyangka jika puteri sulungnya, Claudia Amoora, akan berbuat luar biasa gila!
Apa Claudia tidak memikirkan nasib pesta pernikahan yang sudah dilukis semewah dan semegah ini?
"Maafkan aku, Anna. Aku sungguh tidak tahu jika Cla-"
"Kenapa jadi seperti ini, Mith? Kenapa? Apa salah puteraku pada puterimu?" desaknya lirih.
Hati Mitha remuk melihat kesedihan yang terpancar di bola mata sahabat baiknya, Anna.
Niat hati ingin merekatkan hubungan persahabatan dengan menikahkan Davka dan Claudia yang telah lama menjalin hubungan, tapi kini justru berakhir runyam.
"Apa sebenarnya mau Claudia, Mith? Dia cinta pada Davka kan? Lalu kenapa dia meninggalkan Davka?!"
Rentetan pertanyaan yang keluar dari mulut Anna berhasil membungkam Mitha. Jujur saja, Mitha juga tidak mengerti alasannya.
Karena setahu Mitha, puteri sulungnya itu cinta mati pada Davka.
Pandu menggeram tertahan. Dia menyugar rambutnya frustasi.
"Ini bukan waktu yang tepat untuk mengintrogasi Mitha! Tamu undangan sudah menunggu! Pendeta juga telah tiba! Kita harus temukan solusi lain!"
Davka menyorot tajam wajah gusar sang ayah, "Tidak ada solusi yang lebih baik selain membatalkan pernikahan ini!"
"Apa kamu tidak waras hah?!" bentak Pandu menggelegar.
Telunjuknya bahkan mengacung lurus ke arah Davka, "Jangan semakin membuat Ayah emosi, Davka!"
"Nama baik Keluarga Baskara sedang dipertaruhkan sekarang! Hanya orang gila yang siap menerima hujatan kolega besar!"
Davka mengumpat kasar di dalam hatinya. Selain hilang respect pada keluarga sahabat ibunya ini, Davka muak dengan ucapan Pandu.
Apa hanya reputasi saja yang pria gila status itu pikirkan?
Bagaimana dengan perasaannya pada Claudia?
Sialan memang!
***
"Udah selesai, Mbak."
Tatapan netra bulat itu tertuju pada cermin yang melukis wajah cantik berpoleskan make up natural.
Meski sudah terlihat sangat cantik, gadis bergaun peach itu mendesah kesal. Sepertinya, ada yang tidak dia sukai.
"Oh ayolah! Aku ini mau jadi bride maid! Bukan lari jual diri! Kenapa menor banget lipstick-nya?! Ganti warna lain!"
Protesan yang terlontar membuat wanita seperempat baya yang berprofesi sebagai MUA itu menggeledah isi koper make up-nya.
"Aduh, maaf, Mbak Clarissa. Nggak ada warna yang lain. Itu aja udah yang paling kalem," jelas si MUA.
Clarissa Amoora, gadis dua puluh satu tahun, mendelik tajam. Bisa-bisanya warna menor ini dibilang 'paling kalem'?!
Wajah Clarissa berubah kecut, "Tapi ini mencolok banget, Mbak!"
"Mataku aja sampai perih ngelihatnya tahu!"
Si MUA meringis kecil. Sebelumnya, dia sudah diberi tahu jika adik pengantin wanita yang satu ini anti sekali dengan make up.
Karena itulah, dia sudah tidak kaget dengan ucapan ceplas-ceplos khas mulut Clarissa.
"Terus gimana, Mbak? Waktunya juga udah mepet banget. Tak-"
"Iya-iya! Nggak usah diingetin lagi!" sela Clarissa dongkol.
Dengan raut tertekuk, Clarissa bangkit dari kursi meja rias ini. Pegal dan dongkol menyatu sempurna.
Andai saja ini bukan permintaan Claudia tuk jadi bride maid-nya, malas sekali Clarissa berdandan menor seperti ini!
"Eh, Mbak! Heels-nya belum dipake!"
Teriakan itu menghentikan langkah Clarissa. Mood-nya semakin hancur tatkala si MUA menyodorkan sepatu kerlap-kerlip dengan hak tinggi.
"Ini mau jadi bride maid atau model catwalk sih?!" sungut Clarissa.
Lagi-lagi, si MUA meringis mendengar kalimat pedas yang terlontar dari mulut Clarissa.
"Maaf, Mbak. Biar nanti tingginya nggak jom-"
"STOP! JANGAN DILANJUTIN!"
Tanpa diberi tahu, Clarissa sudah mengerti ke mana arah pembicaraan si MUA menyebalkan ini!
Ya apalagi kalau menyinggung perkara tinggi badan?
Pada umumnya, kakak akan jauh lebih pendek daripada adiknya. Namun yang terjadi pada Clarissa dan Claudia justru sebaliknya.
Claudia itu persis model anggun dengan tinggi semampai juga badan bak gitar spanyol.
Tapi dia?
Jika disandingkan dengan Claudia, Clarissa sadar kalau dia mirip kurcaci putri salju.
Pendek! Iya pendek!
Puas kalian hah?!
Clarissa mendengus kasar, "Sialan!"
"Gue benar-benar benci hari ini!"
***
KAMAR PENGANTIN
Tulisan caps lock berwarna hitam itu terpampang nyata di depan sebuah pintu bercat merah muda.
Kedua tangan Clarissa bersedekap di depan d**a. Ini sudah hampir jam delapan, tapi Claudia masih setia menutup pintu kamarnya?
Decakan kasar menyeruak "Dasar ribet!"
"Awas aja kalau masih sibuk touch up terus!"
Tanpa permisi, Clarissa mendorong knop pintu kamar sang kakak. Maklum, sudah terbiasa sejak kecil bersikap bar-bar.
"Ya elah, Clau! Lama am—Loh?! Lagi pada ngapain di sini?!"
Clarissa menatap cengo ke semua orang yang tiba-tiba saja hadir di kamar kakaknya.
Satu per satu wajah ditatap Clarissa. Mulai dari sang ibu, calon mertua Claudia, dan Da—ah siapa namanya kekasih Claudia itu?
Aih, Clarissa lupa!
Back to earth!
Menyadari ekspresi gusar, gundah, dan sedih terbaca dari wajah mereka, kening Clarissa mengerut bingung.
"Apa aku ketinggalan sesuatu?"
Mitha melangkah menghampiri Clarissa. Raut wajahnya pun terlihat memerah.
"Ketuk pintu dulu, Nak! Bunda nggak pernah ajarkan kamu asal nyelonong masuk!"
Ringisan kecil tercetak di bibir Clarissa, "Maaf, Bun."
"Aku kira Kak Clau udah nunggu lama, jad-"
"Dia saudari kembarnya Claudia?" sela Pandu dengan raut wajah serius.
Baik Paramitha, Anna, dan Davka sama-sama menoleh ke arah Pandu. Kenapa tiba-tiba Pandu menanyakan itu?
Tangan kanan Anna menyentuh bahu suaminya, "Ada apa, Pah?"
"Bukankah wajahnya mirip dengan Claudia sudah jadi jawaban yang jelas?"
Pandu manggut-manggut, "Jadi, dia Clarissa Amoora?"
Kali ini, Mitha yang menyahut, "Iya."
"Mereka kembar identik. Hanya saja, karakter mereka berbeda."
"Wah benarkah? Tapi kurasa, dia gadis yang baik dan sopan."
Perasaan Davka mulai tidak enak. Dia adalah laki-laki dan tentu saja mengerti maksud air muka ayahnya yang seolah tengah merencanakan sesuatu.
"Sepertinya, aku sudah menemukan solusi atas masalah kita," cetus Pandu dengan garis senyumnya.
Kening Anna mengernyit dalam, "Maksudmu?"
Langkah kaki Pandu mendekat ke arah gadis bergaun peach itu. Sorot matanya lurus dan lekat.
"Clarissa, boleh Om bertanya padamu?"
Bukan hanya Davka yang sudah menebak-nebak, firasat Mitha sebagai seorang ibu-pun mulai tak karuhan.
Suami sahabatnya itu tidak sedang berpikir macam-macam kan?
Gadis muda itu mengerjapkan kelopak matanya. Calon ayah mertua Claudia mengajaknya bicara?
Tapi, ada apa?
Kenapa perasaannya mendadak ketar-ketir begini?
Kedua tangan Pandu bersedekap d**a, "Seberapa sayang kamu dengan kakakmu, Claudia?"
"Pah! Maksud Papah apa sih?!" tegur Anna.
Pandu mengangkat tangan kanannya, "Aku bertanya pada Clarissa. Jadi, yang lain silakan diam!"
Susah payah Clarissa meneguk ludahnya. Aura tegas yang membingkai pria paruh baya ini membuatnya gelagapan.
'Aish! Kenapa calon ayah mertua Kak Clau galak banget sih?!' rutuk Clarissa di dalam hati.
Pandu melambaikan telapak tangannya di depan wajah Clarissa, "Hey, Nak?"
"Kamu mendengar pertanyaanku kan?"
Clarissa meringis kecil, "Maaf, Om."
"Walaupun kami sering cek-cok, tapi tidak ada takaran persen untuk kasih sayang pada saudara sendiri."
Mendengar jawaban Clarissa, seulas senyum terbit di bibir Pandu. Dugaan awalnya benar.
"Baguslah kalau begitu. Itu artinya, kamu akan melakukan apa saja untuk Claudia bukan?"
Helaan napas berat menguar, "Itu mah jangan tanya lagi."
"Aku bahkan rela jadi bride maid-nya padahal Kak Clau tahu aku benci make up!"
Senyuman Pandu kian lebar. Kekhawatirannya mendadak luntur setelah mendengar ucapan Clarissa.
"Itu bagus sekali, Nak. Om bisa menaruh percaya padamu."
Kemudian, Pandu mengalihkan pandangannya ke arah sang putera, "Davka."
"Ayah sudah dapat pengantin pengganti untukmu!"
Tangan kanan Pandu mengelus puncak kepala Clarissa, "Iya kan, Nak?"
"Sekarang kalian bersiaplah. Lima menit lagi, kalian harus segera naik ke altar!"
Sontak saja, semua pasang mata mendelik kaget. Tak terkecuali Clarissa Amoora.
"Hah?! Maksud Om gimana?!"
Pandu menepuk pundak Clarissa, "Seharusnya kamu sudah tahu maksud perkataan Om."
"Karena Claudia melarikan diri, maka biarlah kamu yang gantikan posisinya."
Seketika, bola mata Clarissa membulat sempurna, "APA?!"
"KAK CLAU KABUR?!"