Nindy

1286 Kata
Renata segera bergegas ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya. Setelah mandi Renata melihat jam sudah menunjukkan pukul lima sore dan sebentar lagi papanya pulang kerja sekitar pukul tujuh malam. Renata segera turun ke bawah dengan menggenakan baju putih bermotif teddy bear dan celana panjang longgar berwarna hitam. **** Dia melihat mamanya sedang menata meja makan, Renata segera menghampiri mamanya. "Rere tolong ya ma?"ujar Renata dengan mengambil piring di dapur dan menatanya di atas meja. "Yaudah, habis ini kita makan sama-sama ya."jawab Anna dengan tersenyum. Anna memperhatikan Renata yang tengah menata meja makan, Anna sangat menyayangi putrinya ini apalagi ia tau kalau Renata punya riwayat penyakit jantung yang di deritanya sejak lahir, dokter mengatakan penyakitnya akan sembuh jika Renata menemukan pendonor jantung yang cocok untuknya. Tiba-tiba ketika mereka tengah sibuk mempersiapkan makan malam. Munculah laki-laki separuh baya,berkulit sawo matang, bertubuh kekar, dan berkumis tipis yang berjalan menghampiri mereka. Dia pak Arya papanya Renata, "Hmm baunya enakk bangett bikin perut papa tambah laperr"ujar Arya tersenyum. "Eh papa udah pulang."ucap Anna memandang Arya yang berdiri disampingnya. "Ayo pa kita makan sama-sama"ajak Renata sembari duduk. **** Setelah selesai makan malam Renata memutuskan untuk pergi ke kamarnya lebih awal, dan seperti biasa Renata segera menghempaskan tubuhnya di kasur empuknya itu dengan memegang sebuah novel. Renata memang sangat suka membaca apalagi itu buku novel. Saat tengah asik membaca, handphone Renata tiba-tiba berdering, dilayar hpnya tertera. Nindy Is calling Dengan cepat Renata segera menggeser tombol hijau di handphone nya. "Hallo, assalamualaikum..ada apa nin?"tanya Renata dengan nada suara rendah. "Waalaikumsalam...Lo lagi dimana Re"? "Gue dirumah"ucap Renata singkat. "Oiya gue boleh nginep di rumah lo gak?"tanya Nindy dengan nada suara serak. "Ya boleh lahh, by the way emang ada apaan? Lo lagi ada masalah sama Reno?"tanya Renata memastikan. Reno adalah pacar Nindy "Oke dehh, kalau gitu gue otw sekarang ya" Tut tut tut.... Pertanyaan Renata belum dijawabnya dan teleponnya langsung dimatikan Nindy secara sepihak. **** Sesampainya Nindy di depan rumah Renata, dia segera menekan tombol bel. Tinggg Tonggg... Anggap aja suara bel ya guys Tapi tak ada juga yang membukakan pintu mungkin karna hari sudah larut malam . Nindy pun segera mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan dan langsung mengirimkannya kepada Renata. •Renata Re, gue udah di depan rumah lo ni **** Tak lama, Renata mendapatkan pesan dari Nindy. Dia langsung segera turun ke bawah, Renata pun membukakan pintu dan mempersilahkan Nindy masuk. Renata terkejut karna melihat Nindy ke rumahnya membawa koper yang mungkin berisi bajunya. Tiba-tiba Nindy langsung memeluk Renata dengan disertai tangisan kecil. Munculah pertanyaan heran dikepala Renata. "Apa yang membuat Nindy tiba-tiba ingin menginap di rumahnya apalagi dia kesini dengan keadaan terpukul." Batin Renata. Renata mencoba menenangkan Nindy dan mengajaknya mengobrol di kamarnya. "Nin lo kenapa? kita ngobrol dikamar gue yuk"sembari merangkul temannya itu. Nindy adalah sahabat smp Renata Tetapi sekarang mereka sudah beda sekolah, walaupun sudah beda sekolah, persahabatan mereka tetap baik-baik saja dan mereka tidak pernah memutuskan komunikasi, Nindy juga sudah sangat dekat dengan kedua orang tua Renata. **** Setibanya di kamar "Lo kenapa sih Nin, lo ada masalah apa? " "Gue..._gue gak kuatt Re,"jawab nindy dengan terisak. "Gak kuat gimana? lo bisa cerita kok sama gue."ujar Renata dengan mengusap-usap pundak sahabatnya itu. "Jadi gini Re, mama sama papa gue tu, berantem trus di rumah dan konsentrasi belajar gue jadi hilang, mereka berantem hampir setiap hari dan gue gak tenang kalo di rumah Re,"ucap Nindy dengan suara rendah dan menunduk. "Ooo jdi masalah keluarga, yaudah kalo gitu lo bisa kok tinggal di rumah gue buat sementara waktu, sampe orang tua lo baikan lagi"usul Renata dengan senyum manisnya. "Jadi gue boleh nginep di rumah lo Re? Trus gimana mama sama papa lo, apa mereka ngizinin gue disini? "tanya Nindy dengan sedikit ragu. "Iya nin, soal mama sama papa biar gue yang ngatur, ntar gue bakal coba ceritain masalah lo sama mereka dan gue yakin, pasti mereka juga gak keberatan kalo lo disini"ujar Renata meyakinkan Nindy. Tiba-tiba nindy memeluk Renata "Makasih banyak ya Re, lo emang sahabat gue yang paling baikk" "Iya sama-sama Nin, sekarang lo istirahat aja disana"dengan menunjuk kasur Renata yang berukuran king size. ***** Dering suara alarm membuat Renata tersentak dari tidurnya dan dilihatnya, sudah menunjukkan pukul lima lewat dua puluh menit, dengan secepat kilat Renata segera lekas masuk kamar mandi Setelah selesai mandi, mata Renata tertuju ke arah kasur dimana Nindy tidur, Renata terkejut karna Nindy sudah tidak ada di tempat tidurnya, Renata segera turun kebawah. Sudah siap dengan seragamnya yang seperti biasa ia akan pergi kesekolah. Seperti yang dilihatnya pagi ini, Nindy sudah siap lebih awal darinya dan dia mendapati Nindy dan juga mamanya yang tengah mengobrol di ruang tv. "Hii mah," "Hii Nind, " Namun mereka tak mengubris sapaan Renata, dan sekali lagi ia mencoba untuk memanggil mereka dengan suara lantangnya. "MAMAH.." "NINDY.. " Dengan suara teriakan tadi membuat keduanya terkejut dan langsung melirik ke sumber suara tersebut yang tak lain Renata. "Ehh lo Re, bikin gue kaget aja dateng-dateng langsung teriak-teriak gajelas, pagi-pagi lo udah bikin kuping gue panas, tau gak." "Abisnya kalian serius bangett ngobrolnya, padahal udah dari tadi gue manggil tapi gaada yang dengerr"omel Renata memanyunkan bibirnya dan melipatkan tangan di d**a. "Udah-udah jangan pada ributt, liat tuh udah jam berapa, emang pada gak mau sarapan dulu?"ujar Anna sembari menoleh ke jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam lewat tujuh menit. "Ma, papa kemana??gak gabung sarapan?"tanya Renata sembari menyuap roti selainya. "Oiya, mama lupa ngasih tau kamu, papa kamu udah pergi dari subuh soalnya ada meeting mendadak dikantor" Renata pun mengangguk mengerti, karna tak heran papanya memang orang yang selalu sibuk karena pekerjaan. **** Usai sarapan Renata dan Nindy bergegas untuk segera berangkat pergi sekolah. "Rere, kali ini kamu dianter sama pak Deden ya sayang"ucap Anna dengan penuh pengertian. Pak Deden adalah supir pribadi keluarga Zein, karna jika papanya Renata keluar kota atau ada urusan kantor yang mendadak, pasti pak Deden lah yg akan anter jemput Renata ke sekolah. "Oke ma, Rere berangkat sekolah dulu ya" sembari mencium punggung tangan Anna dan diikuti dengan Nindy. "Nindy juga berangkat dulu ya tante," "Iya kalian berdua hati-hati ya." **** Saat di atas mobil "Pak anter temen saya dulu ya pak ke SMA Bhakti." "Loh emangnya gak satu sekolah non?"tanya pak Deden yang tengah menyetir. "Gak pak, oiya pak satu lagi ntar pas pulang sekolah, gak usah jemput Rere ya pak, soalnya Rere pulang agak telat sekalian mau ngerjain tugas kelompok." "Trus non Nindy, gimana non?" "pak Deden langsung jemput aja ke sekolah Nindy," "Oh oke siap non," ***** "Udah sampe non Nindy," "Eh iya pak, makasih ya pak Deden, saya duluan pak, Re gue duluan yaa,"pamit Nindy sembari melambaikan tangan dan bergegas pergi. Ketika sedang dalam perjalanan ke sekolah, Renata tak sengaja melihat om Feri papanya Nindy, yang keluar dari minimarket,tetapi anehnya dia disana tidak bersama tante Dewi mamanya Nindy tapi sama perempuan lain. Aneh, rasanya Renata tak asing lagi dengan perempuan itu, tapi dia tidak mengingat siapa perempuan yang bersama papanya Nindy itu. "Itu kan om Feri, loh kok dia sama perempuan lain dari gaya pakaiannya aja udah keliatan banget kalo itu bukan tante Dewi, apa penglihatan gue salah?"batin Renata. **** "Udah sampe non," Renata termenung, mungkin karna masalah yang dilihatnya tadi dan dia tidak mengubris ucapan pak Deden. Karna tak ada jawaban, pak Deden pun mencoba memanggil Renata dengan nada suara agak besar. "Non Renata, kita udah sampe," Sontak suara pak Deden membuyarkan lamunan Renata. "Eh iya, maaf ya pak tadi gak kedengeran,"ujar Renata terkekeh dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Iya non gak apa-apa, lain kali jangan melamun pagi-pagi, gak baikk nanti kesambet loh, lagi mikirin cowok ya non?"goda pak Deden dengan tersenyum. "Apaan sih pak deden, siapa juga yang mikirin cowok, yaudah makasih ya pak"sembari mengerucutkan bibirnya dan melenggang pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN