Guratan wajah lelah semakin terlihat, saat Vanka berusaha lepas dari kemacetan ibu kota yang akan selalu terjadi di setiap malamnya, terkecuali saat lebaran tiba kota Jakarta sepi karena ditinggalkan penduduk yang mudik ke kampung halamannya.
Gadis cantik itu kini sudah sampai di pelataran ruma Hara. Setelah berbasa-basi dengan scurity yang membuka-kan pintu gerbang untuknya. Vanka masuk ke rumah menghampiri Hara juga Bik Ana yang tengah mengawasi Baby tengah diayun menggunakan baby bounce elecktrik.
"Hai Hara, maaf merepotkan kalian ya."
"Santai aja kak, malah gue senang kok," kata Hara dengan senyum manisnya.
"Apa baby-nya menyusahkan kalian Bik?" Vanka menggeser duduknya mendekati Bibik.
"Agak sedikit rewel sih Non, tapi nggak merepotkan sama sekali kok."
"Terimah kasih ya Bik, sudah membantu menjaganya." Vanka memandangi babynya, mengelus pipi yang masih sensitif itu.
"Hai, apa kau nakal, saat bersama bibik?" tanya Vanka seolah-olah bayinya bisa berbicara, sementara sang bayi nya hanya menggerak-gerakan bibirnya karena sentuhan jari Vanka.
"Oh iya, Cia mana Ra?"
"Lagi di kamar kak, baru beberapa menit yang lalu dia masuk setelah bayi diam dari tangisnya. Mungkin dia lelah karena mencoba menenangkan baby-nya. Saat Bibik ingin membantu dia menolak kak."
"Heem, kalau gitu gue susul ke kamar dulu ya. Oh iya baby bounce ini kamu yang beli?"
"Iya kak, saat pulang sekolah aku sempat mampir beli ini, juga berapa stel baju."
"Makasih banget ya, setelah mandi, nanti uang lo gue ganti. Gue juga mau keluar beli beberapa baju juga perlengkapan yang lain buat baby ini."
"Gak usah atuh kak, gue memang mau belikan buat dedeknya kok. Santai aja kak, macam sama siapa aja." Vanka memeluk sahabat adiknya itu. Beruntung bisa mengenal teman yang tulus.
"Makasih, banget ya. Kalau gitu gue ke kamar liat Cia dulu," ujar Vanka beranjak setelah melepaskan pelukannya.
Saat, Vanka beranjak baby-nya menangis. Gadis itu pun berbalik mengambil bayi mungil itu dengan perlahan, membawa ke dalam buaiannya.
"Ih lucu banget bayinya kak, seperti nggak mau ditinggal kamu lagi. Mybee dia anggap kamu ibunya. Kamu gendong dedeknya hanya menangis sebentar, kalau tadi sedikit sulit nenanginnya," celetuk Hara, membuat Vanka salah tingkah.
"Akh, kamu bisa aja. Hanya kebetulan saja ini mah," sahut Vanka denga senyum kaku.
Vanka pun segera ke kamar, saat membuka pintu dia terkejut melihat Cia, duduk di ranjang dengan menenggelamkan wajahnya di lipatan kedua kakinya.
"Cia …."
"Lo kenapa Cia?" tanya Vanka meletakkan bayinya dengan perlah.
Setelah itu Vanka, mencoba memegang bahu sahabatnya itu. Cia pun perlahan mengangkat wajahnya. Lalu memeluk Vanka.
"Kenapa nangis?" tanya Vanka membalas pelukan sang sahabat.
"Saat Cia, yang menjaga bayi itu, nangis terus. Gue sampai bingung harus apa. Dia hanya diam sebentar saja saat selesai minum s**u, tertidur beberapa menit lalu menangis lagi. Nggak mungkin kan Cia kasih s**u terus kak," aduh Cia sembari tersedu-sedu.
"Mungkin dia lagi kangen Mamanya. Sabar ya kita akan segera cari siapa orang tua baby ini," pujuk Vanka menghapus Air mata sahabatnya itu.
"Kakak, memang benar tidak mudah merawat bayi. Cia benar-benar merasa bersalah sama Mama selama ini, sering membantah ucapannya.
"Iya sama, Nanti setelah urusan kita dengan baby ini selesa kita pulang ya."
"Gue, mau mandi dulu setelah rapi kita jalan ya belanja keperluan baby." Cia hanya mengangguk, lalu teringat sesuatu.
"Oh iya kak, bagaimana dengan Aeere, besok gue yang gantian jalani perjanjian dengannya."
"Ya gitu, sedikit menjengkelkan tapi gue bisa atasi kok, Lo nggak akan kuat nuruti kelakuan mereka. Biar gue aja."
"Nggak mau, kita gantian." Bantah Cia.
Setelah melalui perdebatan akhirnya mereka sepakat untuk bergantian menjalani perjanjian yang mereka buat bersama Aeree. Cia dan Vanka akan bergantian selama seminggu ini.
Kini. Vanka segar kembali, juga sudah cantik dengan polesan make up natural. Gadis mengambil tas juga menggendong bayinya, bersama Cia pun menghampiri Hara juga Bik Ana untuk pamit keluar sebentar.
"Ra, gue, sama Cia keluar sebentar ya, oh iya boleh nggak gue minjam mobil lo. Takutnya ribet kalau ada teman gue juga Cia yang liat mobil gue berada di toko perlengkapan bayi."
"Pakai aja kak, sebelum pergi kita makan malam dulu yuk. Oh iya tapi apa nggak sebaiknya dedek bayinya gak usah dibawa. Kasian sudah malam,"
"Nggak apa lah, takut ngerepotin kalian kalau dia nangis nanti. Makasih ya pinjaman mobilnya," jawab Vanka sungkan.
"Iya makasih ya Ra, kami makan di luar aja nanti takut kemalaman pulangnya," timpal Cia.
"Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan ya." Kedua gadis itu mengangguk berlalu setelah pamit sekali dengan Hara juga Bik Ana.
Setelah meletakkan baby di pangkuan Cia. Vanka mulia melajukan mobil Hara dengan kecepatan sedang. Membelah jalan yang terlihat rami renggang. Kini sampailah mereka di sebuah toko perlengkapan bayi yang cukup besar.
Pegawai tokoh menyambut kedatangan mereka dengan senyum tapi memberikan tatapan Aneh kepada Vanka yang tengah menggendong baby-nya.
"Ada apa mbak, matamu lihat gue seperti itu? Hati-hati kemarin gue ada dengar, cewek menatap seseorang seperti tatapan lo tadi. Saat pulang kerja, dia dihadang dan besoknya ditemukan matanya sudah tidak berada di tempat yang seharusnya." Setelah itu Vanka meninggalkan pegawai yang mendadak pucat pasi karena mendengar perkataannya.
•
•
•
Cukup lama mereka memilih karena hampir semua barang yang ada di sini terlihat menggemaskan.
"Cia yang penting-penting aja pilihnya." Vanka memberi peringatan. Karna tau sang sahabatnya itu akan kalap jika berbelanja.
Cia memilih baju sementara Vanka. Mencari kain untuk membedong baby, ibu-ibu yang tengah memilih barang di dekatnya. Sering kali mencuri pandang menatap aneh Vanka. Ingin sekali rasanya Vanka mencungkil mata itu.
"Anaknya ya neng, suaminya kemana kok nggak ikut mengantar kesini?" tanya ibu itu mendekati Vanka.
"Em … ini bukan anak saya buk, ini keponakan yang dititipkan ke saya, saya belum menikah masih sekolah," jawab Vanka tersenyum kaku.
Ibu itu manggut-manggut"Saya pikir anaknya eneng, abis terlihat anteng banget sama eneng nya, kalau begitu saya duluan ya." Vanka mangguk memberi senyum tipis.
"Dasar, ibu-ibu kepo!" gerutu Vanka setelah ibu itu menjauh.
Akhirnya semua yang di cari sudah di dapatkan. Kedua gadis itu meletakkan semua barang pilihannya di meja kasir.
Mulai dari, dua lusin baju dan celana. Kain bedong, kaos kaki. Topi, handuk mereka juga bantal bayi diletakan di meja kasir.
"Ada yang kurang nggak sih?" tanya Vanka kepada Cia.
"Em … bak mandi kak? Beli nggak?"
"Iya minta tu, sama mbaknya ambilin bak mandi."
"Sepertinya sudah semua, kita tinggal beli popok aja kali kak, Perlengkapan mandi seperti sabun dan lainya sudah dibeli hara."
"Ok, kalau gitu kita mampir sebentar di minimarket dekat sini." Setelah menyusun barang di bagasi mobil. Vanka mulai melajukan mobilnya. Tidak lama dering ponselnya Berbunyi.
"Iya, sebentar lagi kami kesana."