Pagi ini. Baby Meira sudah cantik setelah di mandikan dengan pengasuh yang dipekerjakan kembali oleh Galent.
Kali ini Reni pengasuh Baby Meira, cukup kesulitan mengasuh bayi yang sempat hilang itu. Karena Meira jadi rewel mulai kemarin malam sulit ditenangkan kadang saat di beri s**u, bayi itu menolak dan terus menangis.
"Ku lihat dia tidak rewel seperti tadi malam," ujar Galent yang menghampiri pengasuh bayinya. Saat baru saja selesai bersiap ingin ke kantor.
"Iya Tuan mungkin dia sudah lelah karena nangis terus. Mungkin kangen dengan yang merawat Baby Meira saat hilang kemarin."
"Mungkin, saya juga kurang tau. Bagaimana dia dirawat di sana, seorang gadis SMA yang merawat Meira saat hilang kemarin."
"Persiapkan perlengkapan Baby Meira, setelah selesai sarapan. Saya akan membawanya bertemu dengan Mama saya," titah Galent sebelum beranjak ke meja makan.
•
•
•
Galent menghampiri ranjang Mama Nuri yang tengah sarapan di suapi oleh suster, mengambil alih semangkuk bubur yang berada di tangan suster.
"Bagaimana keadaan Mama, apa sudah lebih baik? Kemarin Galent nggak kesini karena ada pekerjaan penting, Mama makan teratur kan? Obat di Minum kan?" cecar Galent sembari menyuapi Mama Nuri.
"Nanya nya satu-satu ih, seperti wartawan kamu Ga. Sedikit membaik, Mama juga makan dan minum obat kok," jawab Mama Nuri setelah menelan buburnya.
"Bagus, karena sudah nurut Galent punya hadiah buat Mama." Galent mengirim chat ke pengasuh. Untuk membawa Baby Meira masuk ke ruang rawat.
"Cucuku!" seru Mama Nuri saat melihat baby Meira dibawa masuk."
"Syukurlah kamu sudah ditemukan cucuku, oma kangen banget sama kamu," ucap Mama Nuri mengecup pi wajah cucunya.
"Dimana kamu menemukannya Ga?" tanya Mama Nuri menimang dan mengelusi pipi gembul cucunya.
"Di rumah sakit ini kemarin Ma, seorang Gadis di temani Art yang membawanya untuk imunisasi di sini."
"Huh, seorang anak SMA yang nyulik baby Meira! Masih kecil sudah berbuat kejahatan!" sungut Mama Nuri yang membuat Baby Meira terkejut lalu menangis. Pengasuh pun mengambil alih gendongan untuk menenangkan bayi kecil itu.
"Bukan menculik Ma, Galent aja yang teledor waktu itu lupa mengunci stroller saat tengah mengangkat telephon," ralat Galent menjelaskan kepada Mama Nuri yang salah paham.
"Halah kalau nggak niat nyulik, pasti dia lapor polisi saat menemukan bayi waktu itu."
"Yang pasti dia punya alasan lah Ma, kenapa dia nggak mau lapor polisi. Pasti banyak yang dipertimbangkan gadis itu, kita nggak boleh menuduh yang tidak-tidak. Seharusnya kita berterima kasih dengan gadis itu karena sudah merawat Baby Meira dengan baik."
"Apa pun alasannya Mama tetap nggak suka, dengan gadis itu, Minta minum Mama nggak mau makan lagi sudah kenyang," tukas Mama Nuri menolak suapan Galent.
"Ya sudah terserah Mama lah, yang penting sekarang Baby Meira sudah kembali. Jadi Mama juga harus cepat pulih,"
"Galent pamit ke Kantor dulu, nanti aku suruh supir untuk mengantar Baby Meira pulang tidak baik terlalu lama di lingkungan rumah sakit," pungkas Galent membantu membaringkan Mama Nuri.
____________¥______________
Raut wajah Galent, saat menerima sapaan pegawai kantornya pagi ini, tidak sedingin seperti hari-hari sebelumnya ketika baby Meira masih menghilang, bahkan mungkin jika di ingat-ingat pria karismatik ini. Selalu menampilkan wajah dingin dalam situasi apapun semenjak mengetahui kebenaran tentang istrinya.
"Cie, Tuan cerah banget wajahnya. Pasti karena gadis yang dibawa ke rumah kemarin kan," celetuk Max yang mengintip diambang pintu.
"Sembarang kamu kalau ngomong, masuk sini!"
"Ini Tuan, beberapa file yang anda minta kemarin." Dengan senyum penuh arti Max menyodorkan file ke depan Galent.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu? Senyummu menjengkelkan," cicit Galent sembari memeriksa file yang diberikan oleh Max.
"Tidak ada Tuan, sepertinya kau terlihat senang sekali hari ini, seingat ku kau selalu berwajah dingin dalam situasi apapun. Semenjak mengetahui itu …."
Max tidak lagi melanjutkan ucapannya, tau dia melakukan kesalahan karena mengungkit hal yang paling dibenci Galent.
Asisten yang memiliki wajah dan tubuh tak kalah dengan atasannya itu, mencoba mencairkan suasana yang mendadak tegang, dengan menyampaikan informasi yang baru saja diketahuinya kemarin malam.
"Oh iya Tuan dugaan kita sebenarnya tidak meleset. Mobil yang waktu itu diikuti memang milik putri Erik. Orang nomor dua di Lippo group."
"Terus?" tanya Galent masih fokus dengan file-nya.
"Dan kalau gadis yang kemarin membawa Baby Meira itu adalah sahabat putri Tuan Erik, dan dia adalah putri pasangan Deff dan Senorita orangnya Tuan Agam juga," papar Max yang mulai sedikit tenang.
"Gosipnya sih, benar atau tidak kalau gadis kemarin itu putri Agam Suchad pemilik Lippo Grup. Tidak ada yang tau pasti cerita yang sebenarnya hanya tiga keluarga itu lah yang tau." Mendengar kelanjutan cerita Max. Galent jadi tertarik dia bisa dapat info secepat itu. Sementara foto Vanka saja tidak punya.
"Menggunakan apa kau mencari informasi tentang gadis itu, tidak mungkin kau memiliki daya ingat tinggi sampai bisa mengingat wajah yang kamu temui sebentar." Max nyengir, agak menjauh dari jangkauan Atasannya itu.
"Hehehe aku kemarin memotretnya diam-diam dengan ponselku, karena sepertinya ada yang menarik dari gadis itu." Galent meminta Max mendekat, juga meminta ponsel asistennya itu.
Dengan mencebik Max memberikan ponselnya, yang sudah dapat dipastikan Tuannya itu akan mengirim foto ke ponselnya lalu akan menghapus foto dari ponsel Max.
"Coba lanjutkan ceritamu kenapa sampai ada gosip seperti itu?" tanya Galent mengembalikan ponsel Max.
"Kalau menurut orang, karena dari kecil hingga entah usia berapa sekarang putri kandungnya Agam tidak pernah diperkenalkan ke publik, terakhir kali putri Agam ditunjukan ke publik saat pernikahan Erik."
"Setelah itu tidak ada yang tau perkembangan putri Agam, karena istrinya pun tidak pernah posting di sosial media," papar Max lagi.
"Jadi publik menganggap putrinya Deff itu adalah sebenarnya putri kandung Agam?"
"Yup, tapi tidak tau itu benar atau tidaknya karena tidak yang berani mengusik kehidupan pribadi Keluarga Sucad Tuan."
"Ya sudah sana lanjutkan pekerjaanmu, lain kali jangan ulangi mengambil foto orang tanpa izin. Itu tindakan kriminal tau!" imbuh Galent denga raut wajah yang akan membuat orang kesal jika melihat wajah itu.
"Ckh kau ini Tuan, aku kan hanya ingin membantumu, aku yakin kau juga pasti akan memintaku mencari tau gadis itu."
"Ya terserah kamu lah."
"Satu lagi, sepertinya Tuan yang akan terkena kasus menyimpan foto tanpa izin." Goda Max yang segera berlari keluar ruangan sebelum mendapat hukuman dari atasannya itu.
"Awas kamu nanti ya!" Gerutu Galent memandang kepergian asistennya itu.
Setelah itu dia kembali membuka ponselnya memandangi foto Vanka.