Rahadian masih duduk di beranda apartemen sambil menghisap rokok dan meminum kopi hangatnya, ia tampak tersenyum sendiri dan ia tampak sedang memikirkan sesuatu yang membuat dia begitu senang.
“Azizi Nur Safa nama yang indah dan bagus apalagi waktu aku berkenalan dengannya kemarin aku sangat kaget begitu cantiknya wajah Azizi sampai aku terkesima… apakah aku mulai jatuh cinta lagi… duh kayak nya aku menghayal kejauhan…”. Rahadian berbicara sendiri sambil ternyum sendiri.
Tampaknya Rahadian masih terngiang kejadian kemarin dimana Azizi datang kerumahnya yang mana Azizi adalah sekertarisnya yang baru nantinya, tampaknya Rahadian mulai jatuh hati pada pandangan pertama walaupun hal itu ia tepis sendiri.
Dengan hadirnya Azizi paling tidak Rahadian bisa sedikit melupakan kejadian yang menimpa dirinya terutama tentang Arlita.
Flashback : kejadian terjadi terjadi kemarin saat Rahadian pertama kali bertemu dengan Azizi.
Dan ternyata Anwar datang dengan seorang sekretaris baru yang sejak tadi duduk di ruang tamu menunggu instruksi dari Anwar kapan ia bisa berkenalan dengan Rahadian.
Setelah itu Anwar langsung mengajak sekretaris baru itu ke ruang balkon untuk bertemu dengan Rahadian.
Tak lama kemudian…
"Nah ini Pak Boss… Sekertaris baru kita…"
Mendengar perkataan dari Anwar Rahadian langsung menoleh ke belakang untuk melihat siapa sosok sekretaris baru itu dan apa yang terjadi…?
"Ya Ampun bidadari dari mana lagi ini…". Mulut Rahadian melongo sambil berbicara di dalam hati.
Pada saat itu berdiri seorang wanita tinggi berambut panjang berkacamata dengan pakaian rapi jas hitam dan kemeja putih serta rok berwarna hitam, wanita yang anggun dengan senyuman bak bidadari turun dari kayangan.
Rahadian hanya bisa melongo dan benar-benar ia mengagumi kecantikan wanita yang ada di hadapannya.
"Aduh Pak Boss… kok malah melongo sih… ini lho sekertaris baru yang gue ceritain… masa Pak Boss cuma diam aja dari tadi…". Anwar langsung menegur Rahadian yang tampaknya masih melongo melihat kecantikan wanita yang ada di hadapannya.
"Oh… iya maaf… gue kaget aja… oh ya kamu namanya siapa…?". Rahadian baru tersadar dan agak kaget karena ketahuan oleh Anwar jika ia memang sedang mengagumi kecantikan wanita di hadapannya dan ia langsung mengalihkan pembicaraan agar tidak tampak sekali jika ia sedang kagum dengan wanita yang ada di hadapannya saat ini.
Rahadian langsung mengulurkan tangannya ke wanita itu "Saya Rahadian… dan kamu namanya siapa…?".
Dengan hangat dan senyuman manis bak bidadari, wanita itu mengulurkan dan menyambut tangan Rahadian "Nama saya Azizi Nur Safa…".
"Oh nama yang indah, seindah wajahnya… kenapa gue deg-degan ya… aneh banget gue…!!!" Rahadian berbicara dalam hati sambil menjabat tangan Azizi
Suasana hening dan tangan Rahadian masih saja menjabat tangan Azizi, tampaknya memang Rahadian sangat mengagumi kecantikan dari Azizi, hal itu membuat Azizi agak tidak enakan karena Rahadian sama sekali tidak melepaskan jabatan tangannya.
Anwar mihay gelagat Azizi itu yang terlihat kurang nyaman langsung berkata,
"Aduh… udah dong Pak Boss… masa pegang tangannya lama banget…". Anwar angkat bicara memecah kesunyian karena tampaknya Anwar tahu apa yang dirasakan oleh sahabatnya dan rasa tidak enak dari Azizi.
"Oh… iya… iya… maaf…". Rahadian langsung tersedar dari lamunannya dan ia langsung melepaskan jabatan tangannya dari tangan Azizi.
Melihat tingkah aneh Rahadian saat itu Azizi hanya tersenyum.
"Ampuuuun… senyumannya kok adem benget ya… es di kutub utara juga bisa meleleh dengan senyuman wanita ini…". Rahadian berbicara di dalam hati sambil mengagumi kecantikan wanita yang ada di hadapannya.
"Oya ini yang gue ceritain tadi Pak Boss… namanya Azizi Nur Safa umurnya 27 tahun… dia ini lulusan S2 dari Amerika… dan gue yakin dia bisa jadi sekretaris Pak Boss… dan mulai sekarang semua jadwal dan segala urusan Pak Boss… bakal di handle sama Azizi ini ya… gimana Pak Boss kira-kira…? Apa Azizi ini bisa diterima jadi sekretaris di sini atau kita pertimbangkan dulu…?". Anwar langsung bertanya ke Rahadian sambil menjelaskan sekilas tentang latar belakang dari Azizi.
"Hmmm… sepertinya Azizi sudah bisa kerja di sini… jadi sekretaris gue… dan mulai besok dia sudah bisa kerja… Oya Anwar nanti lu atur aja semua pekerjaan buat Azizi…". Rahadian langsung menjawab pertanyaan dari Anwar.
Pada saat ini Radian benar-benar masih agak malu dengan penampilannya, karena memang benar-benar penampilan Rahadian sudah tidak terurus sama sekali, rambutnya lumayan panjang dan kumis serta janggut nya juga panjang, terlihat sekali jika Rahadian benar-benar tidak mengurus dirinya.
Bahkan Azizi saat pertama kali melihat Rahadian juga tampak kaget, karena ia tidak menyangka sama sekali jika ia bakal ketemu dengan seorang pemilik perusahaan (CEO) terkenal tapi kenapa penampilannya begitu tidak terurus.
"Apa ini benar Rahadian CEO yang terkenal itu… tapi kenapa penampilannya amburadul gini… apa benar ini Rahadian CEO yang terkenal itu…???". Azizi berbicara di dalam hati karena ia masih ragu apakah benar ini Rahadian seorang CEO terkenal itu.
"Gimana Mbak Azizi… kira-kira besok sudah bisa kerja…???". Anwar bertanya ke Azizi yang dari tadi hanya terlihat diam saja.
"Oh… iya… iya… baik saya besok bisa kerja dan siap untuk kerja dengan perusahaan Bapak…". Lamunan Azizi buyar dan ia langsung menjawab pertanyaan dari Anwar dengan nada agak sedikit gugup.
Melihat tingkah dan sikap Azizi barusan, Rahadian dan Anwar hanya bisa tersenyum karena mereka berdua tampaknya tahu apa yang dipikirkan oleh Azizi.
"Syukurlah kalau kamu siap dan mau bekerja di perusahaan ini… saya juga senang… paling tidak kamu bisa meringankan pekerjaan saya selama ini… oh ya… kamu jangan kaget ya kalau penampilan pak Boss kita seperti ini… karena Pak Boss kita beberapa bulan ini memang lagi kehilangan arah tujuan hidup…". Anwar menimpali jawaban dari Azizi dengan tersenyum dan sedikit bercanda agar mencairkan suasana.
"Baik Pak Anwar…". Azizi menjawab sambil menundukkan wajahnya karena malu.
"Kok mereka tahu ya kalo gue lagi kaget melihat penampilan Rahadian saat ini…". Azizi berbicara di dalam hati karena ia agak terkejut kenapa Rahadian dan Anwar tahu apa yang sedang ia pikirkan saat ini.
"Oh ya… kita harus panggil apa ke Bu Azizi atau Bu Syafa…???". Anwar bertanya ke Azizi, karena Anwar tahu kalau Azizi tampak terlihat masih malu dengan kejadian barusan.
"Hmmm… panggil Azizi aja ya Pak… jangan pake Bu… karena saya belum menikah…". Azizi langsung menjawab pertanyaan dari Anwar dengan senyuman ramah.
"Oh baik kalau begitu… nanti saya dan Pak Boss bakal panggil kamu dengan Azizi aja tidak pakai Bu…". Anwar pun langsung menimpali dengan tersenyum.
Rahadian saat itu hanya diam saja memandangi wajah sang sekretaris barunya nampaknya ia mulai merasakan ada getaran aneh dalam dadanya tapi ia juga tidak tahu apa rasa yang ia rasakan itu.
"Kenapa gue setiap melihat wajah Azizi kok gue deg-degan ya…??? aneh padahal gue baru aja ketemu sama dia…". Rahadian berbicara dalam hati sambil terus memandang wajah Azizi.
Tak berapa lama kemudian Anwar kembali berbicara ke Azizi "Ya sudah Azizi… untuk hari ini mungkin sampai disini saja ya… kamu sudah bisa pulang dan besok jam delapan pagi kamu bisa langsung ke kantor saja… sekalian saya mau kasih tahu ruangan kamu dimana… dan sekalian juga saya mau kasih tahu job desk kamu apa…".
"Baik Pak terima kasih banyak ya Pak… besok saya akan ke kantor jam delapan pagi… kalau begitu saya pamit ya Pak…”.
Setelah berkata seperti itu, Azizi langsung pamit ke Anwar dan Rahadian, dan ia pun langsung pergi meninggalkan apartemen mewah milik Rahadian.
Setelah kepergian Azizi, Rahadian dan Anwar tampak masih asik ngobrol di ruang balkon apartemen sambil merokok dan menghirup kopi hangat yang dibuat oleh Anwar.
"Pak Boss… gimana menurut lu… sekretaris tadi… kira-kira cocok gak…???". Anwar bertanya ke Rahadian.
"Hmm… entah ya Ndut… yang jelas kita coba dulu aja dia kerja satu bulan ke depan bagaimana kinerjanya, kalau melihat dari basic pendidikannya sih oke… dia lulusan Amerika dan gue yakin sekilas terlihat anaknya juga terlihat pintar dan cerdas…". Rahadian pun langsung menjawab pertanyaan dari Anwar sambil menghisap rokoknya.
"Aduh… bukan itu yang gue maksud Pak Boss… maksud gue cantik gak si Putri… kira-kira bisa gak si Azizi itu menggantikan sosok Arlita…". Anwar kembali menimpali sambil senyum menggoda.
"Dasar lu ya… nanya kok gak nyambung gitu… si Azizi itu kan mau kerja dan kita memang butuh sekretaris malah nanya yang lain…". Rahadian pun menjawab dengan nada kesal karena merasa di becandain oleh Anwar.
"Udah lah Pak Boss… jujur aja sama gue… Lo tertarik kan sama si Azizi… gue liat pas lu pertama kali ketemu sama Azizi keliatan banget kalo lu kagum sama si Azizi…". Anwar kembali menggoda Rahadian.
"Sok tau lo… mana ada gue terlihat seperti itu… tadi gue biasa aja kok…". Dengan nada bicara gelagapan Rahadian mencoba menyangkal candaan dari Anwar.
"b*****t si Anwar… kok dia bisa tahu kalo gue kagum dengan kecantik Azizi…". Rahadian berbicara dari dalam hati dan agak sedikit kaget kalau Anwar mulai tahu gelagat dari dirinya.
"Oh ya Pak Boss… gue hampir lupa… ini tadi dari pihak kepolisian telpon ke gue kalo mereka masih menyelidiki kasus bunuh diri Lita… dan mereka juga minta waktu untuk ketemuan… gimana kira-kira Pak Boss…". Anwar mencoba mengalihkan pembicaraan karena ia tahu jika Rahadian agak malu karena ketahuan suka dengan si Azizi.
"Hmmm…". Rahadian menarik nafas panjang.
"Coba lu atur aja schedule nya ya… nanti gue bakal datang ke kantor polisi… Oya sampai dimana kasus penyelidikan nya… sudah ada jawaban belum dengan siapa sebenarnya Lita selingkuh…???". Wajah Rahadian berubah serius dan langsung menjawab pertanyaan dari Anwar.
"Sampe sekarang belum diketahui Pak Boss… sama siapa Lita selingkuh… bahkan isi handphone Lita juga kosong sama sekali tidak ada file apapun… dan tampak sebelum Lita bunuh diri semua file handphonenya di hapus…". Anwar langsung menimpali dan menjawab pertanyaan dari Rahadian sambil menghisap dalam-dalam rokoknya.
"Ya sudah kita tunggu saja hasil penyelidikan dari pihak kepolisian dan sembari kita coba cari informasi sendiri, sebenarnya Lita itu selingkuh dengan siapa dan kenapa sampai ia nekat buat bunuh diri…". Rahadian menanggapi jawaban dari Anwar dengan wajah datar dan kembali agak murung.
Suasana di balkon apartemen kembali sunyi dan Rahadian terdiam matanya memandang kosong ke depan seperti banyak sekali beban yang ia pikirkan, sedang kan Anwar pun ikut diam menikmati rokok dan sesekali sembari minum segelas kopi hangat.
Lamunan Rahadian tampak sudah jauh sekali dan ia sampai detik ini masih penasaran siapa sebenarnya yang menghamili Lita calon istrinya, dan ia juga masih tidak habis pikir kenapa Lita harus mengambil keputusan bunuh diri, bahkan orang terdekat Lita juga tidak ada yang tahu dengan siapa Lita selingkuh dan mereka juga tidak tahu apa alasan dari Lita nekat untuk bunuh diri.