Setelah menemui Lia di rumah sakit semalam, pagi ini Ranjiel dan Niel kembali ke sekolah. Mereka diantarkan oleh Razka dan kedua orang tua mereka. Semua orang yang melihat kehadiran Ranjiel dan keluarganya langsung mengalihkan fokus. Mereka nyaris tak bisa berkedip kala melihat satu per satu wajah tiga saudara itu. Bagi kelas sebelas dan dua belas jelas sudah mengenal siapa itu Razka, tetapi tidak bagi kelas sepuluh. Mereka malah terpesona, dan berharap Razka juga akan menempuh pendidikan di Algateri. “Keknya lo punya fans terselubung,” ujar Ranjiel. Razka yang mendengar penuturan adiknya melirik. “Nggak penting ah, jaman gue udah nggak ada lagi.” Niel yang mendengar ucapan Razka menyeringai. “Sekolah lagi aja, mulai era baru.” Razka yang mendengar ucapan Niel merengut. “Bocah lo, g

