Seperti biasanya. Sebelum berangkat ke kantor. Galent menyempatkan ke rumah sakit, untuk memastikan Mama Nuri menghabiskan sarapan juga meminum obat.
Selama di rumah sakit Mama Nuri sulit diminta untuk makan, terkadang hanya mau makan jika disuapi oleh Galent.
Seperti pagi ini. Galent dengan telaten menyuapi bubur ayam kepada Mama Nuri.
"Ma! Mama mau ketemu dengan Meira kan? Mulai sekarang harus dengar kata dokter atau suster yang bertugas."
"Kalau nggak ada aku di sini Mama harus tetap makan, obatnya harus diminum beneran. Jangan di buang ke tong sampah," imbau Galent yang merasa khawatir dengan kondisi kesehatan Mama Nuri yang semakin menurun.
"Galent harus kerja Ma, mencari Cia juga. Jadi nggak bisa selalu mengawasi Mama disini terus, kalau Mama nggak sembuh-sembuh bagaimana mungkin bisa bertemu dengan Meira," imbuh Galent lagi membersihkan mulut sang mama yang sudah selesai makan.
"Iya Mama akan nurut, tapi kapan kamu akan membawa Meira bertemu dengan Mama?"
"Secepatnya Ma, Galent akan menemukan Meira. Untuk saat ini Mama harus kembali pulih dulu, sekarang minum obatnya dulu," titah Galent memberikan obat yang baru dikeluarkan dari bungkusnya.
Galent pun kembali membaringkan Mama Nuri setelah meminum obatnya."Galent berangkat ke kantor dulu ya ma. Ingat ya ma kalau waktunya makan dan minum obat nggak boleh nolak ya," tukas pria berkarismatik itu sekali lagi. Mama Nuri hanya mengangguk samar. Lalu menatap punggung sang putra yang keluar dari ruangan.
Langkah panjang Galent terhenti saat, melihat ibu-ibu yang terlihat kesulitan menenangkan bayi yang menangis, hingga menjatuhkan topi yang dikenakan bayi itu.
Galent pun membantu mengambil topi itu, saat ingin mengenakan topi kepada bayi yang tengah rewel itu, Galent sempat mengerjap memastikan penglihatannya tidak salah. Jika yang dia lihat benar bayinya yang hilang
"Loh ini kan!"
"Kenapa mas?"
"Ini …." Ucapan Galent terhenti saat ada seorang gadis memanggil wanita paruh baya yang ada di hadapannya.
"Bik sudah selesai ini ayo pulang," ajak gadis itu menghampiri wanita paruh baya yang menggendong bayi di hadap Galent ini.
Gadis itu sempat bertanya siapa Galent, lalu mengucapkan terima kasih.
Galent sempat linglung, karena takut jika penglihatannya ke bayi itu salah. Namun ia tersadar, memanggil juga mengejar kedua wanita beda usia itu untuk memastikan.
"Tunggu!" Kedua wanita itu berhenti lalu menoleh ke arah Galent.
"Iya ada apa Mas eh Tuan?" Vanka bingung sendiri harus memanggil apa, tadi sih dia sempat latah mengikuti Bik Ana memanggil mas. Namun setelah menyadari penampilan Galent yang tidak seperti pria biasa. Gadis itu jadi bingung harus memanggil apa.
"Nama saya Galent Reiner Seth, panggil senyaman kamu aja, oh iya boleh aku lihat bayinya sebentar?" pinta Galent dengan napas sedikit tersengal.
"Ya boleh Tuan tapi sebentar saja ya, kami tidak punya banyak waktu." Galent pun mulai memandangi wajah bayi itu, benar saja penglihatan dia tadi memang tidak salah untuk lebih memastikan dia melihat belakang telinga kanan bayi itu. Karena seingatnya ada t**i lalat kecil di tempat itu.
"Mbak! Ini bayi saya yang hilang seminggu lalu," ucap Galent setelah melihat t**i lalat di belakang telinga bayi itu.
"Hah! Tuan jangan ngaku-ngaku ya, punya bukti apa sampai berani mengatakan ini bayi anda?"
"t**i lalat, yang ada di belakang telinga itu, menandakan kalau saya orang tua bayi ini."
"Ckh, saya bukan anak kecil yang bisa anda tipu. Hanya karena bukti itu. Nggak bisa membuktikan kalau Tuan adalah orang tua bayi ini."
"Ayo kita lakukan tes DNA, agar saya percaya," tantang Vanka membuat Galent bingung menanggapi tantangan itu, sebab dia bukan ayah biologis dari baby Chloe.
"Em … kalau tes DNA saya tidak bisa melakukannya karena suatu alasan tertentu, tapi saya bisa membuktikan dengan cara lain."
"Halah Tuan, saya tidak akan tertipu dengan orang seperti kamu, dengan kamu nggak mau tes itu sudah membuktikan kalau kamu berbohong."
"Begini, saya akan bawa kamu dan bibik ini pulang ke rumah saya, di sana kamu akan melihat perlengkapan baby milik anak saya ini."
Vanka menyipitkan matanya, menata Galent penuh curiga. "Bagaimana saya tahu kalau anda tidak meminta orang untuk menyiapkan perlengkapan itu di rumah Tuan!"
"Kamu boleh pegang ponsel saya, untuk membuat kamu percaya jika tidak ada kecurangan yang akan saya lakukan."
Vanka meminta saran kepada bibik, setelah menimbang dari ucapan dari art sahabatnya itu, dia pun menyetujui permintaan pria yang ada di hadapannya ini.
Mereka bertiga pun pergi menggunakan mobil Hara. Vanka yang menyetir karena dia masih kurang percaya dengan pria yang sedang duduk di sebelahnya saat ini.
Vanka mengikuti arahan Galent yang memberitahu tempat persis dimana dia tinggal. Saat memasuki Kompleks perumahan. Gadis itu melirik ke kanan dan kiri memastikan kalau tempat benar dima dia menemukan Baby Chloe.
"Ini bener kompleksnya, jangan bilang dia beneran orang tua baby Chloe. Oh good gue belum siap harus berpisah dengan baby Chloe," gumam Vanka ternyata sedikit terdengar oleh Galent.
"Apa anda mengatakan sesuatu?" tanya Galent menatap Vanka.
"Eh enggak, oh iya di sebelah mana rumahnya?"
"Setelah tiga rumah dari sini, itu rumah saya saya."
Kini Mobil Vanka sudah sampai di depan rumah yang ditunjuk oleh pria yang ada di sebelahnya. Dia membunyikan klakson menunggu seseorang membuka gerbang.
Gerbang sudah terbuka. Vanka kembali melajukan mobilnya masuk ke pelataran rumah yang memiliki kesan klasik modern itu.
Galent pun, mengajak kedua wanita yang ditemui di rumah sakit tadi masuk ke rumahnya.
Dengan gemetar Vanka membuka seat belt-nya. Mencoba menguatkan hatinya jika hari ini juga dia tidak akan bersama baby Chloe lagi.
Vanka juga Bik Ana mengikuti langka Galent, yang ingin menunjukan letak kamar bayinya.
Benar saja, saat membuka pintu kamar. Nuansa kamar yang berwarna pink lengkap dengan tempat tidur bayi juga yang lainya.
Namun Vanka masih tidak terima begitu saja, dia masih mencoba meminta bukti lain.
"Kalau benar ini Kamar Baby Chloe kenapa tidak ada foto yang di pajang di ruangan ini."
"Baby Cohle?"
"Iya aku memberi nama itu, karena aku tidak tau nama asli bayi ini siapa," jelas Vanka.
"Namanya Meira Phia. Memang tidak ada foto anak saya, karena kesibukan saya di kantor tidak sempat memikirkan hal semacam itu."
"Terus, apa aku harus percaya hanya karena kamar ini?"
"Tunggu sebentar mungkin Mama saya ada menyimpan foto baby Meira, astaga kenapa aku nggak kepikiran saat di rumah sakit tadi!" Galent menelpohone Max untuk mengambilkan ponsel Mama Nuri. Setelah itu meminta Vanka menunggu sampai Max tiba di rumah ini.
Setengah jam lebih menunggu Akhirnya Max datang membawa benda yang diminta oleh Galent.
Galent mulai membuka ponsel sang mama, menggeser juga mengklik menu di ponsel itu.
Setelah menemukan foto Baby Meira, dia menunjukan foto itu kepada Vanka. Gadis itu gemetar saat melihat foto yang benar mirip Baby Chloe rasanya dia ingin menangis saat itu juga.
"Bagaimana, saya tidak bohong kan? Jadi saya minta Baby Meira kembali ya."
"Apa boleh biarkan aku berdua dengan Baby Chloe sebentar saja?" tanya Vanka denga suara bergetar menahan tangis.
Galent menghela napas, melihat raut wajah Gadis yang ada di hadapannya ini dia tidak tega untuk menolak.
Galent, Bik Ana juga Max pun keluar dari ruang. Menunggu di ruang tamu sambil berbincang kecil.