Butik

1217 Kata
Sudah dua hari sejak berkuda, Vanka masih tidak mau datang lagi ke rumah Galent. Gadis itu belum siap bertemu kembali dengan Mamanya Galent. Memang, wanita paru baya itu tidak tinggal di rumah yang di tempati Galent. Tapi bukan tidak mungkin Mama Nuri datang di saat Vanka sedang berada di rumah itu. Yang kemungkinana akan terjadi kekacauan seperti dua hari yang lalu. Vanka tidak ingin itu terjadi, dia takut lepas kendali, mengingat tinggakat kesabarannya tidak setebal Mihunya, yang memiliki hati selembut sutera. Sejak Vanka tidak lagi ke rumah Galent . Pria itu juga Mama Nuri yang menginap satu malam di rumah itu, dibuat kelimpungan karena Baby Meira terus menangis. Membuat pria itu terpaksa datang ke apartemen Vanka saat tengah malam, yang membuat pria itu nyaris ditahan oleh pihak keamanan apartemen. Butuh perjuangan sekali, untuk meminta sebuah baju Vanka. Security yang bekerja di rumah Galent berkata. Jika memakai sebuah baju yang masih tercium wangi tubuh Vanka. Mungkin akan menenangkan Baby Meira. Percaya tidak percaya entah pemaham dari mana, orang dulu tidak sedikit yang bilang jika ada anak, yang tidak dapat berjauhan dari ayahnya. Tapi sang anak harus ditinggal merantau, lalu tidak dapat tidur di malam hari, bahkan sampai demam. banyak yang memberi saran untuk memakaikan baju yang terakhir kali dikenakan sebelum pergi. Galent pun menerima saran dari scurity rumahnya, siapa tau benar membantu. Meski tidak ke rumah Galent. Vanka cukup sering menghubungi Mbak Inem Art yang bekerja di rumah galent untuk bertanya kondisi Baby Meira. Gadis itu juga mengirim rekaman suara dirinya saat menyanyikan lagu tidur. Yang diputar Galent saat malam hari. • • • Karena tidak ke rumah Galent lagi. Vanka lebih banyak menghabiskan waktu di apartemen. Mengerjakan pr yang diberikan meski dia dalam masa skorsing. Juga mengisi waktu sore harinya dengan mengajari Cia beberapa ilmu dasar karate. Mengingat kejadian di club kala itu, sepertinya Cia butuh keahlian untuk membela dirinya, jika harus menghadapi situasi seperti itu. Vanka juga memiliki kegiatan lain untuk mengisi waktu luang selama masa skorsing. Gadis itu kembali menekuni salah satu kegiatan kesukaannya, yaitu membuat desain baju. Awalnya dia hanya suka menggambar, tapi Aletta salah satu guru yang mengajar di kelasnya juga pemilik salah satu butik terkenal. Meminta Vanka agar mencoba desain baju. Tiga sketsa gaun dan dress pun berhasil Vanka ciptakan. Dan Buk Aletta sangat menyukai hasil karya Vanka. Dan bersedia membayar jika gadis itu memberi sketsa yang lain lagi. ______________¥_____________ Disini lah Vanka sekarang, setelah mengantar Cia ke sekolah juga bingung harus kemana. Gadis itu memilih ke buktinya Buk Aleta. Yang kebetulan gurunya itu juga lagi di butik. Tidak ada jadwal mengajar. Para pegawai butik terlihat sangat sibuk, tidak seperti biasanya. Bahkan beberapa pegawai terlihat mengganti gaun maupun dress yang ada di manekin. "Sepertinya para pegawai ibu terlihat sibuk sekali?" tanya Vanka setelah menyalami Buk Aleta. "Iya nanti, salah satu istri pemilik perusahaan yang lumayan besar dan terkenal. Mau melihat koleksi yang ada di butik ini." "Oh, gitu ya Buk, semoga beliau suka dengan koleksi-koleksi yang ada disini." "Iya Vanka, ya sudah ibuk lanjut pekerjaan ibuk lagi. Kamu naik ke atas saja." Vanka pun mengangguk. Beranjak dari sofa yang disediakan untuk customer. Karena sudah beberapa kali ke butik Buk Aleta, Vanka mulai terbiasa menyusuri tempat ini tanpa di dampingi oleh pegawai butik. Beberapa mbak-mbak pekerja pun sudah akrap dengan dirinya sebab itu Vanka cukup nyaman dengan tempat ini. Di lantai dua ini, adalah tempat produksi kebaya, dress juga yang lainnya sebelum siap jual. Ada ruang jahit, dan beberapa ruang lainnya. Vanka memasuki ruang finising, sekaligus ruang untuk mendesain baju. "Loh Vanka tumben pagi-pagi sudah datang ke sini, kok nggak sekolah?" tanya Alika seorang desainer di butik ini. "Kena skorsing Mbak," "Kok bisa, kenapa? Setau Mbak kamu murid baik loh. Kalau dengar buk Aleta cerita ke kami." "Ribet Mbak, males jelasinnya." "Oh ok, nggak apa kalau kamu nggak mau cerita. Oh iya bisa minta bantuan nggak ngerapihin seketsa ini, mbak mau ke bawah sebentar." "Bisa Mbak." Vanka pun mengambil buku gambar yang di sodorkan kepadanya. Lalu mulai fokus dengan alat gambar yang ada di meja. Setelah setelah selesa dengan sketsa itu, dia mengeluarkan peralatannya sendiri. Untuk melanjutkan gambar yang belum siap dia kerjakan saat di rumah. • • • Di lantai bawah Buk Aletta juga beberapa pegawai menyambut, seorang wanita yang baru saja masuk ke butiknya. "Selamat datang di butik saya Nyonya Luna, semoga anda suka dengan koleksi yang ada disini." "Terima Kasih Buk Aleta." Selain menunjukan Koleksi terbaiknya, pemilik butik yang sekaligus guru Vanka itu pun memperlihatkan sketsa. Siapa tau Customer pentingnya itu suka. Setelah melihat-lihat sketsa itu, ternyata Luna tertarik dengan beberapa desain yang dibuat oleh Vanka. "Saya suka dengan, desain-desain yang ada di buku ini Nyonya," ujar Luna memberikan buku itu kepada Buk Aleta. "Ini hasil karya salah satu murid saya di sekolah, dia memang berbakat. Susah payah saya bujuk untuk menciptakan beberapa desain ini. Dia juga menolak saat saya ingin memberi insentif untuk karyanya." Luna terlihat antusias mendengar pemaparan owner butik ini.. "Oh iya, dia sedang berada di lantai atas sekarang. Mau saya panggilkan? Siapa tau Nyonya ingin request desain tertentu." "Iya Boleh, kebetulan saya sangat suka dengan desain yang dia buat." Anet pun meminta Alika memanggil Vanka untuk turun ke lantai bawah. Saat Luna beranjak berkeliling untuk melihat-lihat koleksi yang di pajang. "Ya buk Anet ada?" tanya Vanka yang berada di udakan anak tangga terakhir, Men sejajari Buk Aleta. "Itu Customer penting ibuk, mau bertemu denganmu." Vanka pun menghampir Luna yang tenga memperhatikan baju yang ada di manekin. "Selamat siang Nyonya." Luna pun berbalik hendak membalas sapaan Vanka. Seketika membulat melihat raut wajah terkejut sang anak yang sama terkejut seperti dirinya. "Vanka!" "Loh, Nyonya sudah kenal dengan Vanka?" tanya Buk Aleta yang terlihat bingung saat menatap raut wajah terkejut dari kedua orang yang berada di dekatnya ini. "Iya saya kenal dia kan …." Luna tidak melanjutkan ucapannya saat melihat raut wajah Vanka yang pias. Juga mata yang berkaca-kaca seolah memohon untuk tidak membeberkan siapa dia sebenarnya. "Boleh saya berbicara dengan Vanka? Berdua saja, juga tidak di sini. Nanti akan beritahu dia, Gaun seperti apa yang saya inginkan." "Baiklah, ibu tidak masalah." Dengan langkah gontai Vanka kembali atas untuk mengambil tasnya. "Saya permisi Buk Anet," pamit Luna setelah melihat Vanka yang sudah turun kembali. "Terima Kasih Nyonya. Sudah menyempatkan melihat-lihat ke butik saya ini." Luna mengangguk memberi senyum tipis lalu melangkah keluar. Disusul oleh Vanka yang mengekor dibelakangnya. Luna meminta sopirnya untuk membawa mobil Vanka(milik hara yang dipinjam selam jam sekolah). Sementara Vanka yang menyetir mobil Luna. Vanka semakin resah, saat Mihunya masih tidak mengeluarkan suara. "Mi," Vanka memberanikan diri memanggil Luna dengan nada suara rendah. Luna masih bergeming, membuang napas untuk meredam amarahnya. Sementara Vanka semakin takut karena Mihunya tidak bergeming dengan panggilannya. "Coba Mihu mau dengar apa penjelasan kamu, tentang ini semua. Saat jam sekolah kamu malah ada di butik." "Sepertinya Mihu, kurang perhatian dengan anaknya sendiri." "Vanka kena skorsing Mi, selama seminggu. Sisa dua hari lagi masa skorsingnya." Mendengar itu Luna mengubah posisi duduknya menghadap Vanka. Menatap lekat gadis itu. "Kenapa kamu bisa sampai di skorsing?" "Em … itu Vanka melukai lima siswi, teman sekelas aku Mi," "Hah!" Luna tampak syok, mendengar kalau anaknya bisa bertindak brutal seperti itu. "Vanka punya alasannya Mi … em intinya aku melakukan itu karena tidak terima Cia diperlakukan semena-semena." Luna masih terlalu syok, sampai tidak dapat lagi mengeluarkan kata-kata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN