Sebuah tawaran

1171 Kata
Vanka benar-benar menyesal kenapa, dia tidak mematahkan tangan dan kaki si pria berengs*k, yang berani menyentuh adiknya. Gadis itu ikut gemetar saat melihat Cia, masih menangis ketakutan karena hampir menjadi korban pelecehan, juga membayangkan jika masalah ini melebar sebelum Onty Seno dapat menyelesaikannya. Dengan lembut Vanka memandikan Cia, yang ingin mandi karena tidak ingin ada bamu pria itu lagi di tubuhnya. Setelah Cia rapi kembali dengan piyama. Vanka mencoba membuat Cia tertidur dengan mengelus lembut kepala sang sahabat yang berada di pahanya, sembari meyakinkan jika semua akan baik-baik aja. Onty Seno pasti bisa menyelesaikan malas yang terjadi. Beberapa jam kemudian barulah Cia tertidur. Sementara Vanka sama sekali tidak merasakan kantuk. Memikirkan masalah Cia, ditambah mendapat kabar jika Baby Chloe sakit membuatnya semakin kalut. Meski tidur-tidur ayam, setidaknya memberi Vanka ruang untuk mengurai beban yang bersarang di pikiran gadis itu, hingga suara adzan mendorong mata yang tengah terpejam itu untuk terbuka kembali. Setelah sholat. Vanka ke dapur mencari Onty nya, namun orang yang dicari tidak ada. Gadis itu pun bertanya kepada art yang tengah mencuci piring. Vanka pun segera ke taman samping rumah, menemui Onty Sen yang katanya tengah menikmati udara segar dipagi hari, sambil melihat tanam-tanam organik yang ditanam wanita itu. Setelah berbasa-basi sebentar. Vanka pun pamit juga berpesan menjaga Cia selama dia pergi. • • • Kini Vanka sudah sampai di rumah Galent. Kedatangannya disambut oleh seorang wanita yang berseragam seperti para pengasuh bayi pada umumnya. Meski diberi tatapan sinis dari wanita yang berada di hadapannya ini. Vanka mengacuhkan tatapan itu, lebih memilih ke dalam untuk segera melihat Baby Chloe. Saat membuka pintu kamar Baby Meira. Mata Vanka membulat tanpa kedip selama beberapa detik saat, kemudian gadis itu menjerit setelah kesadarannya kembali. Melihat Galent yang hanya dililit selembar handuk, membuat jantungnya nyaris copot karena melihat air yang menetes membasahi tubuhnya, otot perut yang terbentuk indah, juga tanpa sengaja pandangan gadis itu tertuju pada sesuatu yang berada di balik handuk. "Om ngapain sih, keliaran kalau belum berpakaian!" Vanka memberanikan diri membuka suara setelah membalik tubuhnya. "Anu … em itu, tadi Baby Meira menangis terus aku liat dari pintu kamarku yang menghubungkan dengan kamar ini tapi perawatnya tidak ada di kamar jadi aku mencoba menenangkannya." Vanka pun berbalik badan setelah Gelent kembali ke kamarnya. Gadis itu mengambil Baby Meira lalu membawanya ke ruang tamu. Benar saja, suhu tubuh Baby Chloe masih sedikit tinggi, bayi itu sudah tidak menangis lagi, sudah mulai nyaman digendong oleh Vanka. Vanka pun, meminta dibawakan air hangat juga wash lap. Untuk melap-lap Baby Chloe, yang kebetulan popoknya juga penuh. Galent cukup terkesan melihat ketelatenan Vanka mengurus Baby Meira. Dia yang baru saja selesai bersiap, kini mengintip. Mengamati apa yang dilakukan Vanka. "Terimakasih ya kamu sudah mau datang kemari," ucap Galent menampakkan diri saat Vanka tengah memberi Baby Chloe minum s**u. "Tidak masalah kok Om, nggak mungkin saya nggak mau datang kemari saat mendengar, bayi menggemaskan kesayanganku jatuh sakit." Sesayang itu kamu sama bayiku, kamu unik sih, disaat usiamu yang sekarang ini. Kebanyakan para gadis jarang suka direpotkan oleh hal semacam ini, lebih penting dengan urusan masing-masing yang kadang boleh dibilang hal nggak penting, tapi kamu malah memilih mengisi hari liburmu untuk mengurus anak orang, sepagi ini, yang ku yakin sahabatmu masih berada di alam mimpinya. "Kamu, pasti belum sarapan karena sudah ke rumah saya saat masih pagi sekali. Mari sarapan bersamaku," ajak Galent setelah membuyarkan khayalannya. "Nanti aja Om, gue belum lapar, kalau gue bangkit takutnya Baby Chloe bangun. Jadi kalau mau sarapan silahkan saja." Baru saja Galent ingin menjawab namun kata yang ingin terlontar mendadak terhenti, saat melihat Vanka menaruh telunjuk di bibir. Entah kenapa Galent tersugesti hanya karena hal itu. Pria itu meninggalkan Vanka, beranjak ke dapur. Tidak lama kembali dengan nampan yang berisi satu porsi besar nasi goreng, air putih juga teh. "Loh kok nggak makan di meja makan Om?" tanya Vanka setelah Galent mendudukan diri di karpet. Membuat Vanka ikut turun duduk di karpet karena merasa tidak enak. "Karena kamu, nggak bisa ke meja makan. Jadi aku aja yang bawa makanan ke sini." " Buat aku? Tapi itu cuma satu porsi Om?" "Ya kita makannya kongsi lah, kamu kira perutku sebesar apa. Bisa menghabiskan nasi goreng sebanyak ini!" Galent mulai mengambil satu sendok nasi goreng lalu menyodorkan ke depan Vanka. Yang membuat gadis itu terpaksa menerima suapan itu dengan rona wajah yang memerah karena malu. "Apaan sih om, pakai di suapin segala, aku kan masih bisa makan sendiri. Nanti kalau ada yang liat salah paham lagi," ucap Vanka setelah susah payah menelan makanannya. "Saya tau kamu bisa makan sendiri, tapi liat kedua tangan kamu sekarangkan membuai Baby Chloe, eh Baby Meira," jawab Galent santai sebelum menyuapkan nasi goreng ke mulutnya. Vanka terkisap, melihat Galent menggunakan sendok bekasnya. Belum pernah dia makan dan minum menggunakan satu sendok maupun gelas dengan yang lain. "Om, kok kamu mau makan pake sendok bekas saya sih! Nggak takut apa, kalau saya nggak sikat gigi." Galent tidak menimpali ocehan Vanka, dia kembali menyuapkan makanan ke mulut gadis yang di depannya ini. "Kalau makan tu nggak boleh banyak bicara." Vanka tidak menjawab Galent dia memilih menghidupkan Televisi untuk mengalihkan rasa groginya. Malu dong kalau sampai, Galent menyadari kegugupannya. Makan pun selesai. Pria yang sudah rapi dengan setelan kantornya itu, kembali ke dapur untuk meletak piring kotor. Setelah itu Galent kembali ke tempat Vanka, sembari menenteng sepatu yang akan dikenakannya. Sebenarnya ada sesuatu juga yang ingin dibicarakan oleh Vanka. Mengenai Baby Chloe. "Em … Begini ada sesuatu perihal yang ingin aku bicarakan olehmu mengenai Baby Meira." "Om boleh nggak sih, saya manggilnya Baby Chloe aja?" sela Vanka. "Ya terserah kamu aja, Begini karena kata dokter Baby Meira mengalami separation anxiety, yang kemungkinan karena dia udah terlalu nyaman sama kamu, maukah kamu membantu menjaga Baby Chloe?" Vanka sempat terpaku, mendengar permintaan Galent, bukannya dia tidak suka akan tetapi dia juga kan harus sekolah. "Begini Om, bukannya nolak ya. Tapi kan, saya harus sekolah. Satu lagi saya takut ada gosip-gosip aneh kalau terlalu sering ke rumah ini." "Oh masalah itu, kamu bisa datang kemari setelah pulang sekolah. Dan kamu bisa pulang kapan pun kamu mau, ya … saya harap sih waktunya Baby Chloe tidur malam, baru kamu pulang." "Masalah kenyamanan kamu, saya akan meminta sopir saya menjemputmu dengan begitu tidak akan ada yang bergosip aneh-aneh." "Bukan maksud menyinggung, saya akan beri apapun yang kamu mau, kalau menerima tawaran saya, setidaknya sampai kesehatan Baby stabil." "Saya sih tidak butuh imbalan untuk hal semacam ini, kalau pun saya terima apa nggak akan menimbulkan masalah dengan si mbak pengasuh Baby Chloe?" tanya Vanka yang masih ragu. "Nanti akan saya bicarakan dengan dia, kamu bisa beri jawaban nanti, oh iya pulang jam berapa dari sini?" "Mungkin waktu makan siang saya akan pulang, karena mau liat kondisi adik saya yang kurang enak badan." "Oh iya Om, maaf ni ya. Omong-omong ini kan hari minggu, Om nggak libur kah?" "Eh iya kah, dari tadi saya belum liat agenda di ponsel saya. Dari bangun tidur belum ada pegang ponsel, thanks ya. Kalau gitu saya mau ganti dulu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN