Belum redah amara Vanka, karena masalah di salah satu Baby Spa kemarin. Kini amarahnya memuncak setelah, mencuri dengar pembicaraan, waktu gadis itu baru saja ingin membuka pintu rooftop gedung sekolahnya.
Di balik pintu. Vanka mendengar suara siswi yang berbicara kepada temannya, yang dia kenali pemilik suara itu iala Bella. Mengatakan jika dia kedal karena usaha mempermalukan Cia, untuk membalas Vanka, dengan merencanakan kejadian di club tempo hari gagal.
Dengan geram Vanka menendang pintu, lalu menerjang Bella, memberi satu pukulan lalu menjambak rambut Bella dengan kasar.
"Jadi di club itu ulah lo! Berapa kali dibilang, jangan coba-coba cari masalah sama Gue maupun dengan orang yang berada di sekitar gue, lo! Nggak akan lepas dengan mudah!" teman-teman Bella yang tadi terperangah dengan kedatangan Vanka yang secara brutal. Kini berusaha memegangi Vanka yang akan mulai menyerang lagi.
Dasarnya teman-teman Bella yang hanya pandai berdandan. Tidak menguasai ilmu bela diri, membuat empat teman Bella terpelanting karena di hempaskan Vanka. Membuat beberapa bagian tubuh para gadis itu lecet-lecet.
Kini Vanka mencengkram leher Bella."Gue peringati untuk terakhir kali, jangan pernah mengusik apapun yang berhubungan dengan gue." Bella pun dilepas dengan napas tersengal sambil mengusap bibirnya yang berdarah. Dengan memberi tatapan tajam Vanka pun meninggalkan sekelompok siswi itu.
Saat tengah makan siang bersama di kantin. Vanka pun memperingati Cia untuk tidak lagi berteman dengan, teman-teman baru Cia yang mengajak ke club kemarin. Gadis itu menceritakan kejadian saat di rooftop. Tidak lupa juga meminta Hara yang kebetulan gabung makan siang bersama untuk mengawasi teman-teman Cia.
Bel istirahat selesai, Vanka. Cia juga Hara pun masuk ke kelas masing-masing. Baru saja guru ingin menulis di papan tulis, seorang siswi menghadap guru. Untuk memanggil Vanka ke ruang BK.
Ternyata Bella melaporkan Vanka, dengan laporan penganiayaan. Dengan bukti Video yang direkam diam-diam oleh salah satu teman Cia.
Orang Tua Vanka pun terpaksa di panggil. Cia yang ketakutan menangis dipelukan Vanka. Sebenarnya gadis itu tidak dipanggil tapi dia memaksa ikut ke ruangan BK, karena menurutnya masalah ini terjadi juga karenanya.
"Kenapa kamu seperti ini nak? Apa yang kamu lakukan sampai beberapa temanmu luka seperti ini?" tanya Sen mendekati anak atasanya itu, saat baru saja masuk ke ruangan.
"Vanka melakukan pengancaman juga penganiayaan kepada lima siswi ini Nyonya Seno. Ini buktinya."Guru BK menyodorkan ponsel ke hadapan Sen.
"Pak! Yang terjadi sebenarnya tidak seperti itu, saya punya alasan melakukan itu. Mereka …."
"Apa yang membuatmu melakukan tindakan seperti ini nak?" tanya Sen berpura-pura tampak syok.
"Mama juga nggak pernah mengajarimu bersikap kasar."
Vanka hanya bergeming, tidak ada sedikitpun niat untuk menimpali ucapan Onty Sen nya, berpura-pura memperlihatkan raut wajah yang bersalah.
"Karena Vanka tidak memberi alasan atas tindakan brutal ini, Mohon maaf saya akan skorsing, selama seminggu sebagai hukuman," ucap guru BK. Yang membuat Cia ingin buka suara karena tidak terima Vanka di skorsing. Namun diurungkan karena melihat gelengan Vanka.
"Kalian berhutang penjelasan sama Onty," bisik Sen kepada Vanka dan Cia. Saat ketiga wanita beda usia itu melangkah keluar dari ruang BK. Karena urusan mereka sudah selesai.
Vanka mengangguk, tidak banyak bicara mengantarkan Sen ke mobilnya.
•
*
•
Benar saja sejak Vanka pamit kemarin siang, dia tidak mau datang ke rumah Galent lagi. Pria itu sebenarnya tidak ingin mengganggu Vanka. Namun karena malam ini Baby Chloe Masih sulit tidur juga sering nangis, suhu tubuh juga sedikit tinggi terpaksa Galent menghubungi Vanka.
Nada suara Vanka terdengar sangat khawatir, saat mendengar Baby Chloe masih belum sehat. Namun dia tidak bisa keluar dari apartemen karena untuk malam ini. Seno memberi hukuman tidak boleh ada yang keluar dari apartemen. Ada dua orang di lantai bawah untuk mengawasi.
Seno mengancam. Tidak akan membantu apapun masalah yang akan terjadi, jika tetap ngeyel keluar.
Karena tidak bisa ke rumah Galent. Vanka meminta Galent mendekatkan ke telinga Baby Chloe, lalu menyanyikan lagu yang biasa nya dinyanyikannya untuk Baby Chloe.
Pagi harinya Vanka sudah bersiap dengan seragam sekolah seperti biasanya. Setelah sarapan selesai. Gadis itu mengantar Cia ke sekolah.
Walau di skorsing. Vanka tetap memilih berangkat ke sekolah seperti biasa, karena gadis itu takut, mendadak Mihu-nya datang ke apartemen karena mendengar laporan. Jika anak kesayangan Luna juga Agam itu tidak berangkat ke sekolah. Dan Vanka tidak mau hal seperti itu terjadi.
Sampai di sekolah, Vanka meminjam mobil Hara untuk dipakai ke rumah Galent. Jika naik motor. Takut ada yang mengenali.
Kini Vanka sudah sampai di depan rumah Galent, saat ingin mengetuk pintu, dia berbalik saat mendengar suara mobil yang baru tiba di pekarangan rumah.
Wanita paruh baya yang turun dari mobil yang terlihat mewa, menatap sinis Vanka. Dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Oh, ini ya orang pernah menculik cucuku!" Baru saja Vanka ingin menjawab wanita paruh baya di hadapannya, namun teralihkan dengan pintu yang mendadak terbuka. Reni yang menteng plastik sampah ikut terkejut saat melihat Mama Nuri.
Reni melanjutkan membuang sampah setelah sempat menyapa sebentar. Ibu dari majikannya itu.
"Maaf, saya nggak pernah menculik cucu tante," ralat Vanka dengan nada suara renda mencoba mengontrol emosi.
"Halah! Kalau nggak niat menculik, kenapa kamu tidak lapor polisi? Terus kalau kamu baik, kenapa masih berkeliaran dengan seragam saat sudah pukul delapan pagi?" cecar Mama Nuri.
"Banyak hal yang saya pertimbangkan untuk itu diputuskan tidak melapor kepada polisi, dan saya lagi nggak ada kelas, siswa kelas Xl dipulangkan karena, sekolah mengadakan try out untuk kelas Xll."
Oh good sejak kapan gue, pandai berbohong seperti ini! Jangan sampai ada kebohongan lagi.
"Terus ngapain kesini, bukanya pulang ke rumah kamu."
"Saya diminta menjaga baby Chloe selama dia sakit,"
"Baby Chloe?"
"Maksudnya Baby Meira tante."
"Nggak perlu lagi, sekarang sudah ada saya. Jangan harap kamu bisa memanfaatkan Meira untuk mengambil hati Galent. Dengar kamu nggak akan bisa menggeser posisi menantu saya," sarkas Mama Nuri lalu mulai melangkah meninggalkan Vanka.
Mata Vanka mulai memanas, dadanya sesak sekali seolah-olah baru saja terkena hantam dengan benda yang besar sekali.
Ckh, kolot sekali wanita yang ada di hadapan gue ini.
Vanka menarik napas dalam. Mencoba menetralkan dirinya. "Tenang aja Tante hanya ingin membantu saja, kalau begitu saya pamit dulu," pamit Vanka dengan suara bergetar menahan tangis.
Setelah di mobil baru tangisnya pecah.
"Belum pernah gue mengalami penghinaan seperti ini, argh seburuk itukah gue di matanya," cicit Vanka menangis, membenamkan wajahnya di stir mobil.