Hari yang begitu menyakitkan

1029 Kata
Zahra terlihat memundurkan langkahnya saat dia sadar siapa yang datang menemui dirinya ke club malam. 4 laki-laki bertubuh kekar berusia antara 35 hingga 45 tahun yang terlihat menunggu dirinya di depan meja bartender. Sejenak gadis tersebut menelan salivanya, dia pikir apa mungkin ini adalah hari terakhir kehidupan nya?. Gadis itu menggenggam erat telapak tangan nya, dia mencoba terus memundurkan langkahnya namun salah satu dari keempat orang itu berkata. "Keluarlah jika kamu tidak ingin melihat kami menghancurkan tempat ini, bayangkan bagaimana kerugian yang akan di terima Aoi karena hal tersebut?" Mendengar ucapan laki-laki berambut gondrong dihadapan Zahra, seketika gadis itu menggeleng kan perlahan kepalanya, mimik wajahnya terlihat begitu menyedihkan dan Zahra fikir mungkin ini akan menjadi malam kematian nya. Demi apapun rasanya Zahra sudah kehilangan harga diri nya,para rentenir kini mendesak nya agar segera melunasi hutang pokok dan bunga yang dia pinjam dengan segera. Setelah membuat malu dirinya di tempat tinggal nya kini dia harus merasakan hal yang sama dan dibuat Zahra jelas malu di tempat kerja nya, rasanya jika ada wajah cadangan yang bisa di bongkar pasang mungkin dia sudah membelinya saat ini. Zahra ingin sekali mengubah wajahnya saat ini juga agar tidak ada seorang pun yang mengenali dirinya sama sekali oleh termasuk ke 4 rentenir tersebut. Ketika 3 dari 4 rentenir itu menyeret tubuh Zahra menuju ke arah gang sempit disamping club malam,tuan dan nona Aoi sama sekali tidak punya daya untuk bisa mencegah nya,beberapa karyawan dibuat takut oleh ke 4 rentenir itu. "Paman aku pasti akan segera melunasi hutang-hutang itu, sementara hanya bisa mencicilnya,tunggu hingga akhir bulan ini,aku pasti akan berusaha untuk melunasi nya" Pinta Zahra sambil terus menggesek-gesekkan kedua telapak tangan nya, berharap semua rentenir itu bisa memberikan nya waktu yang banyak. "Ckckkckc Bocah seperti kamu melunasi hutang 1 milyar dengan cara bagaimana? satu-satunya cara dengan menandatangani surat rumah, bahkan ketika kamu memberikan kami rumah ibu mu,itu saja hanya bisa melunasi bunga nya tapi belum bisa untuk melunasi pokok nya" Saat Salah satu rentenir berkata kasar dengan nada menghina kepadanya, Zahra Membelalakkan mata nya dia jelas tidak bisa memberikan rumah itu kepada mereka, ibunya berkata baru boleh menjualnya saat orang dari kota datang dan bisa menemukannya. Karena satu-satu nya tempat yang mereka datangi adalah rumah itu, jika pemiliknya berganti ibu nya khawatir kesempatan tidak akan datang kembali. "Tidak paman,aku benar-benar akan melunasi hutang nya akhir bulan ini" Pinta Zahra lagi dengan penuh permohonan. Alih-alih mendengarkan permintaan Zahra, para rentenir mengeluarkan beberapa lembar kertas dan memaksa gadis itu untuk menandatangani surat serah Terima rumah. "Kau tahu? kami sudah cukup malas menagih juga menunggu janji, kamu harus segera menandatangani atau mencap jari mu di surat-suratnya. Tidak ada yang dapat diharapkan dari wanita seperti kamu, jika cantik mungkin bisa menghasilkan uang, tapi wajah mu benar-benar jauh di bawah standar" Salah satu laki-laki bicara sambil menggelengkan Kepalanya Menatapi wajah Zahra untuk beberapa waktu. Mereka memaksa gadis itu agar menandatangani atau mencap surat tersebut, jelas saja dengan bersusah payah Zahra Memberontak dan langsung menolak untuk menandatangani surat itu, bahkan dia tidak peduli jika harus matipun tidak akan pernah menandatangani surat Rumah itu. Melihat betapa kuatnya perlawanan Zahra, sejenak tanpa diduga bola mata Salah satu dari mereka menatap kearah kalung yang ada di leher Zahra. "Bos,kalung yang dia pakai juga berguna" Ucap laki-laki itu kemudian. "kelihatannya cukup mahal" Lanjut nya lagi. kalung yang dia gunakan tidak tahu sebenarnya apa, tapi warna putih indah dimana ditengah-tengah nya ada mutiara berwarna biru,sepertinya ada sambungannya tapi tidak tahu dimana sisanya. Karena sejak kecil kalung itu sudah begitu bentuknya saat dipakaikan dilehernya pada akhirnya Zahra tidak pernah mempermasalahkan nya. Sejak awal Zahra memang berniat menjual kalung itu,tapi bukan dengan cara dirampas. "Paman kita akan menjualnya besok,besok datanglah kemari dan mengambil uang nya" Zahra memohon dengan sangat,tapi salah satu dari ke 4 rentenir itu mengambil paksa kalung yang ada di leher Zahra. "Paman,tolong jangan ambil kalung nya" Tanpa mempedulikan rengekan Zahra,salah satu rentenir itu mendorong tubuh gadis tersebut dengan kasar ke lantai,kemudian menginjak tangan Zahra dengan sepatunya. "Akhhhh..." Teriakan penuh kesakitan dari mulut Zahra tidak mereka pedulikan, yang mereka pedulikan memaksa gadis itu agar memberikan cap di kertas yang digenggam salah satu dari mereka dengan jari-jari Zahra "Tidak...tidak " Meskipun Zahra berusaha sekuat tenaga untuk menolak, 4 kekuatan laki-laki itu benar-benar tidak sebanding dengan kekuatan nya. Dan pada akhirnya cap sidik jari nya benar-benar sudah di bubuhkan di kertas yang ada dihadapan nya. Tidak..!. "Bagus,mulai hari ini rumah itu bukan lagi milik mu" Wajah Zahra memucat,dia fikir habislah sudah dirinya, tidak ada satu hal pun lagi yang dia miliki saat ini, Zahra rfikir jadi orang miskin benar-benar sangat memuakkan, jika dia bisa terlahir kembali,dia berharap jadi orang yang kaya raya, orang yang berkuasa,hingga tidak ada satupun orang yang dapat menginjak-injak harga dirinya. Seketika air mata nya tumpah di mana gadis itu tergeletak di lantai beraspal di bawah langit kelam. Ibu...apa yang harus aku lakukan?!. "Oh tuhan, Zahra apa kau baik-baik saja..??!!" Nona Aoi berteriak berlarian ke arah Zahra, dia buru-buru membantu mengangkat tubuh gadis tersebut sambil menatap iba ke arah dirinya. "Dasar rentenir, tidak begitu cara nya memaksa seorang gadis melunasi hutang-hutang nya" Tuan Aoi berteriak kesal ke arah depan,menatap punggung para rentenir yang pergi menjauh. "Habislah sudah, mereka membawa semua barang berharga nya" Nona Aoi bicara muram sambil membantu Zahra berjalan masuk ke dalam club malam milik mereka. "Malam ini tidur saja di sini,besok baru memikirkan kemana harus tinggal selanjutnya" Tuan Aoi bicara cepat sambil menyuruh salah seorang karyawan membawa Zahra ke kamar istirahat para pegawai. Melihat keadaan Zahra jelas membuat para karyawan lainnya menatap kasihan ke arah gadis tersebut sambil berbisik-bisik. "Sebaiknya obati dulu luka kamu, Zahra" Laki-laki yang membantu mengantar Zahra ke kamar istirahat para pegawai bicara cepat sambil lari ke arah kotak p3k di sudut meja kasir club. Zahrah terlihat diam seribu bahasa, tangisan nya benar-benar tidak bisa pecah, baginya hari ini adalah hari yang paling menjijikkan dalam hidupnya,dia fikir tidak ada gunanya lagi dia hidup di dunia ini. Jika ibunya pergi,maka siapa yang boleh jadi tempatnya bersandar dan mengadu? omong kosong ibu nya tentang orang dari kota itu adalah omong kosong yang sangat memuakkan,bahkan menunggu omong kosong ibunya sama persis seperti mimpi anak-anak yang berharap bisa terbang ke langit untuk menggapai bulan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN