Vanka mulai menumpahkan air matanya, mengecupi seluruh wajah baby Chloe. "Mulai nanti kita sudah nggak bersama lagi, aku sudah menemukan papamu. Kalau papamu mengizinkan, sesekali aku akan menjengukmu, aku masih belum bisa berpisah denganmu," Vanka meracau kepada Baby Chloe seolah bayi mungil itu akan menyahuti semua ocehannya.
"Kenapa harus secepat ini, andai saja aku nggak bawa kamu ke rumah sakit itu. Mungkin aku masih bisa bersamamu, padahal baru malam ini aku akan meminta bantuan Onty Seno, untuk mencari orang tuamu setidaknya aku masih punya sedikit waktu bersamamu," racau Vanka lagi semakin terisak. mengelus Baby Chloe yang dibaringkan di ranjang.
•
•
•
Sudah setengah jam Galent menunggu Vanka keluar dari kamar Baby Chloe. Namun gadis itu tak kunjung keluar. Pria itu pun jadi resah takut terjadi sesuatu.
Galent pun bergegas ke kamar bayinya. Dibukanya kenop pintu. Bahunya perlahan merosot merasa legah saat melihat gadis yang pertama kali ditemuinya ini. Tertidur sembari memeluk Babynya yang terlihat nyaman sekali tidurnya.
Pria karismatik itu kembali menutup pintu dengan perlahan, lalu menghampiri Max juga Bik Ana.
"Maaf Tuan, nggak terjadi sesuatu kan dengan Neng Vanka. Kok lama sekali keluar dari kamar?" tanya Bik Ana setelah melihat Galent kembali.
"Oh namanya Vanka, dia sedang tidur bik sama Baby Meira, Nanti saja ya pulangnya setelah dia terjaga dari tidurnya, atau bibik mau di antar pulang lebih dulu?" tawar Galent kepada Bik Ana setelah kembali duduk di sofa.
"Maaf kalau saya pulang lebih dulu. Neng Vanka bagaimana?"
"Dia akan baik-baik saja bik, nggak usah khawatir. Saya bukan orang jahat, kalau bibik masih ingin di sini juga nggak apa kok."
"Benar nggak masalah kalau saya pulang, sebenarnya saya harus menyiapkan makan siang buat majikan saya."
"Bibik bisa pegang omongan saya, kalau Vanka akan baik-baik saja." Bik Ana pun dengan berat hati mengangguk, lalu pulang diantar oleh Max.
Setelah kepergian Bik Ana juga Max.
Galent kembali ke kamar Baby Meira, dia membuka kenop pintu Agar tidak membangun dua wanita beda ukuran eh beda usia yang tengah tertidur pulas.
Dipandangnya wajah cantik Vanka dengan mata sedikit sembab bahkan masih menggenang air mata.
"Sepenting itu kah Meira bagi dirinya, sampai dia menangis hanya karena aku sudah menemukan bayiku lagi," gumam Galent ingin menyentuh wajah Vanka namun dia tarik kembali tangannya karena takut membangun gadis dihadapannya ini.
"Siapa dia, wajahnya yang sembab saja tidak mengurangi kecantikannya," timpal Galent lagi kali ini dia mencondongkan wajahnya lebih dekat memandangi gadis yang sedang tertidur itu.
Bahkan napas teratur dari Vanka bisa dia rasakan. Galent terlonjak kaget saat tiba-tiba Vanka membuka matanya, yang seketika mantap tajam pria karismatik itu.
"Kenapa anda berada sangat dekat dengan saya. Jangan macam-macam ya! Saya nggak akan segan-segan melukai anda Tuan!" Serga Vanka bangkit dari ranjang.
"Shuut, jangan teriak-teriak nanti Baby Meira terbangun," ujap Galent dengan menaruh telunjuk dibirnya juga ekor mata yang melirik ke Babynya.
Vanka pun melirik ke arah Baby Meira."Habisnya Om liatin saya sampai segitunya, siapa coba yang nggak waspada."
"Om?" Galent menaikan alisnya tidak terima dipanggil om.
"Iya, kalau manggil Tuan aneh rasanya. Saya kan nggak kerja dengan Kamu. Kalau di panggil abang jatuhnya kek abang tukang bakso, kalau manggilnya Mas saya juga nggak pantes terkesan gak sopan. Sepertinya usia kita kan selisih jauh ," crocos Vanka.
"Saya tebak Om pasti sudah kepala tiga kan?" timpal Vanka lagi.
Galent memberi tatapan menyala tidak terima di katai tua. "Sembarangan kamu, saya masih kepala dua, nggak baik melebih-lebihkan umur orang." Vanka tidak ingin lagi menimpali ucapan Galent. Dia kembali mendekati Baby Meira. Kembali menciumi bayi yang masi tertidur.
Matanya kembali berkaca-kaca, ingin menangis kembali namun dia tahan karena malu dengan pria yang tengah bersamanya ini.
Vanka pun keluar kamar, mencari keberadaan Bik Ana dengan Galent yang mengekor dibelakangnya.
"Bik Ana sudah pulang, diantar Max asistent saya," ujar Galent ya memperhatikan Vanka yang tengah kebingungan mencari Bik Ana.
"Ya sudah kalau begitu gue pulang dulu," balas Vanka dengan nada suara yang senetral mungkin. Mulai berlalu dari ruang tamu
"Kamu masih bisa datang kemari, jika ingin melihat Baby Meira," Kata Galent yang hanya di angguki samar oleh Vanka tanpa menatap dirinya.
•
•
•
Sampainya di rumah Vanka kembali menupahkan tangis. Sembari memeluk baju baby Chloe. Cia pun merasa iba melihat sang sahabat yang terlihat sedih sekali.
"Sudah atuh kakak, jangan kelamaan nangisnya. Itu kan bukan bayi lo sendiri, seharusnya kita legah. Babynya sudah kembali kepada orang tuanya. Kita nggak perlu susah paya lagi mencari seperti kemarin."
"Lo nggak tau kan Cia, rasanya tu adang yang kurang saat nggak denger tangisnya, liat senyumnya, gue yang tiap hari melihat itu. Mungkin lo nggak perhatiin itu."
"Ya udah kakak, kapan-kapan kita liat Baby Chloe ke rumahnya, oh iya berarti kita udah bisa pulang ke apartement kan?"
"Iya rapikan lah barang-baramu, sore nanti kita akan pulang." Cia pun mengangguk mulai merapikan barang-barangnya ke koper. Denga malas Vanka pun ikut merapikan barangnya.
Mengetahui sahabatnya akan pulang. Hara minta di temani dua sahabatnya nonton drama korea, untuk terakhir kalinya. Sebab setelah ini entah kapan lagi mereka bisa kembali nonton bersama.
•
•
•
Sampai di apartemen Vanka juga Cia bekerja sama, membersihkan apartemen yang berdebu karena selama pergi tidak ada yang bersih-beraih tempat ternyaman dua gadis ini.
Kegiatan bersih-bersih pun tak terasa memakan waktu sampai malam hari, yang dilanjutkan Vanka memasak makan malam.
Seperti biasa, jika Vanka dalam suasana hati yang buruk. Gadis itu lebih suka di balkon menikmati Keindahan langit malam. Dengan sinar bulan juga cahaya dari gugusan bintang-bintang. Jika Biasanya gadis manis itu menghilangkan resah hatinya dengan rokok. Kali ini dia memainkan gitar sembari bernyanyi lagu yang menggambarkan suasana hatinya.
Vanka mulai menyetel gitarnya. Setelah pas. Gadis itu mulai memetik alat musik itu, lalu menyanyikan sebuah lagu, yang memang di ciptakan pemilik aslinya, khus buat sang putri.
Kutuliskan kenangan tentang ...
Caraku menemukan dirimu …
Tentang apa yang membuatku mudah
Berikan hatiku padamu ...
Takkan habis sejuta lagu
Untuk menceritakan cantikmu ...
'Kan teramat panjang puisi
'Tuk menyuratkan cinta ini ...
Telah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia ...
Karena telah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
Aku pernah berfikir tentang
Hidupku tanpa ada dirimu
Dapatkah lebih …
Gadis itu kembali menangis terisak, mengingat wajah Baby Chloe yang mengisi pikirannya.
"Kak, masuk yuk. Dingin banget di luar nanti lo sakit," ujar Cia yang baru saja menghampiri sang sahabat.
"Gue masih mau di sini dulu Ci. Istirahat gih sana."
"Ayolah kakak, jangan seperti ini."
"Gue kepikiran dia Cii, Dia kan kalau malam sering nangis. Kalau gue gendong baru diam."
"Mamanya pasti tau lah kak cara nenangin Baby Chloe."
"Tapi kan, saat gue berada di rumah dia, nggak liat istri om itu. Siapa ya namanya gue belum sempat kenalan sama dia. Jadi nggak tau namanya," papar Vanka menghapus air matanya.
"Apa mungkin dia duda kak, istrinya meninggal saat melahirkan mungkin, masuk akal juga sih kalau masih ya kan kak? Mana mungkin ada seorang ibu yang kuat pisah sama anaknya walau hanya beberapa jam saja," ucap Cia yang membuat Vanka berfikir sejenak untuk mencerna kata-kata dari gadis manja ini.
"Gue nggak tau juga sih, biarkan lah gue nggak mau urusin yang begituan,"
"Ya sudah yuk masuk kak," ajak Cia lagi.
"Kamu aja yang masuk sana, bentar lagi aku nyusul." Cia pun mengangguk lalu kembali masuk ke rumah.