Sebenarnya Galent ada meeting internal pkantor, yang dilaksanakan setiap bulannya. Namun dia segera meninggalkan ruang meeting saat menerima panggilan dari scurity rumahnya. Yang memberi kabar jika terjadi keributan antara Mama Nuri juga Vanka.
Galent tidak akan menyangka, jika sang mama keluar dari rumah sakit tanpa sepengetahuannya. Padahal saat memani Mama Nuri sarapan, pria itu sudah menyampaikan jika waktu makan siang nanti Galent akan membawa Mama Nuri pulang ke rumah.
Pria itu menghela napas kasar saat sang mama dengan mudahnya berkata, kalau dia tidak ingin ada yang mendekati sang anak lalu menggeser posisi menantu kesayangannya.
Ingin rasanya Galent, membongkar perilaku buruk menantu kesayangan mamanya itu. Namun pria itu masih punya tingkat kewarasan tinggi, untuk tidak melontarkan kata-kata yang membuat Mamanya syok dan harus masuk ke rumah sakit lagi.
"Mama tau tidak, kalau dia nggak datang, mungkin Baby Meira mungkin akan mengalami sakit yang cukup serius, separation anxiety tidak bisa dianggap remeh Ma! Galent nggak gampang bujuk Vanka untuk mau datang ke rumah ini," erang pria itu lepas kendali.
"Kamu … kamu berani bentak Mama hanya karena anak kecil itu, apa hubungan dia dengan Meira. Yang dibutuhkan Meira itu Mamanya, seharusnya kamu sering bawa bayi itu ketemu istrimu."
"Dengan sering mempertemukan mereka, juga akan membuat Niya semangat berjuang untuk bangkit dari komanya." Galent membuka mulutnya sedikit, ingin menimpali perkataan Mamanya. Namun pria itu mengatupkan mulutnya kembali tidak ingin melanjutkan perdebatan lagi yang membuatnya semakin hilang kendali.
"Akh, sudahlah Ma, aku capek." Hanya itu kata yang terlontar oleh Galent. Lalu meninggalkan sang Mama.
Lebih baik dia mencari Vanka untuk
meminta maaf, daripada harus mendengarkan sang mama yang tidak bosan memintanya, untuk menemui orang yang sudah menorehkan luka sangat dalam di hatinya.
•
•
•
Dalam kegusaran hatinya Vanka terus melajukan mobilnya, sampai kendaraan itu membawanya ke sebuah taman.
Gadis itu keluar dari mobilnya, berjalan di jalan kecil mengitari taman. Dengan isi pikiran yang seperti film terus memutar perkataan Wanita paruh baya yang menghinanya tadi.
Vanka mulai mengerang, terduduk di kursi taman yang terletak agak sudut.
"Apa seburuk itu gue di matanya, sama sekali gue nggak kepikiran buat gantiin posisi orang yang bahkan namanya aja gue nggak tau, disini siapa yang butuh dan dibutuhkan sih!" lirih Vanka dengan air mata yang kembali menggenang.
"Woh, expresi penjiwaan lo, menakjubkan sekali, auranya juga kuat banget," ujar seseorang yang sontak mengagetkan Vanka.
"Maaf ngagetin, gue sutradara yang lagi ngadain syuting di sini." Vanka melihat sekelilingnya memang ada perlengkapan syuting tidak jauh dari kursi taman yang di dudukuinya. Dirinya yang terlalu kalut hingga tidak menyadari situasi sekitarnya.
"Oh iya nama lo siapa? Gue tertarik buat kerjasama bareng lo buat main drama seri yang lagi diproduksi ini."
"Gue Vanka. Maaf bang nggak tertarik buat main drama dan sejenisnya."
"Nggak suka drama. Gue masih ingin tetap bebas dan menikmati hidup yang nyata," tolak Vanka dengan nada suara datar.
"Lo yakin? Nolak kesempatan yang nggak datang dua kali ini? Gue yakin lo akan jadi bintang besar."
"Kenapa nggak? Gue bukan kebanyakan orang yang yang rela ngelakuin apa aja demi terkenal, gue nggak suka diatur. Seperti yang dibilang tadi masih ingin bebas menikmati kehidupan nyata tanpa tekanan dari apapun." Vanka pun beranjak meninggalkan kursi taman.
Sutradara yang dikenal bernama Rams sempat memanggil, namun gadis itu enggan menoleh. Sampai tidak lama Vanka merasa ada yang mengikuti dirinya, dengan gerakan cepat berhasil mengunci tangan Galent.
"Eh lo Om, gue kira orang yang tadi. Ngapain mengendap-ngendap nguntit gue?" tanya Vanka melepas Galent. Pria itu pun meringis mengibaskan tangannya.
