Memohon

1072 Kata
Meeting yang berlangsung beberapa jam lamanya, akhirnya berakhir setelah semua setuju dengan presentasi juga proposal yang disetujui oleh para peserta meeting yang berlangsung hingga malam hari ini. Galent pun merapikan perlengkapan meetingnya, lalu kembali ke ruangnya untuk merapikan barang yang akan dibawa. Lalu pria karismatik itu pun, melenggang keluar ruangan menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Sebelum pulang ke rumah Galent meminta sopirnya untuk mengantarkan dirinya ke rumah sakit. Pria itu Ingin melihat kondisi sang Mama. Sampainya di rumah sakit. Dengan langkah perlahan Galent menghampiri brankar sang Mama, yang sudah tertidur mungkin karena pengaruh obat yang diminum wanita setengah tua itu. Dikecupnya pipi Mama Nuri setelah itu, mengusap wajah wanita yang paling disayanginya. Tidak lama seorang suster masuk untuk mengecek infus juga yang lainnya. Galet pun bertanya bagaimana kondisi Mama Nuri. Suster mengatakan jika dua hari lagi Mama Nuri sudah diperbolehkan pulang. Galent cukup lega mendapat kabar jika sang Mama akan segera pulang. Pria karismatik itu pun meninggalkan ruangan Mama Nuri untuk segera pulang ke rumah. Ingin melihat keadaan Baby Meiyra, yang diketahuinya masih sering sekali menangis tidak seperti sebelum menghilang. Bayi itu selalu anteng hanya sesekali saja menangis. • • • Baru saja keluar dari mobilnya, Reni sang pengasuh Baby Meira tergesah menghampiri Galent. "Ada apa dengan Baby Meira sampai nangis seperti itu?" tanya Galent sembari melepas sepatu. "Sepertinya Nona Meira demam Tuan, saya sudah memberi obat penurun panas tapi masih tidak turun juga panasnya. Dari tadi nangis terus, tidak mau minum s**u juga," jawab Reni masih berusaha menenangkan baby Meira yang tengah iya gendong. Galent sedikit mengomel kenapa pengasuh bayinya baru memberitahu sekarang, mendadak Agam mencari ponselnya saat. Reni mengatakan jika dia sudah berulang kali mencoba menghubungi tapi ponsel Galent tidak dapat dihubungi. Mendengar itu. Galent pun mencari ponselnya di saku juga tas kerjanya. Setelah menemukan ponselnya. Agam segera menghubungi dokter agar segera datang ke rumah secepatnya. Setelah menaruh tasnya Galent mengambil alih gendongan Baby Meira, menimang sambil berjalan kesana kemari sampai dokter datang. ____________¥___________ "Bayi anda mengalami separation anxiety, di mana timbul rasa cemas saat terpisah dari figur yang selama ini dengan dengannya. Anxiety atau kecemasan ini diyakini dapat mempengaruhi kondisi fisik sehingga bayi menjadi sakit," papar Dokter menjelaskan kondisi Baby Meira. Setelah selesai melakukan tugasnya. "Kalau boleh saya tau, apa dulu ada yang sangat dekat dengan si bayi? Lalu sekarang tidak ada di sini lagi?" Galent tampak berpikir, apa mungkin sang bayi sakit karena tidak ingin jauh dari seorang gadis SMA, yang baru dia kenal belakangan ini, sempat Galent ketahui bernama Vanka. "Maaf Tuan?" Suara dokter itu kembali menyadarkan Galent. "Oh iya ada, tapi saya sedikit kurang yakin," "Coba anda membawa orang itu kembali, siapa tau bisa mempercepat pemulihan kondisi bayi, ini saya beri resep obat untuk ditebus. Saya harap semoga bayi anda cepat sembuh Tuan, saya pamit dulu," ucap Dokter itu memberi secarik kertas lalu beranjak meninggalkan Galent. Galent kembali memberikan Baby Meira, setelah itu, dia kembali meninggalkan rumah untuk mencari Vanka. Sebenernya dia ragu karena hari sudah larut sekali. Pria itu tadi sempat meminta alamat Vanka dari asistenta Max. Mau tidak mau, Galent minta bantuan Vanka karena takut kondisi baby Meira semakin memburuk. Galent terus menyusuri jalan dengan kecepatan rendah, sebab meski sudah larut kondisi lalu lintas masih cukup ramai mengingat malam minggu kebanyakan orang akan jalan ketimbang di rumah. Sampai di persimpangan jalan, Galent melihat Dua orang gadis berboncengan pakai motor sport, yang kalau tidak salah lihat. Galent mengenali wanita yang menyetir motor itu. Karena kaca helm yang tidak menutupi muka. Galent menambah kecepatan mobilnya berusaha, mendekati motor itu, tidak lama pria itu berhasil membuat dua orang gadis itu menepi di pinggir jalan. "Oh lo om, ada apa adang saya di jalan seperti ini? Saya lagi ada urusan penting saat ini, bye," tukas Vanka setelah Galent mendekat, lalu kembali menyalakan motornya. "Baby meira sedang sakit, kata dokter dia mengalami separation anxiety. Kemungkinan dia belum bisa pisah dari kamu. Maukah kamu membantuku untuk melihat Baby Meira." "Apa! Loh kok bisa." Vanka terlihat cemas saat mendengar kalau Baby Chloe sakit. Tapi tidak mungkin dia mengabaikan Cia. "Iya deh saya nanti liat Baby Chloe. Tapi setelah urusan gue selesai dulu om, maaf ya om, kalau malam ini bener-bener nggak bisa. saya usahakan setelah sholat subuh ke rumahmu." Galent hanya bisa mengangguk tidak mungkin dia menghalangi urusan orang. Dia pun balik masuk ke mobilnya, setelah motor Vanka melaju kembali. ____________¥_____________ Seno tampak terkejut, saat membuka pintu rumahnya. Mendapati Kedua gadis yang sudah dianggapnya anaknya sendiri, bertamu di larut malam seperti ini. Seno pun segera meminta Vanka juga Cia masuk ke rumah. Setelah itu Seno meninggalkan kedua gadis itu ke dapur, untuk mengambilkan air, karena melihat kondisi Cia yang terlihat sangat terguncang. Dengan lembut Seno, meminta Cia minum terlebih dahulu sebelum dia bicara. "Ada yang bisa jelaskan? Apa yang terjadi sebenarnya?" Vanka pun menceritakan apa yang terjadi, lalu meminta bantuan Seno untuk membungkam apa yang terjadi di club itu. Agar tidak semakin melebar permasalahan. Seno tampak menghela napas berat, karena terkejut, saat mendengar apa yang terjadi pada Cia. Dengan lembut dia mencoba memberikan beberapa pertanyaan kepada Cia kenapa sampai terjadi hal semacam itu. Vanka sebenarnya juga kesal, karena mendapati sang sahabat sudah berbohong kepadanya. "Cia kenapa berada di club itu, sementara kamu pamit dengan Vanka, katanya ingin karaoke." "Tadinya sih, sudah ingin ke karaoke. Tapi salah satu teman Cia yang menyetir mobil, malah membawa aku dan beberapa teman yang lain ke club, sempat protes tapi mau gimana lagi mereka memaksa Cia tetap tinggal dengan alasan hanya sekali ini aja ke tempat itu, gue sempat ke toilet. Saat keluar dari toilet Cia diBekap seseorang," Jawab Cia sesegukan. "Terus, kemana teman-teman kamu itu nggak sadar salah satu temannya hilang. Dan lo bilang Hara juga ikut pergi kok gue nggak liat dia?" kali ini Vanka yang bertanya. "Saat bersiap. Cia ajak Hara tapi dia nggak mau ikut kak." Vanka tampak kesal sekali, ingin memarahi Cia. Namun dia juga kasihan melihat tubuh gadis itu yang bergetar. "Yaudah, sekarang kalian istirahatlah, besok akan Onty urus semuanya." "Tapi Onty, jangan sampai Mihu, dan yang lain tau ya. Vanka masih ingin tinggal di apartemen sampai lulus sekolah nanti, please, Vanka janji nggak akan terulang kejadian seperti ini lagi," pinta Vanka penuh harap dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Seno menghela napas, memandang lekat Vanka lalu beralih menatap Cia."Baiklah kali ini Onty masih kasih kesempatan buat kalian, istirahatlah di kamar kalian." Seno pun memeluk Cia. Menuntun gadis yang dalam dekapannya itu sampai ke kamar. Diikuti Vanka yang berjalan dibelakang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN