Gusar

1249 Kata
Bik Ana hanya tersenyum menggeleng samar melihat drama Cia yang tengah meminum obat. Art yang sudah lama bekerja dengan Hara itu, meletakkan teh juga sepiring risole juga bakwan sebagai camilan yang pas dikala hujan seperti ini. "Silahkan neng-neng gelis, bakwan juga risole nya, selagi hangat." "Wah Bibik, tau banget hujan-hujan gini enaknya ngeteh sambil makan camilan," ucap Cia mengambil teh miliknya. Bik Ana membalas senyunman lalu pamit ingin melanjutkan pekerjaan lainya. "Terimakasih Bik," tukas Hara, juga Vanka memberi senyum tipis. Siang ini ke tiga gadis itu mengahabiskan waktunya denga menonton drakor yang terbaru. Hingga tanpa disadari mereka tertidur denga posisi Hara yang tertidur meringkuk di sofa. Sementara Vanka yang tidur mendekap Baby Chloe. Cia yang juga tertidur horizontal di samping Baby Chloe, sehingga posisi mereka seperti membentuk hurup T. Baby Chloe menangis terjaga dari tidurnya membangunkan ke tiga gadis yang ikut tertidur bersamanya tadi. Ternyata hari sudah sore, hujan juga sudah berhenti dari beberapa jam yang lalu. Vanka menggendong Baby Chloe yang tidak lama terlihat anteng di dalam buaiannya. Mengingat hari sudah sore. Vanka kepikiran untuk memandikan Baby Chloe. Gadis itu pun melepaskan semua pakaian bayi juga popoknya, lalu membalut bayi dengan handuk. Yang sempat dia minta tolong Cia untuk mengambilkan handuk Baby Chloe. Vanka pun menghampiri Bik Ana yang tengah berada di dapur yang tengah meracik bumbu dan memotong sayur untuk di masak sebagai menu makan malam nanti. Gadis itu ingin meminta diajarkan bagaimana caranya memandikan bayi. Awalnya Bik Ana menawarkan diri biar dia saja yang memandikan bayi. Namun Vanka menolak, katanya dia ingin mengetahui bagai mana rasanya memandikan baby untuk pertama kali. Bik Ana pun mengalah mengikuti kemauan teman majikannya itu. Dia berhenti memotongsayurnya, lalu beranjak dari dapur menuju kamar mandi yang di ikuti Vanka Art nya Hara itu pun mengisi air di bak mandi milik Baby Chloe dengan air hangat yang suda diarasa pas suhunya. Vanka pun sempat ikutan mengukur suhu air dengan mencelupkan tanganya. Perlahan Baby Chloe di masukan ke dalam bak. Vanka rada sedikit takut karena bayinya terlihat kaget gitu saat di masukkan ke dalam air. Baby Chlo pun sudah mulai nyaman di dalam air, Bik Ana meminta Vanka untuk mulai mengusap area sekitar mulut, hidung dan seluruh wajah bayi dengan air dari bak. Lalu kini beralih kebagian belakang telinga, bawah dagu, dan lipatan di leher. Vanka terlihat kaku tapi dia terlihat menikmati kegiatan ini. Kali ini Vanka diminta mengoleskan sedikit sabun mandi bayi yang lembut, lalu memberi pijatan lembut seluruh kepalanya. Setelah itu membilas kepalanya dengan perlahan. Berikutnya Vanka, membasahi bagian tubuh bayi lalu menuangkan sabun untuk membersihkan bagian leher hingga pinggang, termasuk lengan dan tangannya, lalu kembali membilas tubuh baby Chloe. Setelah itu Vanka membalut tubuh Baby Chloe dengan handuk yang di berikan oleh Bik Ana. "Akhirnya selesai juga Bik, susah-suah gampang ya memandikan bayi Bik," seru Vanka setelah selai membalut Baby Chloe dengan handuk. "Iya neng, butuh ketelatenan dan kesabaran saat mengurus bayi. Mangkanya tidak sedikit ibu muda yang mengalami sindrom … apa ya akh iya baby blue." "Sindrom baby blues Bik, bule itu mah biru artinya." Vanka membenarkan ucapa Bik Ana sambil tertawa, mengingat Art sahabatnya itu terlihat berpikir saat ingin mengatakan sindrom baby blues namun masih salah saat di ucapkan. "Nah iya itu lah pokoknya neng, kurang satu huruf aja, kalau gitu saya lanjut kedapur lagi ya neng." Vangka pun mengangguk mengucapkan terimakasih kepada Bik Ana. Gadis itu pun menyusul Bik Ana keluar dari kamar mandi melangkah menuju kamarnya. Kalau memakaikan baju baby. Vanka sudah tidak kaku lagi, dia sering melakukan hal itu saat mengganti popok Baby Chloe. Kini Baby Chloe sudah cantik dang wangi minyak telon yang menyeruak dari tubuhnya. Vanka pun Segera membuatkan s**u untuk bayi mungil kesayangannya itu. Baby Chloe pasti lapar setelah habis mandi. Vanka pun membirkan s**u buatannya kepada bayi yang terlihat sangat haus. "Uh, haus banget ya kamu," cicit Vanka sembari mengusap-ngusapkan hidungnya ke Baby Chloe. Cia yang baru selesai mandi pun menghampiri sahabat. Ikut merebahkan diri di ranjang sembari mengelus pipi Baby Chloe. "Gemas banget ya kak, liat Babynya. Gue heran sih siapa yang tega buang Baby semanis ini, kalau benar sengaja dibuang terus kita bagaimana kak? Ya kali kita harus tinggal disini terus." "Ketakutan gue semakin yakin kak, karena sampai hari ini belum ada ribut tentang kehilangan anak," keluh gadis itu khwatir jika yang diucapkan benar adanya. "Heem … entahlah Cia yang pasti kita harus berusaha mencari orang tua Baby Chloe, ini. Malam ini setelah selesai makan malam, kita akan kembali ke komplek saat pertama kali menemukan Baby ini." Cia pun mengiyakan perkataan sang sahabat. Susu di botol sudah habis, Baby Chloe pun terlelap tidur. Vanka segera bergegas mandi. ___________¥___________ Malam pun tiba. Vanka juga Cia sudah bersiap, untuk coba mengusut ke komplek perumahan tempat pertama kali bertemu Baby Chloe. Vanka meminjam mobil Hara, dengan alasan jika terjadi sesuatu saat mereka berada tempat itu, mereka tidak akan terlalu dikenali orang. Karena tidak sedikit yang mengenal Cia sebagai salah satu putri orang penting yaitu Erik Asker Panlenti. Orang paling berpengaruh setelah Agam Suchad. Vanka mulai mengemudikan mobilnya, membelah jalan yang malam ini terlihat sepi karena di beberapa ruas jalan kelihatan baru selesai hujan. Mereka pun sudah sampai di komplek, yang beberapa hari lalu mereka gunakan sebagai jalur balapan kala itu. Vanka juga Cia terlihat heran, saat menyadari suana keamanan komplek perumahan ini terliahat longgar. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu, walau ada bayi yang hilang di komplek ini. Raut wajah Vanka berubah pucat, jantungnya juga memacu lebih cepat. Dia jadi cemas bagaimana jika benar kalau bayi ini sengaja dibuang. Seketika isi kepalanya penuh dengan, pikiran harus melakukan apa kepada bayi ini. Melaporkan ke kepolisian akan menambah runyam karena pastinya orang tua mereka akan terbawa. Dan Vanka tidak mau itu terjadi. Menaruh Baby itu di panti asuhan juga bukan pilihan yang baik. Indentitas mereka yang sudah di kenal banyak orang cukup mempersulit kedua gadis ini untuk mengabil tindakkan. "Tuh kan kak, di sini seperti nggak pernah terjadi sesuatu. Bagai mana ini?" cecar Cia yang panik semakin membuat Vanka tidak tau arah. "Lo tenang dulu, pasti ada jalan keluar dari masalah ini Ci. Jangan buat gue ikutan panik juga." "Mau gimana lagi kak, kita nggak tau apapun tentang orang tua bayi itu. Nggak mungkin kan kita ketukin satu-satu dari semua pintu yang ada di komplek ini!" seru Cia terlihat gusar sekali. "Tenang Cia, tenang kita cari solusinya nanti kalau pun dalam seminggu ini masih belum dapat menemukan solusi masalah ini, tepaksa gue minta bantuan Onty Seno. Mungkin setelah itu kita nggak akan bebas seperti saat sekarang ini." Cia menangis memikirkan jika nanti, dia tidak dapat lagi tinggal di apartemen yang membuatnya bebas mengekspresikan diri. Tidak ada niat buruk sedikit pun dibenak Cia saat memilih tinggal di apartemen. Tidak seperti beberapa para ciwi-ciwi yang memilih kos ataupun tinggal di apartemen hanya agar bisa bebas melakukan hal yang di luar batas bersama pasangannya. Vanka mencoba menenangkan Cia. Tau apa yang sedang dipikirkan sahabat yang sudah seperti adiknya itu. "Gue tau penawaran ini kurang baik, untuk malam ini gue mau ajak lo ke club. Biar nggak terlalu stres. Tapi! Gue nggak izinin lo dance di lantai dansa campur orang lain." Ada jedah setelah mengatakan itu. "Gue akan sewa private room khus kita berdua aja, nah di situ kalau lo mau dance gue izinin, gimana lo mau nggak?" "Atur kakak aja lah, gue ngikut," jawab Cia terisak. "Ok." Vanka pun melajukan mobilnya kesalah satu club malam elite yanga ada di Jakarta. Sebelum masuk club Vanka juga Cia sedikit mengubah penampilan agar tidak dikenali orang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN