Tersangka

1450 Kata
Pagi yang cerah tampak Rahadian sudah mulai beraktivitas kembali di perusahaannya, dimana pagi ini Rahadian sudah berada di ruangannya terlihat Rahadian sedang asik melihat komputer di meja kerja dan tampaknya ia sedang mengerjakan sesuatu. Rahadian terlihat sangat serius, bahkan penampilannya sudah benar-benar berubah, ia benar sudah berubah menjadi CEO yang ganteng dan cool, beda dengan penampilannya tiga bulan belakangan dimana pada saat itu Rahadian terlihat seperti gembel yang tidak terurus sama sekali. Tak berapa lama kemudian… “Tok… Tok… Tok…!!!” Terdengar pintu ruangan Rahadian ada yang mengetuk. “Masuk saja tidak di kunci…”. Rahadian agak berteriak supaya orang yang mengetuk pintu itu mendengar suaranya. “Klik…!!!” Terdengar pintu ruangan Rahadian terbuka, dan orang yang mengetuk pintu itu ternyata Azizi. “Oh… Azizi yang datang… aku harus pura-pura tidak tahu dan aku harus terlihat cool di depan Azizi…”. Rahadian berbicara dalam hati sambil matanya sedikit melirik ke Azizi. Rahadian terlihat pura-pura cuek dan tidak melihat Azizi, padahal ia tahu jika Azizi yang masuk ke ruangannya. Tak berapa lama kemudian Azizi langsung mendekat ke meja Rahadian. “Pagi Pak… ini saya mau kasih schedule Bapak hari ini… dan sekalian kasih schedule ada beberapa tamu yang mau ketemuan dengan bapak hari ini…”. Azizi langsung berbicara ke Rahadian. Azizi langsung tersenyum manis dan berharap Rahadian langsung membalas senyuman manisnya. Tapi apa yang terjadi… “Oh… kamu ya Azizi… ya udah schedule taruh saja di meja dan kamu bisa kerja lagi…”. Dengan dingin Rahadian menjawab sambil matanya tetap fokus ke komputer yang ada di meja kerjanya. “Oh… baik Pak…”. Azizi langsung menjawab datar dan sedikit kecewa dengan sikap dingin Rahadian. Tak beberapa lama kemudian Azizi langsung keluar dari ruangan Rahadian dengan wajah yang kecewa. “Oh.. untung dia udah keluar… gue kok deg-degan tiap liat wajah cantik Azizi… untung akting gue bagus… jadi gue terlihat cool di mata Azizi…”. Rahadian berbicara sendiri sambil mengelus dadanya menandakan ia sangat lega karena Azizi sudah pergi meninggalkan ruangan nya. Tampaknya Rahadian benar-benar tidak ingin Azizi tahu jika Rahadian sebenarnya grogi dan deg-degan saat melihat wajah Azizi, jadi Rahadian barusan pura-pura cool dan datar di hadapan Azizi dan Rahadian terlihat juga agak jual mahal ke Azizi. “Padahal hari ini Azizi cantik banget… pengen gue rasanya liat muka Azizi lama-lama… tapi jangan dulu deh… gue harus tetap cool dan jaga wibawa di depan Azizi… jangan sampai Azizi tahu kalau gue mengagumi kecantikannya…”. Rahadian berbicara sendiri sambil menghisap rokoknya yang baru saja ia nyalakan. Saat ini Rahadian masih di duduk di meja kerjanya tapi ia tidak lagi fokus ke komputernya malah sekarang ia sedang merokok dan sambil menikmati segelas s**u kopi hangat yang memang sejak tadi ada di meja kerjanya, sambil membayangkan kecantikan Azizi yang baru saja pergi meninggalkan ruangannya. Terlihat sekali memang Rahadian tadi jaim (Jaga image) di depan Azizi, bahkan Rahadian tadi sama sekali tidak melihat ke arah Azizi sama sekali dan Rahadian saat Azizi masuk pura-pura Gimmick sibuk agar ia tidak terlihat mengagumi kecantikan Azizi hari ini. Bahkan sambil merokok dan menikmati segelas kopi Rahadian terlihat senyum-senyum sendiri karena ia tampaknya sedang membayangkan kecantikan Azizi, Rahadian tampak sedang di mabuk cinta tapi ia gengsi untuk mengakuinya, perasaan yang mulai tumbuh ke Azizi ia simpan rapat-rapat bahkan Anwar Sahabat sejatinya juga tidak ia ceritakan jika ia saat ini mulai mengagumi Azizi. Sedangkan di ruangan yang berbeda tepatnya di ruangan kerja Azizi. “Braaak…!!!” Terdengar Azizi sedang menggebrak mejanya dan ia tampak sekali kesal serta melampiaskan rasa kesalnya dengan cara menggebrak meja, setelah itu Azizi langsung duduk di kursi kerjanya. “Ih… apaan sih padahal gue udah dandan cantik… masa si boss sialan itu gak ngeliat gue sama sekali… gue juga tadi udah senyum… eh dianya malah sok sibuk… males banget gue…!!!”. Azizi berbicara sendiri dengan nada kesal. Azizi terlihat sekali kesal dengan Rahadian karena pada saat ia tadi masuk ke ruangan Rahadian, pada saat itu sama sekali Rahadian tidak melihat wajah Azizi dan sibuk melihat layar PCnya, hal itu jelas saja membuat Azizi kesal dan marah karena sebelum ke kantor Azizi sudah benar-benar dandan super cantik buat Rahadian tapi pada kenyataannya Rahadian bahkan terlihat cuek dan sama sekali tidak melihat dirinya. “Ih… malu banget gue… lagian kenapa sih gue pake acara dandan kayak gini… lagian si boss sialan itu sama sekali gak ngeliat… ih kesel banget gue hari ini… jadi bad mood gue buat kerja… itu boss sialan kok sok cool banget sih… liat aja ntar bakal gue bales cuekin itu boss sialan sok ganteng…!!!”. Azizi menggerutu sendiri. Azizi tampak memang sangat kesal dengan sikap Rahadian tadi, dan hal itu membuat Azizi kesal malu bahkan bad mood untuk kerja, ternyata gimmick Rahadian yang sok Cool dan Jaim berhasil membuat Azizi kesal, padahal apa yang dilakukan Rahadian berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Rahadian saat ini tapi Azizi tidak mengetahui akan hal itu. Kembali keruangan Rahadian, di ruangan Rahadian terlihat Rahadian masih asyik menikmati rokok dan segelas kopi, dan Rahadian saat ini sama sekali tidak tahu kalau Azizi sedang kesal sekali dengan dirinya akibat gimmick sok cool dan jaim yang tadi ia lakukan di depan Azizi. Tak beberapa lama kemudian… “Tok… Tok… Tok…!!!” “Haaaah… masa Azizi ke ruangan gue lagi ada apa ya…???”. Rahadian berbicara dalam hati sambil kaget karena mendengar suara ketukan pintu. Karena mengira yang mengetuk pintu itu adalah Azizi maka Rahadian langsung mematikan rokoknya dan ia langsung pura sibuk dan berlagak cool. “Masuk saja… pintunya tidak di kunci…”. Rahadian berkata dengan suara yang agak keras. “Klik…!!!”. Suara pintu terbuka, dan ternyata… “Halo… Pak Boss lagi sibuk ya…???!!!”. Suara Anwar terdengar jelas menyapa Rahadian. Ternyata yang mengetuk pintu adalah Anwar. Anwar setelah berkata seperti itu langsung nyelonong masuk dan duduk di hadapan Rahadian. “Ah… ternyata lu Ndut… gue kira siapa…”. Rahadian berkata dengan nada datar dan agak kecewa karena yang datang bukan Azizi tapi melainkan sahabatnya sendiri yaitu Anwar. “Emang Pak Boss pikir siapa yang datang… pasti Pak Boss berharap Azizi ya yang datang ke sini…”. Dengan bercanda Anwar berkata ke Rahadian. “Apaan sih lu Ndut… lagian ngapain gue ngarepin Azizi ke ruangan gue…”. Rahadian langsung merespon dengan sikap yang agak blingsatan. “kalo iya juga gak apa-apa pak Boss… nyantai aja sih…”. Anwar berkata seperti itu sambil tersenyum menggoda. “Jangan sembarang ya lu Ndut… oh ya ngapain lu ke ruangan gue… ada perlu apa Ndut… kalo cuma buat gangguin gue… maaf gue lagi sibuk sekarang…”. Rahadian langsung to the point bertanya ke Anwar karena ia tidak mau kalau ketahuan Anwar jika ia memang berharap Azizi yang masuk ke ruangan nya. Dua sahabat sejati ini memang kadang saling menggoda satu sama lain tapi semua itu memang gaya bercanda mereka berdua. “Jadi gini Pak Boss… gue tadi barusan dapat telpon dari teman kampus kita dulu yang namanya Raka… Lu inget kan sama si Raka…”. Anwar langsung menjawab pertanyaan dari Rahadian. “Oh ya gue inget… gue tahu Ndut… Raka itu juga sering nongkrong bareng kita kan…??? ”. Rahadian juga langsung merespon. “Nah bener Pak Boss… jadi Raka ini baru buka perusahaan game dan dia katanya pengen kerjasama dengan perusahaan kita… kita-kita gimana itu Pak Boss…???”. Anwar langsung kembali merespon Rahadian. “Hmmm… ya sudah gak apa-apa… lagian kita juga sudah tahu dan kenal sama Raka… jadi atur saja waktunya kapan kita Raka bisa ketemu sama kita berdua membahas masalah itu… terus ada info apa lagi Ndut selain Raka mengajak kerjasama bisnis…”. Rahadian langsung merespon dengan baik. “Oh ya gue baru saja dapet telpon setelah telpon dari Raka… dan itu dari pihak kepolisian Pak Boss…”. Anwar langsung merespon pertanyaan dari Rahadian. “Oh apa itu Ndut… apakah menyangkut kasus Arlita…??? Apakah sudah ada tersangkanya Ndut…???”. Rahadian juga langsung merespon info dari Anwar. “Justru itu Pak Boss… kasus penyelidikan Arlita dibuka lagi… karena ada bukti baru kalau Arlita memang benar dibunuh…”. Anwar agak sedikit hati-hati memberikan informasi itu ke Rahadian. “Haaaah… Ada tersangka pembununya…???!!!”. Rahadian berteriak kaget karena informasi yang barusan di berikan oleh Anwar. Sedangkan diluar ruangan Rahadian ternyata ada Azizi yang awalnya ingin masuk ke ruangan Rahadian jadi kaget karena suara keras Rahadian mengatakan hal itu terdengar sekali oleh Azizi yang saat ini sedang di depan pintu ruangan Rahadian dan ia pun tidak jadi masuk hanya diam terpaku di depan pintu ruangan Rahadian. “Haaaah… calon istri Rahadian ternyata dibunuh bukan bunuh diri…???!!!”. Azizi berbicara dalam hati sambil diam terpaku di depan pintu ruangan Rahadian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN