Semua berkumpul

1306 Kata
Luna melangkah kakinya memasuki gedung perkantoran sang suami, membawa menu makan siang untuk suaminya. Yang hampir menjadi rutinitasnya di kala mendekati waktu makan siang. Wanita anggun yang kini sudah berusia kurang lebih empat puluh tahun itu masih tetap terlihat awet muda, juga elegan dengan tatanan rambut sanggul rendah dengan poni samping sederhana, membuatnya terlihat berkelas. Setelah membalas sapaan resepsionis, yang tersenyum tulus kepadanya. Luna berlalu menuju lift untuk sampai di ruangan suaminya. Agam tidak ada di ruangannya, masih meeting dengan pegawai lainnya. Sembari menunggu sang suami. Luna menata makanan yang dia bawa di atas meja. Makanan sudah tertata di atas meja, agar tidak bosan menunggu. Luna membaca majalah yang ada di rak bawah meja. Tidak lama, Luna mendengar knop pintu yang dibuka. Dia kembali menyimpan majalaya saat sang suami yang menghampirinya dengan senyum yang menawan meski di usianya sekarang menginjak empat puluh lima tahun. Namun masih terlihat gagah juga berotot. "Tumben, lebih cepat datangnya," ujar Agam membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri." Meski di usia yang seperti ini Agam masih suka sekali bermanja-manja dengan sang istri. Menikmati Aroma tubuh Luna yang selama 18 tahun menjadi candu baginya. "Jangan gitu atuh, malau kalau ada yang masuk," sungut Luna dengan wajah yang bersemu. "Biarin, sama istri sendiri juga." "Oh, iya pagi tadi aku ke apartemen anak-anak tapi resepsionis bilang mereka tidak pulang kemarin malam. Aku khawatir kalau terjadi sesuatu dengan mereka." "Kamu sih, udah aku bilang larang Vanka balapan seperti itu. Tapi kamu nggak mau mendengarkan permintaanku," omel Luna sembari mengambilkan nasi dan lauk ke piring suaminya. "Anak-anak seperti mereka jika di larang akan semakin membangkang. Kita cukup memantau mereka dalam bergaul, selagi masih dalam batas wajar kita tidak perlu khawatir." "Aku sudah pastikan kok, jika arena yang digunakan Vanka balap mobil aman dari kendala mobil lain, aku mengalihkan jalur yang digunakan pengendara lain, selama Vanka balapan," jelas Agam mencoba menenangkan sang istri. "Jadi kamu jangan khawatir, udah nggak usah cemberut lagi, mau aku gigit bibirmu?" Lun mencebik masih sempat menggoda dirinya saat khawatir seperti ini. "Terus kenapa anak-anak nggak pulang ke apartemen, mereka kemana?" "Anak-anak sampai di apartemen nggak lama setelah kamu meninggalkan apartemen mereka," jawab Agam setelah mengunyah makanannya. "Terus, kamu tahu kenapa mereka nggak pulang?" tanya Luna lagi. "Kamu semakin cerewet ya sekarang." Agam yang gemas menggigit bibir Luna. Lalu mel*mat bibir istrinya yang sempat meringis kesakitan. Cukup lama Agam melumat bibir istrinya hingga pedas dari makannya sudah tidak terasa lagi. "Kamu ih, kebiasan," sungut Luna memukul Agam setelah pagutan mereka terlepas. "Abisnya kamu, semakin menggemaskan saat sedang mengomel seperti tadi." "Erik sedang meminta kabar dari orangnya, menganai itu. Setelah makan siang dia akan menyampaikan laporan. Agam dan Luna pun melanjutkan makannya, hingga makanan yang tadi dibawa hanya tersisa sedikit. Jam makan siang usai. Tidak lama Erik masuk kedalam ruangan. "Katakan Erik apa yang kamu ketahui." "Maaf Tuan, kemarin malam orang saya, tidak mendampingi Nona Vanka saat balap. Dia meninggalkan anak-anak karena ada keperluan mendesak, saat mereka kembali. kumpulan anak-anak itu sudah bubar," papar Erik sedikit was-was. "Saat melacak gps, mobil Nona Vanka berada di rumah salah satu teman wanita Cia, hanya sampai situ yang saya ketahui," imbuhnya lagi. "Kau tau siapa teman Cia itu?" "Namanya Hara Tuan. Dia hanya tinggal bersama Art, di rumah itu. Orang tuanya tinggal Di Italia. Selama ini dia anak yang baik Tuan dalam bergaul." "Heem … baiklah terima kasih Erik." "Syukurla kalau mereka baik-baik saja. Malam ini aku mau meminta kedua anak gadis itu pulang ke rumah kita untuk makan malam bersama." Luna yang sedari tadi hanya mendengarkan penjelasan Erik kini sedikit legah mengetahui anak-anaknya baik-baik saja. "Baiklah Tuan kalau begitu, saya pamit dulu." "Rik, malam ini bawa Adel ke rumah ya. Untuk makan malam bersama. Sudah jarang sekali kita makan bersama," pinta Luna. "Iya Nyonya, akan saya hubungi istri saya nanti." Erik pun pamit keluar ruangan. "Kalau gitu, aku pamit juga ya sayang mau belanja bahan makan, untuk makan malam." Saat ingin beranjak tangan Luna di cekal oleh Agam lalu membawanya kembali duduk di sofa. "Kenapa? Oh iya aku boleh undang Sen dan keluarganya tidak? Agar semakin lengkap." "Atur saja sesukamu, lakuan yang membuatmu senang. Tapi …." "Tapi apa?" tanya Luna menyipitkan matanya, curiga dengan yang ada di pikiran suaminya itu. "Manjain dedek gemes dulu ya, baru pulang." "Tuh kan bener feeling aku, nggak jauh-jauh dari anu." Luna memutar bola matanya malas. Agam menggendong Luna. Ibu satu anak itu meminta diturunkan. "Nggak usah gendong ih, nanti tulang-tulangmu sakit karena menggendong aku." "Enak saja! Aku masih kuat ya, belum setua itu. Jangan meremehkan ku." "Ckh nggak sadar umur kamu ih." Agam membungkam mulut cerewet istrinya itu hingga sampai di kamar pribadi Agam. • • • Setelah membersihkan dirinya kembali. Luna pamit pulang meninggalkan ruangan suaminya. Ingin berbelanja untuk menu makan malam. Malam pun tiba makan yang Luna masak bersama asisten rumah tangganya. Sudah dihidangkan di atas meja. Kini dia tengah bersiap menunggu kepulangan sang suami juga kedatangan para sahabatnya. Saat tengah berhias, Luna dikagetkan dengan pelukan suaminya yang baru pulang dari kantor. "Kamu ih mengagetkan saja," "Anak-anak udah sampai mana Lun?" tanya Agam sembari mengendurkan dasinya. "Oh astaga aku belum menghubungi mereka, karena sibuk memasak." Luna pun mengambil ponselnya, menghubungi putri tunggal kesayangannya itu. "Halo, Vanka sayang kalian di mana? Mihu kangen," ucapnya setelah panggilan terhubung. "Malam ini datanglah ke rumah, kita makan malam bersama. Mihu juga undang Mama, papanya Cia juga keluarga Onty Sen." "Iya Kami akan segera kesana," jawa Vanka mencoba tenang dari seberang sana. "Ok Mihu tunggu ya sayang bye," ____________¥____________ "Siapa yang menghubungi kak?" tanya Cia setelah Vanka memutuskan panggilannya. "Mihu mita kita pulang ke rumah Ci, sekarang." "Terus bayinya gimana kak?" "Kamu chat, Hara minta tolong dia jemput baby, setelah itu kita pulang ke rumah." "Bentar aku chat dia kak." tiga puluh menit setelah Cia mengirim chat, akhirnya Hara datang juga. "Maaf ya merepotkan kamu," ujar Vanka saat menghampiri mobil Hara. "Nggak apa Kak, nggak merepotkan kok." Mereka pun bertukar mobil. Setelah Hara melajukan mobilnya kembali barulah Vanka dan Cia melanjutkan perjalannya ke rumah Mihu. Mobil mereka pun sampai di pelataran rumah bersamaan dengan mobil, Mama Papanya Cia. "Ma apa kabar?" tanya Cia memeluk sang Mama hingga menangis. "Eh, kok nangis? Kamu sakit?" tanya Adel panik. "Em … nggak kok onty, Cia cuma lagi kangen sama onty aja. Yuk masuk nggak enak kelamaan di luar," sela Vanka berusaha menyudahi acara tangisan Cia. Sebab bisa saja gadis itu akan membokar rahasia mereka berdua. "Iya Vanka, yuk masuk." Mereka pun masuk ke rumah yang sudah disambut Art yang bekerja di sini. "Vanka sayang!" seru Luna memeluk sang anak. "Iya Mihu, apa kabar. Vanka kangen sama Mihu." "Kangen kok, kalian nggak main ke sini," ucap Luna menjawil hidung sang putri. "Vanka sibuk sekolah Mihu, les juga." Luna hanya mengangguk menanggapi sang anak, tidak mau memperpanjang dengan pertanyaan yg lain kemungkinan bisa menyebabkan suasana yang tidak enak. Vanka dan yang lain pun menemui keluarga Seno dan yang lainya tengah berada di ruang tamu. Mereka pun. Saling bertukar kabar, karena jarang bertemu. Tidak terasa kini anak pasangan masing-masing sudah pada besar-besar. Sen dan Deff memiliki putra yang duduk di kelas 1 SMP. Vanka dan Cia yang kini duduk di bangku SMA kelas 11 semester 2. Cukup lama berbincang. Luna mengajak Keluarga Erik, juga Deff untuk makan bersama. "Ayo! Kita makan dulu, nanti kita sambung lagi perbincangannya." Ajak Luna yang mulai beranjak ke dapur. Mereka pun beranjak mengikuti Luna. Kebersamaan malam ini kurang lengkap karena tidak ada keluarga Ellen, keluarga Keisya adik Agam yang kini tinggal di Australia ikut suaminya. Mami Lestari pun di boyong oleh Keisya untuk tinggal bersama keluarga kecil itu. Setelah makan selesai. Luna memiliki ide untuk melakukan panggilan Video call ke Australia yang disambungkan ke televisi. Mereka pun saling bergantian menyapa, Oma lestari, juga keluarga kecil Keisya, saat panggilan Video call itu sudah terhubung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN