Meski di derap rasa malu karena, melupakan jika hari ini adalah hari libur. Dengan penampilan yang sudah berubah casual. Galent memantapkan diri keluar dari kamarnya. Menghampiri Vanka di ruang tamu.
"Saya mau tebus obat buat Baby Meira, yang kemarin malam sudah keburu tutup semua apotik, kamu mau ikut?"
"Nggak usah deh om, saya di rumah aja. Nanti kalau sudah jam delapan, baru keluar jemur baby Chloe. Matahari pagi bagus untuk kesehatan."
"Baiklah kalau begitu, oh iya kamu mau nitip sesuatu nggak?"
"Nggak ada om terimakasih." Galent pun beranjak dari sofa meninggalkan Vanka. Di tinggal sendiri. Gadis itu pun memilih membaca novel online, di ponselnya. Yang sudah lama tidak dibukanya semenjak dia menemukan Baby Chloe.
Sementara sang pengasuh yang bekerja disini tidak kelihatan, entah kemana. Dari awal Vanka sudah menangkap gelagat sang pengasuh yang dia kenal bernama Reni itu, tidak menyukainya. Mungkin wanita itu berpikir jika Vanka akan mengambil pekerjaannya.
Meski jiwa kepo Vanka sedikit meronta, karena sejak pertama ke rumah ini. Gadis itu tidak melihat Foto Galent bersama istrinya.
Namun jiwa kepo gadis itu, tidak pelak membuat Vanka bersikap ceroboh dengan menelusuri beberapa ruang terbuka yang berada di rumah ini. Bisa jadi dia ketimpa apes kalau pengasuh bayi itu memergokinya lalu menuduhnya ingin mencuri dari rumah ini.
Jadilah gadis itu memilih membaca Novel, sembari memani Baby chloe yang tertidur.
Sudah cukup bermain dengan ponselnya. Perlahan Vanka menggendong Baby Chloe lalu membawa bayi itu keluar rumah, berjalan-jalan kecil di pekarangan samping juga belakang rumah Galent. Untuk menjemur dibawah matahari pagi yang menyehatkan.
Pekarangan rumah Galent terasa sejuk sekali dengan diisi oleh Pohon kiara payung, merupakan salah satu tanaman peneduh yang menjadi favorit saat ini. Pohonnya yang rindang dan bertajuk luas serta kemampuannya menyerap CO2 sangat baik.
Tidak hanya ada pohon itu ada juga pohon Akasia dan palem raja, juga ikut mengisi pekarangan rumah Galent.
Galent melangkah mendekati Vanka, yang tengah bersantai di kursi taman berayun.
"Lama nggak nunggunya?"
"Enggak terlalu lama kok, gimana udah dapat obatnya?" tanya Vanka dengan senyum tipis.
"Udah, eh yuk masuk matahari sudah makin terang." Vanka pun mengangguk lalu mengekor Galent masuk kedalam.
•
•
•
Setelah menemani Vanka memberi minum obat ke Baby Chloe. Galent pamit sebentar ke ruang kerjanya. Untuk mengurus beberapa pekerjaan penting.
Sementara Reni, yang melihat Galent masuk ke ruangannya. Mulai berani buka suara, mendudukan diri di samping Vanka.
"Eha anak kecil, kamu di sini hanya karena Baby Meira lagi sakit aja ya. Jangan sok memerintah saya seperti tadi, dan jangan pikir kamu bisa ambil pekerjaan saya," sergah Reni menabrakan bahunya ke lengan Vanka.
Vanka mencebik jengkel mendengar ocehan wanita, yang berada di sampinya ini. Ingin rasanya gadis itu meremas mulut tajam itu. Namun Vanka juga ingin tertawa melihat raut wajah pengasuh yang takut kehilangan pekerjaan tapi di tutupi dengan expresi sok galak.
"Tenang aja mbak Reni, saya pastikan itu tidak akan terjadi."
"Baguslah kalau kamu sadar diri," sarkas Reni lalu meninggalkan Vanka.
"Astaga siapa juga yang mau rebut pekerjaan lo, gue nggak semalang itu, dasar," gumam Vanka menatap kepergian Reni.
Sudah satu jam lebih Vanka menikmati kesendirian menonton televisi, sambil menemani baby Chloe yang kembali tertidur mungkin efek obat yang diberikan.
Gadis itu pun merasa bosan, baru saja ingin beranjak terhenti karena. Galent menghampirinya.
"Masih tidur Baby Meira. Oh iya maaf lama. bosan ya nunggu,"
"Sedikit Om, udah selesai pekerjaannya?"
"Sudah, baru saja selesai. Enaknya kemana ya. Pasti bosan kalau hanya di rumah seharian, kamu punya ide nggak?" tanya Galent sembari memperhatikan Baby Meira.
"Em ... kalau Om mau keluar bawa Baby Chloe. Kalau boleh saran bagaima kalau ke Baby spa. Tempat yang bagus sepertinya untuk membawa Baby Chloe.Baby spa memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan si kecil. Mulai dari melatih kemampuan motorik, memperlancar peredaran darah, mengasa perkembangan otak lewat stimulasi sensorik, dan meningkatkan kekuatan otot bayi. "
Galent sedikit mengerjap tidak percaya, Gadis yang ada di hadapannya ini. Bisa kepikiran hal semacam itu.
"Kok kamu tau soal seperti itu sih?"
"Baca artikel Om,"
"Ya udah kalau begitu, bentar aku minta Reni siapin keperluan Baby Meira."
Sepuluh menit kemudian Reni menghampiri, Galent. Memberikan tas kecil.
"Yuk! Berangkat," ajak Galent mulai bangkit dari sofa.
"Eh, saya ikut Om?"
"Ya iya lah, saya juga ngajak kamu pergi agar nggak bosan. Kalau saya sih nggak niat pergi. Paling kalaupun Baby Meira harus ke spa. Saya bisa minta Reni membawanya diantar supir saya." Mendadak Vanka termenung mencerna ucapan Galent.
Kenapa sih dia, mau mikir hal spele aku bosan apa gak.
"Kalau sibuk, nggak perlu pergi Om. Rumahmu cukup nyaman kok." Galent tidak mengindahkan ucapan Vanka. Dia berjalan keluar rumah dengan menenteng tas yang berisi perlengkapan Baby Meira. Membuat Vanka terpaksa mengikutinya.
Mereka sudah sampai di salah satu tempat baby spa.
Dua resepsionis menyambut kedatangan Galent juga Vanka. Kedua resepsionis itu sempat terpukau memandangi Galent dengan senyum super manis. Sosok Hot daddy yang keren saat menggendong bayinya karena Vanka tengah mengisi data. Setelah itu Galent dan Vanka melenggang meninggalkan meja kasir.
"Lihat gadis itu terpaut jauh dengan Tuan tampan itu. pasti dia wanita simpanan," ujar salah satu resepsionis kepada temannya yang ternyata masih di dengar oleh Vanka.
Membuat gadis itu menghentikan langkahnya, ingin berbalik untuk melabrak resepsionis itu. Namun langkahnya ditahan oleh Galent.
"Nggak usah di ladenin, nanti kamu malah mempermalukan dirimu sendiri."
"Lepasin gue om. Gue gak terima dikatain seperti itu, jangan harap mereka bisa tenang setelah bergosip yang nggak benar tentang Gue," geram Vanka masih dengan suara rendah.
"Sabar ya, mending kita cari spa lain aja yuk, kalau kamu nggak suka di sini, dua wanita itu, biar aku yang urus."
"Gue udah nggak mood, gue mau pulang sekarang. Terserah lo deh om mau kemana, yang penting anterin ngambil motor gue dulu." Vanka pun melangkah dengan penuh amarah lalu memberi tatapan tajam saat melewati meja kasir.
Galent pun mengekor di belakang Vanka. Saat di meja kasir sempat berhenti sejenak. "Saya pastikan ini jadi hari terakhir kalian bekerja. Dan akan saya pastikan tidak ada yang mau menerima pekerja yang suka bergosip seperti kalian."Mendengar itu dua resepsionis menjadi kalang kabut, berusaha mengejar Galent meminta maaf. Namun di acuhkan oleh pria itu. Yang terus berjalan masuk kedalam mobil.
Sepanjang perjalan tidak ada yang membuka pembicaraan. Sebenarnya Galent ingin berbicara. Namun takut membuat gadis yang berada di sampingnya akan semakin marah. Apa lagi tidak seperti biasanya mendengar gadis itu pakai aksen lo, gue saat berbicara padanya.
"Terimakasih Om, maaf Gue pulang dulu ya."
"Iya nggak apa, tapi kamu besok datang lagi kan? Oh iya akan saya pastikan kedua orang itu menjadi pengangguran juga nggak akan bisa mencari kerja dengan mudah."
"Gak tau, besok gue pikirin datanga lagi atau tidak." Vanka pun keluar dari mobil setelah melepas seat belt nya.
Melihat Vanka sudah keluar dari rumahnya. Galent memanggil Reni untuk memberikan Baby Meira. Setelah itu kembali melajukan mobil, ke rumah sakit untuk melihat Mama Nuri.
•
•
•
"Bagaimana keadaan Mama?"
"Sudah cukup baik, Dokter bilang besok baru bisa pulang. Kenapa sih nggak pulang sekarang aja. Mama sudah bosan di sini, Mama juga kangen main dengan cucu mama," cicit Mama Nuri murung.
"Oh iya kenapa baru datang sekarang, biasa kalau waktu Mama harus sarapan kamu sudah ada di sini."
"Baby Meira sakit mulai kemarin malam mengalami separation anxiety, dan dokter menyarankan untuk memanggil gadis yang menjaganya waktu hilang kemarin, jadi pagi tadi aku mengobrol sebentar dengannya. Galent juga ada beberapa pekerjaan penting tadi."
Mendengar ucapan Galent, wajah Mama Nuri berbuah masam juga khawatir mendengar cucunya sakit.
"Oh, jadi karena anak kecil yang udah nyulik cucuku itu, kamu melupakan Mama. Jadi bagaimana keadaan cucuku sekarang?"
"Oh, ayolah Mah! Dia nggak nyulik Meira, dia orang baik Ma. Jangan mengajakku berdebat karena hal yang sama."