Seminggu sudah berlalu. Vanka masih belum menemukan orang tua Baby Chloe. Gadis itu bahkan sempat iseng berpura-pura bertanya kepada security komplek perumahan itu.
Vanka iseng bertanya apakah komplek perumahan itu, aman dari tindak kejahatan seperti ada penculikan misalnya. Gadis itu berdalih jika dia ingin membeli salah satu perumahan di komplek itu.
Wajah Vanka terlihat pias saat security itu berkata, jika komplek itu aman tidak pernah terjadi penculikan atau semacamnya.
Malam ini gadis itu, benar-benar tidak bisa tidur. Dia berdiri di balkon menatap langit malam yang indah, tapi tidak dapat menghilangkan kegundahan di hatinya.
Asap nikotin keluar mengepul dari bibir gadis itu, yang mencoba memantapkan hatinya untuk mengambil langkah ke dua, ya itu meminta bantuan kepada onty Seno.
Dia harus siap menerima konsekuensi, jika nantinya tidak diperbolehkan tinggal di apartemen lagi.
Dibalik hal itu, masih ada lagi yang membuat gadis itu kacau seperti saat ini. Vanka seperti tidak ingin melepaskan baby Chloe.
Tangis, senyum juga raut wajah menggemaskan baby chloe yang selama satu minggu lebih mengisi hari-harinya. Menyebabkan Vanka berat menerima jika momen itu akan segera berakhir.
Memaksakan keinginannya pun juga tidak mungkin, Vanka hanya bisa berharap dia masih bisa menemui Baby Chloe, walaupun bayi sudah kembali dengan orang tuanya nanti.
Dimatikannya sisa puntung rokok yang sudah pendek itu, Lalu beranjak ke kamar mandi menggosok gigi untuk menghilangkan bau rokok yang tertinggal di mulutnya.
Setelah itu Vanka naik ke atas ranjang, memandangi wajah damai Baby Chloe, lalu mengelus, mencium dengan lembut wajah mungil itu. Tanpa sadar air matanya pun menetes.
"Jangan sampai kau melupakan ku ya," cicit Vanka menghapus air matanya. Gadis itu mencebik membodohi racauannya yang meminta hal mustahil dari seorang baby berusia satu bulan.
Vanka mendekap Baby Chloe ingin mencoba tidur.
•
•
•
Selama satu minggu ini juga. Galent setiap harinya bertambah gusar karena tidak dapat menemukan Baby Meira, juga memikirkan kondisi Mama Nuri yang memburuk karena belum juga bisa melihat cucunya kembali.
Beberapa hari yang lalu Galent sempat menerima kabar dari Deni orangnya. Mengadu kalau pria itu sempat mengikuti mobil yang mereka ketahui jika mobil itu yang membawa Baby Meira.
Namun sial, saat sedang mengejar mobil itu. Ban mobil Deni bocor. Mereka pun kembali kehilangan jejak, karena setelah itu tidak pernah melihat mobil itu di jalanan.
Galent bukan tidak bisa meminta bantuan polisi. Namun jika dia meminta bantuan kepada pihak yang berwajib kemungkinan akan membongkar skandal yang dilakukan istrinya. Dia tidak mau itu terjadi, pesaing bisnisnya pasti akan memanfaatkan scandal itu untuk menjatuhkan dirinya.
Galent juga sempat mendapat kabar, jika pemilik mobil itu adalah putri orang nomor dua di Lippo group. Perusahan yang lebih besar dari miliknya.
Namun Galent ragu jika bayinya benar ada bersama orang penting itu, kalaupun benar pasti bayinya sudah dikembalikan.
Tidak butuh lama bagi Erik untuk mencari tahu identitas seorang bayi. Pikir Galent sebab itu dia tidak ingin berurusan dengan Erik yang terkenal kejam seperti Atasannya Agam. Bukan takut namun dia tidak ingin mengambil resiko jika terjadi sesuatu dengan perusahaannya.
Dia memikirkan nasib pegawai yang hidupnya bergantung oleh perusahaan. Mengingat mencari pekerjaan baru itu tidaklah mudah.
_____________¥______________
Hidup ini penuh dengan ketidakpastian. Tapi, akan selalu ada matahari terbit setelah bulan kembali terbenam. Vanka yang kurang nyenyak tidurnya pun segera bangkit saat azan subuh sudah mulai berkumandang.
Beranjak dari ranjangnya ke kamar mandi bersiap untuk melaksanakan sholat subuh. Menumpahkan semua keresehannya kepada sang pencipta.
Subuh sudah selesai, melihat Baby Chloe masih nyenyak tidur. Vanka keluar kamar ingin ke dapur berniat membantu Bik Ana. Dia tidak ingin menumpang dengan hanya cuma-cuma.
"Morning Bik Ana," sapa Vanka memberi senyum manisnya.
"Eh, Non Vanka. Kok belum siapan sudah ke dapur? Nanti telat loh ke sekolah," balas Bik Ana meletakkan bahan yang baru saja diambil dari kulkas.
"Vanka, Cia juga Hara libur sekolah bik. Kakak kelas lagi ujian kompetensi. Oh iya bik mau masak apa aku bantu ya?"
"Ulah atuh neng. Bibik nggak enak. Cuma masak nasi goreng, dadar telur juga perkedel jagung kok. Bibik bisa sendiri neng," tolak bik Ana sungkan.
"Neng kan tamunya Non Hara, nggak pantes ikut bantu-bantu di dapur. Kalau sibuk di dapur nanti kalau bayi neng nangis nggak tau lagi," imbuhnya lagi.
"Nggak kok Bik dia masih nyenyak tidurnya." Vanka mulai membantu bibik mengupas bawang. Art Hara itu pun tidak bisa menolak.
Masakan selesai. Vanka kembali ke kamar yang kebetulan Baby Chloe baru saja bangun. Gadis itu pun menyiapkan air hangat untuk memandikan bayi mungil itu.
Matahari semakin meninggi, semua orang pun sudah bersiap di meja makan. Sarapan sudah selesai. Vanka membawa Baby Chloe berjemur di pagi hari, mengelilingi taman sekitar rumah Hara. Ditemani Bik Ana yang tengah merapikan tanaman.
"Oh iya Neng, bayinya umur berapa minggu itu?" tanya bik Ana membuka obrolan.
"Kurang tau bik mungkin sebulanan kali ya," jawab Vanka memperbaiki posisi baby chloe.
"Saat bibik mandiin bayinya, kalau dilihat lengannya belum ada bekas suntik imunisasi neng, apa neng Vanka nggak coba ke dokter buat imunisasi biar bayinya nggak gampang sakit," saran bik Ana saat teringat akan hal itu.
"Iya juga ya Bik. Vanka nggak kepikiran hal itu malah, nanti jam sembilan temani ke dokter ya buat imunisasi baby Chloe,"
ucap Vanka setelah melihat lengan si bayi.
•
•
•
Kini Vanka sudah tiba di salah satu rumah sakit dengan penampilan yang tidak seperti biasanya, agar tidak dikenali banyak orang.
Vanka memilih ke rumah sakit, untuk memeriksa lebih detail kondisi Baby Chloe.
Vanka juga Bik Ana mengambil nomor antrian di meja resepsionis, lalu mencari tempat yang nyaman untuk menunggu sampai namanya dipanggil.
Setelah mengantri beberapa nomor kini giliran Baby chloe yang menjalani pemeriksaan berat badan juga yang lainnya.
Baby Chloe pun sudah selesai diperiksa juga di imunisasi, Vanka menitipkan Baby Chloe dengan Bik Ana sementara dia menebus obat.
Bik Ana Cukup kesulitan menenangkan Baby Chloe yang menangis, sampai topi yang dikenakan oleh bayi itu pun lepas terjatuh.
Kebetulan ada seseorang yang lewat, membantu mengambil topi itu.
"Terima kasih Tuan maaf merepotkan," ujar bik Ana masih menimang-nimang baby Chloe.
"Sama-sama ibuk." Saat ingin membantu memasangkan topi itu. Orang itu berseru.
"Loh ini kan!"
"Kenapa Mas?"
"Ini …." Ucapan orang itu terhenti saat mendengar seseorang memanggil wanita paruh baya di hadapannya.
"Bik sudah selesai ini ayo pulang." Vanka kembali mengambil baby Chloe dari gendongan Bik Anak.
"Dia siapa bik?"
"Tadi Mas ini bantuin mengambil topi bayi yang terjatuh Neng."
"Oh, kalau gitu makasih Mas, pamit dulu."
Sejenak orang itu terlihat linglung, memandang Vanka juga Bik Ana yang mulai menjauh. Tidak lama tersadar kembali lalu berteriak.
"Tunggu!"