Brianna membiarkan ponsel menempel di telinga kirinya, satu bahunya sedikit terangkat untuk menyangga benda pipih itu. Dia sedang melakukan panggilan, tapi hebatnya dia lupa membawa serta headsetnya. Membuat dia harus menahan pegal pada tubuhnya atas apa yang dia lakukan. Karena teman meneleponnya sungguh menyebalkan.
"Sharon, aku sudah dengar dari tadi. Kau terus mengulang kalimat yang sama," kesal Brianna tidak bisa menahannya. Bahkan dia lupa sedang ada di mana dia sekarang. Bukan tempat dia dengan leluasa bisa mengeraskan suaranya.
Brianna menatap sekeliling dan benar saja, beberapa pasang mata telah menatap padanya. Brianna rasanya ingin mengutuk Sharon dan segala kecerewetannya.
Sharon adalah teman sekamarnya. Gadis itu harusnya ada di rumah kekasihnya, dia bilang mereka berdua memiliki rencana yang hebat. Di mana rencana itu mengharuskan Sharon menginap, jadi Brianna dengan senang hati akan menguasai kamar mereka sendiri.
Tapi sialnya, Sharon malah pulang dengan tangan memegang perut dan wajah pucat. Brianna terkejut, takut kalau Sharon kenapa-kenapa. Jawabannya datang dengan cepat dan Sharon memberitahunya kalau dia datang bulan. Segala rencana yang telah dia susun matang-matang dengan kekasihnya hancur total. Hanya karena cairan merah yang keluar di antara pahanya, pria itu meminta Sharon pulang saja. Pria berengsek.
Apa pria memang seperti itu? Maunya enak saja, pas harus merawat malah dia angkat tangan. Brianna merasa kesal pada pria itu dan tentu saja pada Sharon karena memiliki pria seperti itu.
Brianna tidak pernah menjalin hubungan semacam itu. Dia tidak pernah punya pacar, terlalu banyak hal yang dia pikirkan jadi dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan orang lain, apalagi untuk menjalin hubungan seperti itu. Brianna tidak pernah memikirkannya.
"Aku sudah membelinya, Sharon. Tenanglah. Aku akan segera pulang dan membantumu mengompresnya."
Suara Brianna di perkecil. Dia tidak mau mata-mata itu kembali menatap dia dengan protes. Dia sedang ada di supermarket yang cukup jauh dari rumahnya, jadi dia datang membawa mobil Sharon yang sudah tua. Brianna sendiri tidak memiliki mobil, jangan tanya. Dia terlalu miskin untuk bisa memikirkan membeli mobil.
"Aku sudah dijalan pulang. Aku selesai." Brianna mengambil plastik belanjaannya dari tangan kasir. Setelah mengucapkan terimakasih, gadis itu berlalu keluar.
Brianna mencari kunci mobil di tasnya. Ponsel masih ada di telinganya karena Sharon tidak terlihat ingin menyudahi percakapan mereka padahal Brianna telah mengatakan dia akan pulang. Teman sekamarnya memang semenyebalkan ini.
"Cari tanpa ponsel mengganggumu."
Brianna tersentak, langsung memutar tubuhnya dan sentakan kedua terjadi di tubuhnya saat dia melihat siapa yang berdiri di depannya. Ponselnya jatuh mulus dari telinganya, gadis itu sangat sadar apa yang membuat ponsel itu kehilangan pegangan tangannya. Pastinya karena tatapan mata hijau gelap itu.
"Mr. Kando..." Brianna terkejut suaranya tidak terjepit lidahnya sendiri.
Devian menatap Brianna dengan senyum tipis di bibirnya. Memberikan Brianna ponselnya yang berhasil di tangkapnya sebelum ponsel itu jatuh dan tentu saja membuat kerusakan tidak perlu.
Setidaknya Devian sudah menyelamatkan Brianna dari mengeluarkan uang untuk perbaikan ponsel. Walau tidak juga bisa dipungkiri karena ulah pria ini jugalah ponselnya jadi jatuh. Meskipun respon terkejut berlebihannya yang membuat ponselnya seperti itu, tapi tetap saja...
