Pengkhianatan
Tuk!
Seorang wanita cantik bermata bulat dengan sudut mata panjang dan tajam seperti kucing membeku di depan pintu kamar apartemen, tas yang ia bawa terlepas dan jatuh begitu saja ke lantai saat melihat pemandangan yang menyesakkan di hadapannya.
Dunia Amanda seakan runtuh saat mendapati orang yang selama ini ia cintai sedang b******u mesra dengan wanita lain di atas ranjang, tangan mereka saling menjelajah dan yang paling menyesakkan adalah wanita itu adalah sahabatnya sendiri.
Revan, kekasih Amanda akhirnya menyadari keberadaan Amanda. Ia menoleh, lalu segera bangkit dari atas tubuh Rani, meraih kemejanya yang tergeletak di lantai lalu memakainya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa. Ia berjalan menghampiri Amanda yang masih terpaku di ambang pintu dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya.
"Manda," katanya ringan. "Kenapa kamu nggak kabarin dulu kalau mau sampai?"
Plak!
"Kamu masih berani bertanya? di mana rasa malumu pria b******k?! Bisa-bisanya kamu mengotori tempatku!" bentak Amanda, urat di lehernya menegang dan wajahnya memerah menahan emosi yang hampir meledak.
Revan, pria dengan bibir tebal yang memiliki belahan tipis di bibir bawahnya, menghela napas panjang. Rahangnya mengeras, seolah kesal mendengar teriakan Amanda yang memekakkan telinganya.
"Amanda," katanya dingin sambil menatapnya dengan tatapan remeh. "Aku sudah bosan sama kamu. Kamu nggak pernah punya waktu buatku dan kamu itu sok suci, selalu menolak setiap kali aku sentuh," ungkapnya lalu melirik sekilas ke arah ranjang, Rani masih duduk tenang sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Tidak seperti Rani. Dia selalu ada untukku. Kamu cuma—"
Plak!
Tamparan kedua mendarat lebih keras dari sebelumnya, tanpa menunggu Revan menyelesaikan kalimatnya. "Diam kamu! aku udah nggak mau denger omongan busukmu lagi!"
Dadanya naik turun menahan gejolak di dalam dirinya. "Sekarang kita putus!" lanjutnya tegas. "Dan kalian berdua pergi dari sini! Aku udah nggak mau lihat kalian, aku jijik sama kalian! jijik!" Mata Amanda memerah. Amanda menunjuk ke arah luar dengan tangan gemetar sambil menahan air matanya dengan susah payah, dia tidak ingin mengeluarkan setetes pun air mata di hadapan pria b******k yang tidak pantas mendapatkan air matanya.
Tanpa banyak bicara, Revan meraih tangan Rani dan berjalan keluar dari kamar Amanda dengan langkah cepat sementara Amanda mengalihkan wajahnya acuh.
Brak!
Pintu dibanting dari dalam setelah mereka pergi, Amanda bersandar di balik pintu, dadanya kembang kempis, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga namun dengan cepat ia mengangkat tangannya, menyekanya kasar. Ia menarik napas dalam lalu menghembuskannya kasar, kepalanya terangkat, menatap ke depan dengan tatapan penuh kepastian. "Hidupku akan selalu baik-baik saja tanpamu pria b******k," gumamnya lirih. Tatapannya mengeras. "Tapi aku ingin memberimu pelajaran karena kamu sudah berani mengkhianatiku. Tunggu saja nanti," gumamnya penuh keyakinan, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum licik.
***
Seminggu kemudian
Di perusahaan properti milik keluarga Mahardika yang terkenal di Indonesia, dengan berbagai proyek besar yang sukses dan reputasi perusahaan yang bagus.
Tok tok tok!
Seorang pria dewasa tampan berkulit tan yang duduk di kursi direktur utama melirik ke arah pintu tanpa menoleh. "Masuk!" sahutnya dengan suara berat yang mampu membuat hati bergetar.
Seorang wanita berkacamata masuk sambil membawa beberapa map dokumen. Ia berhenti di depan meja besar itu dan sedikit menundukkan kepala dengan sopan.
"Selamat pagi Pak Armand! Saya mau memberikan identitas beberapa kandidat calon sekretaris baru yang bapak minta," ucap wanita itu seraya memberikan beberapa map itu ke tangan pria tinggi bertubuh tegap yang dipanggil Armand itu.
Armand menerimanya lalu memeriksanya satu persatu, manik coklat terang itu bergerak pelan menelusuri data yang tercetak di atas kertas sampai sudut bibirnya terangkat sedikit, hanya sedikit, hampir tak terlihat.
Tak berapa lama kemudian, Armand menutup satu map lalu mengangkat kepalanya. "Saya mau orang ini datang menemui saya besok pagi," ucapnya seraya menyerahkan kembali map coklat tersebut.
Dengan cepat wanita itu menerima map tersebut, memeriksa nama yang tertera di dalamnya sejenak lalu mengangguk paham. "Baik Pak."
"Ok. Dan bawa kembali yang lainnya ini." Armand menyusun map lainnya lalu menyerahkan kembali pada wanita itu. "Saya hanya ingin dia."
"Baik Pak. Kalau begitu saya permisi."
Armand hanya mengangguk. Tanpa menoleh lagi, ia kembali fokus pada layar laptop di hadapannya.
Beberapa saat kemudian seorang pria muda dengan setelan jas biru dongker masuk dengan langkah santai penuh percaya diri. Tanpa menunggu dipersilakan, ia langsung duduk di kursi di hadapan Armand.
Armand menatapnya dengan wajah datar. "Apa yang membuatmu kemari, Revan?"
"Pa, aku baru dengar soal pergantian sekretaris. Apa papa sudah menemukan penggantinya? Kalau papa belum menemukan kandidat yang cocok, aku punya kenalan yang mungkin bisa papa pertimbangkan. Namanya—"
"Tidak perlu," potong Armand cepat. Revan mengerutkan keningnya, bibirnya terkatup. "Papa sudah dapat penggantinya," lanjut Armand santai lalu kembali menatap layar menyala di hadapannya.
"Siapa? di mana dia sekarang?" tanya Revan seraya melirik ke sekeliling ruangan.
"Besok dia datang. Kamu akan tahu," jawab Armand tanpa mengalihkan pandangannya.
"Hah, siapa? kenapa papa nggak kasih tahu sekarang aja?"
"Ini bukan urusanmu."
'Sial, aku terlambat. Siapa orang itu? padahal aku baru aja mau rekomendasiin Rani untuk mengisi posisi ini supaya dia bisa selalu dekat denganku,' batin Revan dengan tangan terkepal di bawah meja.
"Heh!" tegur Armand hingga Revan tersentak. "Apa ada hal lain yang mau kamu bicarakan lagi? Kalau tidak ada, keluar. Papa masih banyak kerjaan."
"Hm!" gumam Revan kesal dengan lirikan mata tajam sebelum keluar dari ruangan papanya.
Namun selang beberapa menit, Revan kembali masuk ke ruangan papanya dengan langkah terburu-buru.
Brak!
Revan mengebrak meja kerja besar di hadapan Armand dengan wajah dipenuhi amarah. "Pa, apa benar sekretaris baru papa itu Amanda?"
Armand yang sedang menatap layar laptopnya perlahan mengangkat kepala. Tidak ada sedikit pun keterkejutan di wajahnya. Sebaliknya, sudut bibirnya justru terangkat tipis.
Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu menyilangkan kedua tangan di d**a dengan santai. Tatapannya tenang menilai putranya.
"Iya," jawabnya singkat sambil mengangguk pelan. Jawaban itu justru membuat emosi Revan semakin memuncak.
"Pa! Kenapa papa lakukan ini?" Protesnya dengan nada kesal. "Aku sama Amanda baru aja putus. Nggak mungkin aku kerja di lingkungan yang sama dengan dia, Pa!"
"Memangnya kenapa? kamu belum bisa move on?"
Revan mendengus seraya mlipat tangan di depan d**a. "Bukan begitu, siapa juga yang belum bisa move on dari dia?" Balasnya ketus. "Aku cuma muak lihat muka dia karena dia udah khianati aku, Pa. Aku masih kesal."
Armand menghela napas singkat seolah percakapan itu terlalu sepele baginya. "Ya, itu urusan pribadimu," katanya tenang. "Papa memilih dia karena pengalaman kerjanya bagus. Papa butuh sekretaris yang kompeten. Tidak ada hubungannya denganmu."
Revan mengepalkan tangannya. "Tapi pa—"
"Tidak ada tapi-tapian, Revan." Armand dengan cepat memotong perkataan anaknya hingga membuat Revan mengigit bibirnya kuat. "Dan Papa tidak ingin mendengar protes tentang hal ini lagi darimu."
Ia kembali melirik layar laptopnya seolah percakapan mereka sudah berakhir. "Kamu bisa keluar sekarang." Kalimat itu terdengar seperti perintah yang tidak bisa ditawar.
Revan berdiri kaku beberapa detik sebelum akhirnya berbalik dengan rahang mengeras. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah berat.
Pintu tertutup keras di belakangnya meninggalkan Armand yang kembali diam-diam melirik pintu dengan senyum tipis yang kembali muncul di wajahnya seolah-olah semua ini memang sudah ia rencanakan sejak awal.