"kau harus menyelesaikan semua hutang-hutang mu,pokok dan bunga nya 1 milyar"
Zahra menghela nafasnya berat saat dia mendapatkan pesan tersebut di handphone nya.
Membaca Barisan kata 1milyar terasa begitu sesak di d**a Zahra, bagaimana caranya dia mendapatkan uang sebanyak itu dalam 1 bulan?.
Ada beberapa cara yang bisa dia dapat kan misalnya dengan menjual dirinya ke pubb malam kepada tuan Aoi atau lari ke kota mencari pekerjaan.
Pilihan kepada tuan Aoi sangat terdengar tidak masuk akal,dia tidak akan menjual keperawanan nya seharga 1 milyar dalam keadaan bagaimanapun.
Pilihan ke kota terdengar jauh lebih baik, Zahra baru setengah bulan kemarin menyelesaikan wisudanya, saat ini usianya belum cukup 21 tahun. Baginya lari ke kota mencari pekerjaan dan mulai melunasi hutang-hutang nya terdengar baik, tapi dia butuh bertahun-tahun untuk dapat mengumpulkan 1 milyar dan itu berarti bunga hutang nya akan semakin meningkat, dia pikir tidak lama lagi dia benar-benar akan menjadi gila.
Kali ini dia memandangi kalung yang ada dileher nya melalui kaca tolet yang ada di hadapannya, dalam ingatan nya ibunya selalu berkata jika harga kalung ini begitu tinggi karena itu pesan ibu nya jangan pernah menjualnya meskipun dalam keadaan terdesak sekalipun.
Entah kenapa bagi Zahra, ini adalah satu-satu nya jalan untuk menyelesaikan hutang-hutangnya.
"Zahra apa yang kau lakukan didalam sana? cepat bawa minuman nya ke ruang VIP mawar merah"
Suara nona Aoi sang istri muda tuan Aoi dimana pemilik tempat dia bekerja tiba-tiba berteriak keras ke arahnya dengan perasaan kesal, suara perempuan tersebut cukup mengejutkan dirinya.
"Keluar dari kamar mandi dan bergerak dengan cepat"
"Maaf"
Zahrah menundukkan kepalanya beberapa kali, langsung keluar dari atah kamar mandi menuju kearah depan, dia buru-buru berjalan menuju ke arah meja bertendar dan mulai meraih serta membawa senampan minuman menuju ke ruangan yang dimaksud nona Aoi.
"Oh god dia belakangan selalu membuatku kesal,sebenarnya apa nilai jual wanita jelek itu? bahkan bisa membuat sial Club malam kita"
Seperti biasa nona Aoi mulai lagi mengomel dan mengeluh soal Zahra di depan karyawan lainnya dan suaminya.
"Bahkan dari ujung kaki dan kepala pun tidak dapat dijual,kecuali dia masih perawan, aiyaaaa benar-benar wanita jelek yang merepotkan"
Dia menyentuh kepalanya untuk beberapa waktu, pura-pura ingin pingsan di hadapan suaminya.
"Sudah-sudah,dia sangat membutuhkan pekerjaan ini sayang, tidak peduli bagaimana rupanya, saat seseorang butuh pekerjaan dan kita punya pekerjaan untuk dikerjakan maka berikan saja"
Tuan Aoi bicara sedikit merayu kepada istri mudanya tersebut.
Mendapat jawaban dari suaminya seperti itu membuat perempuan itu langsung menyipitkan kedua belah matanya.
"Harus nya kau sedikit menggelontorkan dana untuk mengubah si itik buruk rupa itu menjadi angsa"
Nona aoi bicara dengan menampilkan ekspresi wajah cemberut.
"Baiklah kita bisa membantunya jika dia bersedia"
"Yah yah yah"
Nona aoi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sembari mengibaskan tangan nya ke arah sang suami.
Dilantai atas Zahra sudah berdiri tepat didepan pintu ruang VIP mawar merah, dengan cepat dia masuk dan meletakkan semua minuman di atas meja.
"Lucas, coba lihat gadis ini, sangat tidak menarik"
Seorang laki-laki bicara sambil mengejek kearah Zahra, dia menatap penampilan Zahra dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya.
Mendengar ejekan terhadap dirinya seketika membuat Zahra melirik kearah laki-laki tersebut itu.
Wajahnya cukup tampan tapi mulutnya benar-benar terasa pedas.
Batin Zahra.
"Apa kau selalu mengukur nilai perempuan dari wajahnya, Daniel?"
Yang ditanya menjawab dingin,dia baru saja masuk ke dalam ruangan itu, meletakkan jaketnya di atas kursi kemudian duduk tepat dihadapan Zahra.
Zahra tanpa sengaja menatap wajah pria itu,mata perempuan tersebut membulat indah karena terpana dengan ketampanan laki-laki dihadapan nya itu.
Bagi Zahra laki-laki itu benar-benar sempurna, selain wajah tampan nya yang persis seperti seorang aktor, laki-laki itu memiliki garis rahang yang begitu tajam, bulu alis lebat, hidung mancung dan bibir yang begitu indah.
Lekuk tubuhnya terlalu sempurna ditambah didalam kameja yang dia pakai pasti terselip tubuh kotak-kotak impian para perempuan, tapi kesan awal yang didapat nya jelas laki-laki tersebut merupakan sosok sombong dan cukup dingin kepada siapapun yang ada di hadapan nya.
Dari penampilan ke 2 laki-laki tersebut bisa Zahra simpulkan mereka jelas orang yang benar-benar kaya raya.
Laki-laki yang ditatap Zahra sejenak menatap balik dirinya dengan tatapan yang begitu dingin, pandangan mereka bertemu cukup lama,kemudian laki-laki itu membuang pandangannya
"Tentu saja,nilai terpenting yang pertama adalah wajahnya"
pria yang dipanggil Daniel berkata sambil menatap jijik kearah Zahra.
Perempuan itu membenarkan kaca matanya, kemudian buru-buru dia menata tiap gelas dan minuman ke atas meja, setelah itu teman satu kerja Zahra masuk sambil membawa senampan makanan, membantu Zahra menyusun nya tapi tanpa sengaja tiba-tiba gadis itu menumpahkan segelas minuman.
Sejenak mereka membeku.
"Nilai terpenting dari seorang perempuan adalah isi kepala nya, kau tidak akan bahagia mendapat seorang perempuan yang hanya cantik namun cuma bisa menghabiskan seluruh harta mu tapi tidak dapat menggunakan otak nya dengan baik"
Alih-alih marah laki-laki yang dipanggil Lucas tadi bicara sambil mengarahkan jari telunjuk nya ke sisi kanan kepalanya, kemudian dengan cepat dia meraih gelas yang tanpa sengaja teman Zahra tumpah kan minumannya tadi.
Laki-laki tersebut menyodorkan kepada Zahra gelas yang telah kosong tersebut dan meminta Zahra mengisi kembali gelas itu.
Teman Zahra merasa tak enak sambil menahan malu nya, Zahra dengan cepat menuangkan minuman yang diminta pria itu dengan perlahan.
"Jangan terlalu tegang, Lucas. Bagaimana dengan proyek pengembangan itu?"
Seorang Laki-laki yang sedari tadi duduk santai di sudut ruangan di sisi kiri Zahra bicara sambil berjalan mendekati mereka semuanya.
Wajah laki-laki satu ini sangat kalem dan tampan,dari 3 jenis laki-laki itu,yang 1 ini terlihat lebih santai dan bersahabat.
"Yeah Zack, kau bisa minta sekretaris ku menyiapkan semua dokumen nya,kita akan menandatangani kerja sama besok sore"
Laki-laki bernama Lucas tadi bicara dengan laki-laki yang dia panggil Zack, dia bicara cepat sambil meminum minuman yang ada ditangannya
"kau berhasil mendapatkan nya?"
Laki-laki bernama Zack menatap dengan wajah tidak percaya, dia menaikkan gelas minuman nya dan mengajak bersulang.
"Itu luar biasa"
Lanjut nya lagi.
"Aku tidak Paham kenapa tiba-tiba ingin pergi kekampung ini hanya untuk merayakan keberhasilan dalam mendapatkan proyek itu"
Laki-laki bernama Daniel tadi Bertanya sambil meraih makanan yang ada di atas meja.
"Kota membuat kita jenuh tanpa sebab"
tanpa melanjutkan kata-katanya,Lucas meminta Zahra dan temannya untuk segera meninggal kan ruangan mereka.
"sepertinya kita butuh beberapa perempuan"
Daniel kembali bicara ke arah teman-teman nya.
"Tidak untuk Lucas"
Zack menjawab cepat.
"Dia akan menikah dengan penerus La Reaver bulan depan,jangan membuat kontroversi yang akan merugikan keluarga besar Lucas"
Ucap laki-laki itu cepat,kemudian dia mengeluarkan ponsel nya yang terus berdering sejak tadi dan mengangkat telpon nya.
Zahra dan temannya menundukkan pelan kepala mereka,menutup pintu ruangan dan pergi berlalu dari sana
"Orang kaya memang sulit untuk dipahami"
Batin Zahra pelan.