Ranjiel dan Niel baru saja tiba di rumah sakit, mereka langsung menuju ke ruangan tempat Lia di rawat. Tidak ada pembicaraan yang mereka lakukan, yang ada hanya langkah kaki serempak. Dua bersaudara itu masuk ke dalam lift, mereka kemudian saling tatap, dan segera keluar kala lift berhenti dan pintunya terbuka. “Cewek rela mau mati demi lo. Nggak niat kasi kesempatan?” tanya Niel. Ranjiel berhenti, ia melirik adiknya. “Gue nggak ada niat balikan. Makin hari kelakuan tu cewek makin nggak jelas, dan gue juga udah lama nggak ada rasa ama dia.” Niel yang mendengar ucapan Ranjiel tersenyum. “Gue bangga punya sodara kek elo. Nggak jilat ludah sendiri, tetep teguh ama pendirian lo.” Ranjiel yang tak ingin banyak bicara segera melanjutkan langkah. Cowok itu segera menghampiri ruangan yang Lia