"Em …. saya mau minta maaf atas ucapan Mamaku tadi."
"Lupakan saja, nggak usah dibahas. Mending balik ke kantor sana." Vanka memperpanjang langkahnya.
"Saya nggak akan pulang, sebelum kamu menerima permintaan maafku," ucap Galent juga memperpanjang langkahnya mencoba menyusul langkah Vanka.
Setelah dapat menyusul langkah Vanka. Pria karismatik itu menggenggam tangan Vanka membuat gadis itu terpaksa mengikuti langkahnya.'
"Mau kemana sih Om, gue udah nggak apa-apa. Udah sana balik ke kantor." Galent tidak menghiraukan ocehan Vanka. Pria itu terus membawa gadis yang sudah lelah meronta sampai ke tempat dimana mobil terparkir saat datang ke taman ini.
"Mau kemana sih? Mobil gue gimana kalau di tinggal."
"Mana sini kunci mobil kamu, biar orang ku yang jaga selama kamu pergi sama saya." Gelent kembali keluar dari mobil saat kunci mobil Vanka sudah berada di tangannya. Beberapa menit kemudian dia kembali masuk lalu mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Kini Galent sudah menghentikan mobilnya di salah satu Equinara/tempat berkuda.
"Lo mau ajak gue berkuda Om?"tanya Vanka melepaskan seat belt-nya.
"Nggak saya mau ajak kamu menanam sayur, ya berkudalah kamu ih."
"Kok lo jadi nyolot sih Om, ya siapa tau kan lo lagi ada janji dengan seseorang disini mangkanya gue tanya."
"Iya maaf ya buat kamu semakin kesal, oh iya bisa nggak aksen lo, gue-nya di ganti perasaan awal kenal tu. Aksennya menggunakan kata saya."
Vanka hanya menanggapi dengan dhaman, lalu memilih keluar dari mobil. Tidak ingin sampai membeberkan jika suasana hati yang buruk, itu penyebab dirinya tidak menggunakan aksen seperti biasa dalam berbicara.
Hamparan rumput yang hijau sangat memanjakan mata di pagi hari seperti ini. Juga dapat Mengurai sedikit kabut yang bersarang di kelapa eh kepala.
Galent mengajak Vanka ke kandang kuda ditemani oleh salah satu petugas yang bekerja di Equestrian ini.
Sebelum menunggang kuda, petugas meminta Vanka untuk melakukan pengenalan dengan kuda yang akan ditungganginya.
Kuda yang akan dinaiki Vanka memiliki nama Lily. Kuda cantik juga tidak terlalu besar. Sebelum dikeluarkan dari kandang, Vanka memberi kuda itu makan dengan beberapa wortel.
Gadis itu terlihat gugup, karena baru pertama kali berdekatan denga kuda seperti ini. Tapi dia terlihat senang karena kudanya terlihat sangat jinak.
"Kamu baru pertama kali ya ke tempat seperti ini? Kamu suka nggak ke sini?"
"Belum pernah Om. Em … Lumayan Om, sepertinya akan menyenangkan,"
"Kalau begitu ayo kita mulai berkuda."
Petugas melepaskan kuda dari tangannya. Setelah berada di lintasan. Dengan rasa takut dibantu galent akhirnya Vanka bisa naik ke atas kuda. Galent memegang KEKANG KUDA ATAU HORSE RIDING BRIDLEy karena sudah terbiasa. Dia meminta petugas agar dirinya saja yang memegangi tali kuda. Vanka pun mulai mengayunkan TALI KEKANG kuda yang ada di kedua genggaman tangannya.
"Seru ya Om, naik kuda seperti ini!" seru Vanka tersenyum riang.
"Iya saya sering kesini, untuk melepas penat juga beban pikiran."
Mereka pun mengelilingi arena berkuda di tempat ini, sembari berbincang.
"Maaf kan Mama aku ya, dia memang seperti itu jika ada wanita yang mendekati saya. Terlalu sayang dengan menantunya yang perfect di matanya tapi tidak dengan saya."
"Eh!" Mendengar penuturan pria yang tengah bersamanya ini. Vanka dapat menangkap jika hubungan rumah tangga pria beranak 1 ini tidak baik-baik saja. Tapi begitu pun Vanka tidak ingin terlalu kepo dengan masalah pribadi orang lain.
"Iya, saya udah maafin kok Om." Hanya itu kata yang terlontar dari bibir ranum Vanka.
"Terus kamu masih mau kan menjaga Baby Meira, sampai kondisinya membaik. Tenang aja Mama saya tidak tinggal di rumah itu." Cukup lama Vanka terdiam mencerna perkataan Galent. "Em … lihat nanti ya Om, saya pikir dulu.