Lia baru saja membuka mata, wajahnya begitu pucat, dan ia merasa tubuhnya begitu lemas. Cewek itu menatap sekitar, ia kemudian melihat pembantu di rumahnya sedang tidur dalam posisi duduk, dan ada juga teman-teman satu asramanya yang sedang bicara sambil menikmati makanan di ruangan tersebut. Lia menatap jam pada nakas, sekarang baru pukul tujuh malam, dan ia sadar jika gagal melakukan aksi bunuh diri. Cewek itu menarik napas panjang, ia meneteskan air matanya lagi. Rasa bersalah masih terus membayanginya, rasa kehilangan juga masih terus berteriak dan mengatakan dirinya bodoh. Lia mencoba mengamati sekitar, ia terpaku pada satu sosok yang terlihat duduk sambil memainkan ponselnya. “A-njiel?” gumam Lia. Semua teman-temannya yang tadi agak sibuk dan tidak memerhatikan Lia mengalihkan f

