Devian berdiri di depan kobaran api yang tengah di lalap si jago merah. Matanya yang gelap karena cahaya redup tampak puas, bahkan ada senyum di sudut bibirnya dengan pemandangan di depannya. Satu tangannya ada di saku celananya dan satu lagi ada di pingganya. Penuh dengan kepongahan pria itu berdiri di depan kobaran api yang melahap habis rumah di depannya. Menyisakan hanya tinggal kerangkanya. "Sir," sapa Hendrik yang datang mendekat. "Kerja bagus, Hendrik. Kau tidak pernah begitu memuaskanku sampai dengan detik ini." "Terimakasih, Sir. Saya juga ingin melaporkan hal penting." Devian memutar tubuhnya. Melihat Hendrik dengan tatapan datar. "Katakan," "Ms. Clinton akan ikut dengan kekasihnya untuk tinggal bersama dan Ms. Elois sepertinya masih bingung di mana dia akan menetap untuk s

