"Aaah… Pak Boss sudah ke kantor lagi…!!!". Anwar dan Azizi tampak kaget dan mereka berbarengan kompak mengatakan hal itu.
Mereka berdua hanya bisa diam tertegun melihat kehadiran Rahadian pada saat itu.
"Ya Allah ini Rahadian yang gue temui kemarin… kenapa dia bisa seganteng dan sekeren ini… kemana kumis dan brewok serta rambut berantakannya… Ya Allah kok Rahadian berubah menjadi Ganteng dan cool seperti ini…". Azizi langsung terdiam dan membisu ia hanya berbicara dalam hati karena ia sangat terpesona dengan kegantengan dan aura ketampanan dari Rahadian.
Azizi benar-benar tidak menyangka jika Rahadian akan datang ke kantor dan ia juga terkesima dengan penampilan Rahadian saat ini karena saat kemarin Rahadian yang ia temui, penampilannya benar-benar tidak karuan tapi justru sekarang penampilan Rahadian berubah 180 derajat dan benar-benar pancaran aura Rahadian saat ini sangat menyilaukan.
Sambil mencubit tangannya sendiri Anwar berkata "Gue gak mimpi kan…??? Bener yang di hadapan gue sekarang Pak Boss… ada angin apa nih…???".
Tampaknya Anwar benar-benar kaget bukan main dengan kehadiran Rahadian di kantor dan ia sama sekali tidak menyangka jika hari ini Rahadian bakal datang ke kantor.
Dan setelah berkata seperti itu Anwar tanpa pikir panjang langsung memeluk Rahadian sahabat dan sekalian bosnya itu dengan erat, tampak sekali ia sangat bahagia karena Rahadian sudah kembali seperti sedia kala, bahkan penampilan Rahadian juga makin terlihat rapi dan menarik.
Hal ini yang memang sangat ditunggu-tunggu oleh Anwar dimana ia ingin sekali melihat Rahadian bisa move on dari keterpurukannya, dan hari ini ia benar-benar melihat sosok Rahadian sudah kembali lagi seperti biasanya.
Setelah berpelukan dengan sahabatnya Anwar, Rahadian berkata "Udah dong… gak enak ada Azizi… lu kaget ya gue udah bisa move on sekarang…". Rahadian berkata seperti ke Anwar dengan tersenyum lebar.
Anwar pun langsung menanggapi "iya Pak Boss… gue kaget tapi gue seneng banget Pak Boss akhirnya bisa move on dan kembali beraktivitas… padahal setelah ini rencananya gue sama Azizi mau ke apartemen Pak Boss… untuk laporan tentang pekerjaan…". Sambil terlebar Anwar mengatakan hal itu.
"Oh ya Azizii… kamu udah mulai ke kerja ya di sini… gimana betah gak kira-kira kerja disini…???". Melihat Azizi hanya diam saja dari tadi, Rahadian mencoba menegur si Aizizi.
"Eh… iya… Pak Insyaallah saya betah kerja disini… dan ruangan kerja saya juga bagus Pak…". Dengan agak terbata dan kaget Azizii menjawab pertanyaan dari Rahadian.
Azizi tampaknya agak kaget karena ia tiba-tiba saja di tegur oleh Rahadian padahal sejak tadi ia lagi terkesima dengan pancaran aura kegantengan Rahadian.
"Oh syukurlah kalau kamu betah kerja di sini dan saya juga senang mendengarnya kalau kamu suka dengan ruangan kerjamu…". Dengan tersenyum manis Rahadian menanggapi pernyataan dari Azizi.
Melihat senyuman Rahadian yang begitu manis dan mempesona Azizi tertunduk malu dan ia sama sekali tidak berani melihat ke arah Rahadian, karena ia benar-benar grogi dan salah tingkah.
"Astaga senyuman Rahadian benar-benar manis banget gak kuat gue melihatnya… meleleh hati ini melihat senyuman manis Rahadian…". Azizi berbicara dalam hatinya dan ia benar-benar terpesona dengan senyuman manis Rahadian.
"Maaf Aiziz kamu sakit… kenapa kamu saya ajak ngobrol kok diam saja…???". Rahadian langsung bertanya kembali ke Aizizi karena ia agak heran kenapa Azizi diam saja pas di ajak ngobrol.
"Eh… iya… iya Pak…oh tidak Pak… maaf Pak saya tidak sakit kok… maaf ya Pak saya tidak fokus…". Azizi menjawab dengan makin salah tingkah bahkan ia menjawab pertanyaan Rahadian dengan terbata-bata karena agak gugup dan malu.
"Syukurlah aku kira kamu sakit… ya sudah kamu bisa kembali kerja ya… aku mau ke ruangku dulu sama Anwar…". Dengan tersenyum Rahadian langsung mencoba untuk mengalih perhatian dan tampaknya Rahadian tahu apa yang di pikirkan oleh Azizi karena melihat gelagat Azizi yang salah tingkah tidak karuan.
Setelah berkata seperti itu Rahadian langsung mengajak Anwar ke ruangan kerja dan Aiziz hanya diam terpaku memandang kepergian Rahadian dan Anwar.
Aizizi langsung cepat-cepat duduk di kursi kerjanya dan ia langsung menarik nafas panjang.
"Deg…!!!"
"Perasaan apa ini ya… kok gue dari tadi deg-degan… aduh masa gue suka sama Rahadian Boss gue sendiri… aduh aneh banget deh gue… kenapa gua jadi aneh gini… lagian siapa gue cuma sekretarisnya Rahadian dan baru ketemu lagi… aneh banget perasaan gue ini…". Aizizi berbicara dalam hati tentang perasaan yang ia alami saat bertemu dengan Rahadian.
Tampaknya Azizi mulai merasakan ada getaran-getaran dan percikan-percikan rasa suka di dalam dirinya, kala bertemu dengan Rahadian tadi, tapi ia berusaha tepis karena ia sadar jika Rahadian itu saat ini adalah atasannya alias boss nya, tampaknya ia juga berusaha menepis perasaan suka itu.
Di tempat yang berbeda tepatnya di ruangan Rahadian, terlihat Rahadian sedang duduk di meja kerjanya dan dihadapan meja kerja ada Anwar yang sedang duduk juga, tampak mereka berdua sedang membicarakan tentang sesuatu yang agak serius.
"Oh ya Ndut… gimana ada kabar dari pihak kepolisian tentang siapa sebenarnya yang menjadi selingkuhannya Arlita…???". Rahadian langsung membuka pembicaraan dan bertanya ke Anwar.
Anwar langsung menjawab ". Sepertinya belum ada kabar Kring… dan tadi pagi gue juga sudah telpon pihak kepolisian dari mereka belum ada informasi kira-kira dengan siapa Arlita berselingkuh…". Anwar berbicara santai dengan Anwar karena memang di ruangan itu hanya mereka berdua jadi tidak perlu sopan dan formil.
Tampaknya mereka berdua sedang membicarakan tentang siapa sebenarnya sosok pria selingkuhannya Arlita.
"Ya sudah kalau belum ada informasi dari mereka kita tunggu saja… kira-kira ada informasi apalagi dari pihak kepolisian…?". Rahadian kembali bertanya ke Anwar.
"Sebenarnya gue tadi mau ke apartemen lu Kring… buat menceritakan informasi penting yang disampaikan pihak kepolisian ke gue tadi pagi…". Anwar langsung menjawab dan menanggapi pertanyaan dari Rahadian.
Karena penasaran dengan jawaban dari Anwar, Rahadian langsung kembali bertanya ke Anwar "Oh… informasi penting apa Ndut…??? Coba lu langsung ceritain aja ke gue Ndut…". Dengan mimik wajah yang sangat penasaran.
"Hmmm…". Anwar langsung menarik nafas panjang.
Setelah menarik nafas panjang Anwar langsung cerita ke Rahadian "Jadi… tadi pagi gue dapet telpon dari pihak kepolisian dan dari pihak kepolisian sebenarnya ingin membicarakan hal ini langsung ke elu Kring… tapi berhubung mereka tahu kalau kondisinya belum memungkinkan mereka untuk bicara ke elu Kring… jadi pihak kepolisian memberikan informasi penting ini ke gue… yang jelas ini menyangkut tentang kematian Arlita Kring…".
Setelah berkata seperti itu Anwar diam sejenak ia tampak mengatur nafas dan kelihatannya informasi yang ia dapatkan dari pihak kepolisian sangat penting sekali.
"Ya udah lu cerita aja langsung Ndut… gue bakal dengerin apapun informasinya gue bakal terima kok Ndut…". Rahadian tampak semakin penasaran dan langsung meminta Anwar untuk langsung bercerita.
Melihat Rahadian terlihat sangat penasaran, akhirnya Anwar memberanikan diri untuk bercerita "Gini Kring… jadi pihak kepolisian memberikan informasi ke gue kalau meninggalnya Arlita itu bukan karena bunuh diri… tapi ternyata Arlita itu di bunuh dan sengaja didorong dari gedung Rooftop… karena saat penyelidikan di TKP (Tempat Kejadian Perkara) ada jejak kaki lain selain kaki Arlita dan juga handphone Arlita ditemukan pihak kepolisian di tong sampah yang ada di Rooftop Gedung dalam kondisi rusak bahkan memory yang ada di handphone Arlita hilang entah kemana… hal itu yang membuat pihak kepolisian menjadi curiga dan menyimpulkan jika memang Arlita itu meninggalnya bukan karena bunuh diri tapi Arlita meninggal karena dibunuh…". Dengan wajah agak sedih dan gelisah Anwar menceritakan secara detail informasi yang ia dapatkan dari pihak kepolisian ke Rahadian.
"Haaaah… Arlita dibunuh…???!!!"