"Tidak mau mengambilnya?" Devian memiringkan kepalanya. Menatap Brianna dengan penuh.
Gadis itu berdehem. Segera menyadarkan dirinya dari hipnotis pria tampan di depannya. Tangannya telah bergerak mengambil ponsel itu dan sedikit meremas benda itu, menyalurkan segala apa yang tidak bisa dia salurkan dengan terang-terangan.
"Apa yang kau beli?"
Brianna sedikit aneh. Sejak kapan seorang Devian ingin tahu tentang dirinya. Mereka bertemu tadi pagi, jelas Devian tahu kalau Brianna takut padanya. Bahkan pria itu sendiri menyatakan semua itu, tapi kenapa sekarang Devian seakan ingin membuat Brianna menatapnya dengan berbeda. Jika ini cara Devian agar Joseph memberikan nilai buruk untuknya, maka Devian salah orang.
"Hanya barang perempuan, Mr. Kando. Kalau begitu saya permisi..."
"Kau belum menemukan kuncimu."
Brianna menatap Devian dengan senyum yang di paksakan. Dia tidak perlu di ingatkan, dia sudah tahu. Gadis itu tidak mengatakan apapun saat tangannya sudah masuk ke tasnya dan mulai mencari kunci itu di tasnya.
Beberapa detik di pakainya untuk mencari kunci itu dan tidak menemukannya. Bahkan dia akan siap membuat seluruh isi tas itu keluar semua seandainya Devian tidak ada di sana. Ke mana kunci mobilnya.
Kesal Brianna menatap mobilnya dan berpikir apa yang harus dia lakukan saat kunci itu entah hilang ke mana. Dia sangat ingat menaruh benda itu di tasnya dan sekarang kuncinya hilang. Hebat. Semakin hebat karena orang yang ingin dia hindari masih berdiri di depannya dengan menunggu.
"Kau tidak menemukannya?" tanya Devian.
Brianna masih memberikan senyum palsu pada pria itu. "Sepertinya tertinggal di dalam. Saya akan pergi melihatnya."
Brianna sudah akan melangkah meninggalkan Devian, dia bisa memikirkan cara pulang nanti saat Devian sudah bisa di hindarinya. Tapi sekarang yang harus dia pikirkan hanya cara menjauh dari pria yang bisa mengancam nilainya.
Langkah Brianna terhenti saat Devian tanpa peduli pendapatnya berdiri di hadapannya. Menghadang lajunya. Tatapannya jatuh pada Brianna dengan cara paling membuat Brianna merasa, pria ini harus di hindari. Bukan lagi karena nilainya. Tapi ada alarm peringatan di kepalanya yang tidak bisa dia hentikan. Alarm itu ada sejak pertemuan pertama mereka. Itu mengganggu.
Devian yang mungkin sadar cara impulsif nya menyebabkan Brianna takut, mulai mundur satu langkah. Tatapannya jatuh lembut pada Brianna.
"Maaf, aku hanya ingin mengatakan kalau Hendrik sudah mencarikannya untukmu."
"Hendrik?"
"Sir, saya menemukannya?"
Bertepatan dengan tanya Brianna yang meluncur, satu sosok datang mendekat pada mereka. Memberikan kunci di tangannya pada Devian dan kemudian menyingkir. Pergi seperti dia tidak pernah ada.
"Kuncimu."
Brianna mengerut. "Bagaimana kau tahu?" Gadis itu mengambil kunci dengan sentuhan yang sangat dicobanya dia hindari.
"Masuklah ke mobilmu. Ini sudah malam dan hati-hati."
Tidak ingin memperpanjang kebersamaan mereka, Brianna mengangguk dan masuk ke mobilnya. Devian berdiri di samping mobil dengan tatapan masih tertuju pada gadis itu. Tatapan dalam mengancam.