Akrab

1377 Kata
Kedua gadis itu pun berjalan meninggalkan toko ice cream, dan menuju ke toko baju tempat orang tua mereka. Setelah tiba di tempat toko baju tadi, mereka sama sekali tidak menemukan sosok kedua wanita paruh baya yang  mereka cari. Rasa gelisah dan bingung pun menghantui pikiran Renata, lalu bagaimana dengan pemikiran Violin,? apakah dia merasa ketakutan juga? "Kakk Rere, mamah aku kemana, kok gak ada disini,?"tanya gadis mungil, dengan mendongak ke atas untuk menunggu jawaban dari Renata, sekarang Violin sedang dalam genggaman tangan Renata. "Aduhh gue harus ngomong apaa ya sama Vio, sedangkan gue sendiri aja gak tau, keberadaan mama sama tante Sarah sekarang, tapi gue gak boleh keliatan gelisah juga sih didepan Vio, takutnya ntar dia makin ketakutan." batin Renata. "Kakk mamah aku kemanaa kakkkk, kakak kok diem ajaa sih!"rengek Vio seraya menggoyang-goyangkan tangan Renata. Renata pun berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Vio. "Vio cantik, kamu tenang dulu ya, jangan panik, mamah kamu mungkin aja lagi ke toilet, gimana kalo kita beli itu dulu," Renata pun menunjuk kearah penjual harum manis yang berada di sekitar area mall. "Kamu suka harum manis kan,?" Dengan cepat Violin mengangguk, dan entah kenapa mendengar suara ajakan yang lembut dari Renata, Violin merasa nyaman dan langsung menurut. "Nah gitu dong, yaudah kita kesana yaa," Setelah selesai membeli harum manis, Renata pun memutuskan untuk menghubungi mamanya. Tutttt... Tutt... "Hallo," "Hallo mah, mama lagi dimana sekarang,?" "Mama lagi di toko Roti O, tempatnya gak jauh dari toko baju tadi kok, kamu udah siap beliin Vio ice cream,?" "Udah mah, yaudah kita kesana sekarang ya mah," telpon pun diakhiri Anna. Renata tak menyadari bahwa Vio mendengarkan dia yang sedang menelpon dengan Anna. "Gimana kak? kata tante Anna apa,?" Renata yang mendengar itu hanya tersenyum "Kita disuruh ke toko yang ada disana sekarang, yukkk"sembari menunjuk ke arah toko roti yang tak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. "Ohh oke kak, tapi mamah aku beneran disana kan kak,?" Renata membalasnya dengan anggukan dan senyum kearah Vio. Setelah sampai didepan toko roti, Violin segera masuk dan berlari ke tempat duduk mamanya yang berada paling depan. Hosh hosh... terdengar jelas suara nafas Violin yang terengah-engah karna habis berlari. "Mamahh kok ninggalin kita sih,"ucap Violin mengerucutkan bibirnya dan melipat tangannya di d**a, karna itu yang biasa Violin lakukan jika dia merasa kesal. "Duhh maafin mamah ya sayang, lagian kan ada kak Rere yang jagain kamu, udah dong jangan ngambek lagi."bujuk Sarah dengan mengelus puncak kepala Violin dengan lembut. Kali ini Anna yang membuka suara untuk mencairkan suasana,"Violin cantik, kamu tadi jadi kan di beliin ice cream sama kak Rere,?"tanya Anna kearah Violin, yang keliatannya masih kesal. "Hmm, iya jadi kok tante, tadi kak Rere juga ajak aku beli harum manis, rasanya manis dan enak banget, trus tadi sebenernya, kita mau main dulu ke timezone, tapi kata kak Rere kapan-kapan aja, soalnya kan kita belum minta izin ke mama sama tante Anna,"terang Vio panjang lebar, senyum Vio pun mulai tercetak saat dia cerita panjang lebar ke Anna, dan sesekali melirik ke arah Renata yang tersenyum manis kepadanya. "Nah kalo kamu senyum gitu kan cantik,"puji Anna kepada Violin, dan itu langsung mendapat senyuman dari Violin. "Oiya Vio, sekarang udah jam dua siang loh, kita pulang sekarang yaa, nanti papa kamu nyariin kita"ajak Sarah seraya menoleh ke jam tangannya, yang menunjukkan pukul empat belas lewat sepuluh menit. "Ishh mamah, pulangnya ntar aja kek, Vio kan masih belum puas main sama kak Rere nya," "Loh Vio kok gitu, gak inget ya sama janji Vio tadi,"kata Renata dengan penuh pengertian. "Wah kalian keliatannya udah akrab banget deh, padahal baru kenalan loh,"imbuh Anna kearah Rere dan Violin. Sontak perkataan Sarah tadi hanya dibalas Renata dengan kekehan kecil dan seulas senyum. "Padahal jarang banget loh, sih Vio sedeket ini sama orang yang baru dia kenal, tapi sama kamu dia lengket banget Re, tuh sampe gak mau diajakin pulang."lanjut Sarah. "Iya dong mah, itu karna kak Rere baik sama aku, dan bukan cuma baik, kak Rere orangnya lembut trus cantik lagi,"tutur Vio seraya mendeskripsikan sosok yang dia sebut Renata. Renata yang mendapat pujian itupun langsung tersenyum kikuk"Ih apaan sih kamu Vio,"seraya mencubit pelan pipi gembul milik Violin. "Tuh kan kamu sih Vio, mujinya terlalu berlebihan, liat tuh muka kak Rere jadi merah kayak kepiting habis direbus,"sambung Sarah, dengan disertai kekehan kecil dari semuanya. "Hehe maaf yaa kak,"ujar Vio dengan cengiran khasnya yang menampakkan gigi gingsulnya. "Yaudah ayo Vio, kita pulang sekarang yaa, kasihan papa kamu, pasti udah nungguin dirumah tu," Vio segera menatap ke arah Renata, dan Renata pun mengangguk disertai senyumannya yang menampilkan lesung pipitnya. "Oke deh mah, kak Rere, tante Anna, Vio pulang dulu ya,"pamit Violin kepada Anna Renata. "Iya Vio, hati-hati ya, jangan ngambekkan trus,"celetuk Renata dengan mengacak pelan rambut Violin. "Hehe siapp bos, oiya kak, inget ya janji kakak, jangan sampe lupa,"balas Violin dengan hormat kepada Renata, tangannya pun menunjuk Renata seolah-olah memberikan isyarat kepada Renata. "Oke dehh"ucap Renata dengan mengacungkan kedua jari jempolnya. "Yaudah jeng Anna, Rere, kita berdua pamit pulang dulu ya,"pamit Sarah kepada Anna dan Renata. ~~*~~ "Nind, kita makan disina aja gimana,"tanya Jonathan dengan menunjuk sebuah toko yang berlogo KFC. "Hm boleh Jo," Mereka berdua pun berhenti di KFC untuk mengisi perut mereka yang sudah mulai lapar karna seharian jalan-jalan. Setelah selesai makan Nindy pun memilih untuk pulang, karna dirinya sudah lelah. ya gimana gak capek coba, seharian penuh abis jalan-jalan. Motor Jonathan pun berjalan dengan kecepatan rata-rata. setibanya didepan gerbang rumah Renata, Nindy segera turun."Makasih ya Jo," Jonathan pun melepas helm yang dipakainya."Hmm makasih buat apa?" "Ya makasih, karna lo udah ngajakin gue jalan-jalan, dan udah mau dengerin curhatan gue yang gak penting ini,"ujar Nindy dengan senyum. "Yaelah santai aja kali, seharusnya gue yang bilang makasih ke lo, karna lo udah mau nerima ajakan gue, sekaligus nemenin gue jalan-jalan,"jawab Jonathan dengan santai. "Yaudah, gue masuk dulu ya, eh iya satu lagi, hati-hati."ujar Nindy kepada Jonathan. "Iya makasih, gue juga pergi dulu ya, bye"pamit Jonathan dengan memakai kembali helmnya. Nindy pun segera masuk menuju Rumah Renata, "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam"ucap Arya yang kebetulan baru saja keluar dari kamarnya, yang berada dibawah. Nindy merasa rumah Renata, sepi seperti tak ada penghuninya, karna yang dilihatnya hanya Arya papa Renata saja. "Eh om Arya, kemana yang lain om, tumben sepi banget,"ujar Nindy dengan celingak-celinguk. "Ohh tadi tante Anna sama Renata, lagi pergi belanja bulanan, palingan bentar lagi juga pulang," "Oh gitu om, yaudah om Nindy ke atas dulu ya mau ganti baju,"pamit Nindy kepada Arya. Ketika ingin menuju kamar, "Assalamualaikum"salam kedua perempuan, yang baru masuk rumah. "Waalaikumsalam"jawab Nindy dan Arya. "Loh, lo udah pulang Nind?"tanya Renata yang melihat Nindy berdiri di dekat tangga. "Eh iya, kamu udah pulang aja Nind?" "Hehe iyaa, tante juga habis keluar ya,?"ujar Nindy yang melihat Anna dan Renata menenteng plastik belanjaan. "Iya Nind, ini tante habis beli belanjaan buat stok bulanan," "Yaudah mah Rere sama Nindy ke kamar dulu ya mah,"sosor Renata dengan menarik pelan tangan Nindy. Renata pun segera menarik Nindy masuk ke kamar. "Gimana Nind,?"tanya Renata yang duduk di tepi kasur miliknya, dan tersenyum lebar. Nindy yang melihatnya pun hanya bingung"Gimana apanya Re,?" "Ish, gimana tadi lo di tembak sama Jonathan gak,?" Lagi-lagi pertanyaan Renata membuat Nindy terkejut dan berhasil membuat mata Nindy melotot ke arahnya. "Njir, apaan sih lo Re, kan gue udah berkali-kali bilang ke lo, kalo gue sama Jonathan tu, gak ada hubungan apa-apa, kita tadi cuma sekedar jalan-jalan, makan, trus ngobrolin tentang masa lalu kita gitu"terang Nindy yang tak habis fikir dengan pemikiran sahabat idiotnya satu ini. "Hehe, yaa maaf Nind, habisnya gue aneh aja liat lo senyum-senyum gitu, kayak orang ayan tau gak lo," Ucapan Renata tadi pun, berhasil membuat Nindy menoyor kepala Renata dengan pelan, dan membuat Renata mengaduh kesakitan. "Lebay lo ih"ejek Nindy seraya bergegas ke kamar mandi. "Dasarr...awas yaa lo,"teriak Renata yang tak kalah kencang. Hal seperti ini hanya sebuah candaan bagi mereka berdua, karna memang dari dulu, jika mereka bercanda, akan berakhir seperti ini. Tbc Menurut kalian Jonathan cocoknya sama Renata atau Nindy? Sekalian Follow akun Ig aku ya @dfannd_Siapa yang share cerita aku dan tag aku di akun ig nya, aku janji bakal tautin akun ig nya di setiap cerita aku☺ Tolong ya guys jangan jadi readers yang silence, hargai usaha orang lain jika kalian ingin dihargai balik MAKASIH SEMUANYA •Salam ,Indri
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN