Kekacauan

1231 Kata
Dengan bibir dan tubuh yang sedikit bergetar karena kedinginan. Vanka dan Cia kini terlihat Asik menikmati bakso dan mie ayam yang mereka pesan di kantin yang bekerja sama dengan salah satu kolam renang. Tempat Vanka dan Cia yang setiap 2 minggu sekali harus mengikuti kegiatan wajib kelas renang dari sekolahnya. "Kak, malam ini boleh nggak gue jalan bareng sama beberapa teman cewek gue? Kan ntar malam minggu," pujuk Cia masih menikmati mie ayamnya. "Hara ikut nggak? Mau kemana memangnya?" cecar Vanka. Sebetulnya tidak ingin mengizinkan sahabat yang dianggap adiknya ini untuk keluar malam tanpanya. Sebab bocil kesayangannya ini tidak bisa membela dirinya sendiri jika terjadi sesuatu. Kehidupan malam di Kota ini cukup berbahaya, bagi wanita yang polos juga tidak ahli dalam bela diri. "Em … dia ikut kok, kami hanya ingin ke salah satu tempat karoke saja kok." Vanka menyipitkan matanya menatap lekat dang adik, yang terlihat gugup. "Kalau gue nggak izinin gimana? Lo tau kan semua teman-teman lo tu cuma pandai dandan doang cuma Hara yang kalem, teman lo nggak ada yang bisa bela diri. Jadi kalau sesuatu terjadi pada kalian siapa yang mau nolong!" cetus Vanka mengaduk orange juice miliknya. "Heem … ya udah deh kak Cia nggak jadi pergi." Cia kembali mengaduk-mengaduk mie ayamnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Melihat mata itu. Vanka mana mungkin tega tidak mengizinkan bocil kesayangannya itu pergi. "Beneran cuma ke karoke? Gue harap lo nggak menghilangkan kepercayaan yang gue berikan, ok deh lo boleh pergi. Pulang juga nggak boleh lewat jam dua belas malam." Mendengar itu sontak Cia menatap sang kakak dengan binar mata indahnya. Lalu beranjak memeluk leher Vanka dari belakang sambil loncat-loncat. "Terima Kasih, sa … yang kakak!" seru Cia bak upin-ipin yang mengucapkan terimakasih kepada kak ros. "Ingat, nggak boleh pulang lewat jam dua belas malam," ulang Vanka lagi, yang membuat Cia berdecak karena merasa seperti Cinderella yang diperingati oleh ibu perinya. Kedua gadis itu pun beranjak dari meja makan, untuk mengganti handuk kimono mereka dengan pakaian, mengingat sebentar lagi kelas renang berakhir. Sudah rapi dan cantik kembali. Vanka membawa Cia ke bengkel mobil, tempat gadis itu menitipkan mobil kesayangannya. Dia sengaja meminjamkan mobil itu kepada Cia. Agar dia lebih mudah melacak keberadaan bocil-nya itu. Kedua gadis itu berpisah setelah. keluar dari bengkel mang Edi. Cia yang segera pulang untuk bersiap. Sementara Vanka ingin berjalan-jalan sebentar juga ingin mencari camilan untuk temannya menonton drakor nanti malam. Setelah puas berkeliling melihat ke adaan kota yang mulai bercahaya karena lampu jalan yang perlahan menyala untuk menerangi ruas-ruas jalan. Juga pedagang kaki lima yang mendorong gerobaknya. Ada juga yang sudah menyusun di bahan-bahan untuk menu makan yang akan dijual dan masih banyak yang lainnya. Vanka sempat berhenti di salah satu masjid untuk melaksanakan sholat magrib. Setelah selesai sholat. Vanka kembali melajukan motornya, melalui jalan yang menuju arah pulang ke rumahnya. Sembari mencari sebuah mini market. Untuk mencari minuman dan camilan sebagai teman nontonnya. Minuman, juga berbagai macam camilian sudah Vanka dapatkan dia segera membawa belanjaannya ke meja kasir. Tidak sengaja pandangan mata cantik Vanka, tertuju ke arah susunan s**u formula bayi dengan varian terbaru yang berada di belakang penjaga kasir. Dengan segera gadis itu meminta diambilkan satu. Namun baru saja pegawai ingin mengambilkan s**u itu. Vanka teringat jika baby Chloe sudah tidak bersamanya lagi. Vanka meminta s**u itu diganti saja, dengan rokok yang biasa di hisapnya. Penjaga kasir itu pun men-scan semua belanjaan gadis itu sembari memberi tatapan sinis karena berfikir. Seorang gadis muda perokok. Ya tau sendiri, seorang wanita perokok itu. Memiliki citra buruk di kalangan masyarakat. Beruntungnya Vanka tidak melihat tatapan itu karena mendadak pikirannya terus diisi dengan Baby Chloe. "Mbak semuanya 123.200,00-," ujar kasir mengagetkan Vanka. "Eh iya mbak, ini uangnya terimakasih." Vanka mengulurkan dua lembar uang peca seratus ribu, lalu mengambil belanjaannya dan segera keluar dari mini market tanpa menunggu kembalian. Lalu kembali melajukan motornya, tapi bukan arah pulang seperti tadi. Gadis itu mengambil jalan lain, terus melajukan mobilnya hingga kini dia sampai di komplek perumahan Galent. Dia berhenti di depan salah satu tetangga Galent. Dari tempatnya berada Vanka dapat melihat tingkat dua rumah Galent, setelah menurunkan standar motornya. Gadis itu bermonolog dengan dirinya, bertanya bagaimana keadaan Baby Chloe, sudah tidurkah? Menangis? Atau sedang tidak ada di rumah. Cukup lama berada di pinggir jalan. Gadis itu menghela napas, mengusap air mata lalu melajukan kembali motornya. Karena mendengar mobil yang mulai mendekat. Vanka baru saja sampai di pintu kamar apartemennya, bertepatan dengan Cia yang baru saja ingin keluar. Sekali lagi gadis itu berpesan kepada sang adik untuk selalu mengaktifkan ponsel juga harus pulang tidak lewat dari pukul dua belas malam. Sementara Cia, hanya mengangguk lalu mengecup pipi sang kakak. Sambil mengatai sahabatnya itu cerewet, lalu segera berlari keluar sebelum Vanka menghalanginya jalan keluar karena marah, lalu gadis manja itu tidak akan dapat keluar dari apartemen. Vanka yang baru saja selesai dari toilet, ingin kembali melanjutkan memutar drakornya kembali namun, terhenti karena panggilan dari ponselnya mengalihkan. Ternyata Aeere yang menelpon untuk memanas-manasinya aduh balap mobil lagi. Dia pun teringat Cia membawa mobil. Vanka pun melihat jam dan sekarang sudah pukul sebelas malam, tanpa menggubris Aeere. Gadis itu memutuskan sambungan telepon. Lalu mencoba menghubungi Cia namun panggilannya tidak diangkat. Ternyata bocil itu sempat menelpon saat Vanka sedang berada di toilet tadi. Vanka pun mencoba melacak keberadaan mobilnya menggunakan gps, dan ternyata mobilnya tidak terparkir di sebuah tempat karaoke, tetapi sedang terparkir di sebuah perumahan teman Cia yang juga dikenal Vanka. Gadis itu pun segera melihat Gps ponsel Cia, yang ternyata berada di sebuah club malam. Dengan segera Vanka berlari ke kamarnya, mengambil jaket. lalu kembali kembali lari menuju garasi untuk mengeluarkan motornya. Dengan kecepatan tinggi, gadis itu terus melajukan motornya membelah jalan yang masih ramai sekali. Sesampainya di club itu. Vanka memarkirkan motornya sembarangan lalu, bergegas masuk ke club, memindai pandangan ke seluruh ruangan. Yang dipenuhi orang orang yang sudah hilang kesadaran, karena pengaruh alkohol. Vanka tidak menemukan Cia di antara kumpulan orang-orang itu. Vanka segera bergegas ke lantai atas. Membuka pintu satu-satu ruangan khusus yang berada di lantai ini, tidak perduli orang memakinya karena merasa terganggu. Sampai dia menemukan satu ruangan yang terkunci, dengan sekuat tenaga dia mendobrak pintu beberapa kali namun tidak berhasil terbuka, sampai dia meminta tolong kepada seorang pria yang sedang bersama kekasihnya baru keluar dari ruangan sebelah. Vanka meminta bantuan pria itu untuk mendobrak pintu. Dan akhirnya berhasil terbuka. Betapa terkejutnya Vanka saat melihat, sang adik dengan tangan yang diikat hanya mengenakan pakaian dalam. Juga seorang pria yang baru saja ingin melepaskan pakaiannya. Pasangan tadi sudah pergi tidak mau ikut campur. Dengan segera Vanka menendang pria itu. "b*****t lo, beraninya ganggu gue!" maki pria itu ingin memukul Vanka namun gadis itu dapat mengelak. Vanka membalas dengan menonjok pria itu hingga tersungkur. Lalu meraih tangan lawannya ke belakang punggung hingga membuat pria itu meringis berusaha melepaskan diri. Dengan geram Vanka membenturkan pria itu kemeja yang penuh dengan minuman. Hingga membuat kepala pria itu terluka lalu pingsan. Vanka menghampir Cia yang menangis. Dengan lembut membantu mengenakan kembali dress yang dikenakan gadis manja itu tadi. "Kak, Cia takut," Cia masih tersedu-sedu. Vanka melepas jaketnya lalu mengenekannya ke Cia. "Ayo, kita pulang." Vanka mulai memapah Cia sebelum keluar dari ruangan. Vanka mengambil ponsel pria itu untuk dihancurkan nanti. Agar tidak menjadi masalah nantinya. Saat di perjalanan pulang ke apartemen, motor Vanka di adang sebuah mobil. "Akh! Apa lagi sih ini!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN