❗E n a m b e l a s ❗

532 Kata
Pagi-pagi aku sudah dibuat tercengang dengan kedatangan Pak Aarav rumahku dengan puluhan bunga anyelir di tangannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia langsung menyerahkan puluhan bunga itu ke tanganku. "Maksudnya apa, Pak?" tanyaku setelah mematung beberapa saat. "Berusaha bikin kamu senang." "Hah? Gimana?" Dia berdecak sebal. "Saya lagi berusaha bikin kamu senang," ulangnya. Aku lagi-lagi mematung. Mataku menatap bunga-bunga Anyelir dengan warna yang beragam di tanganku. Iya, aku memang menyukai bunga ini, tetapi enggak harus dibelikan sebanyak ini. "Suka nggak?" "Suka." "Kalau begitu besok saya belikan lebih banyak lagi," ucapnya enteng. Aku buru-buru menggeleng. "Enggak usah, Pak. Ini aja udah lebih dari cukup kok," tolakku. Dia hanya terdiam lalu mengangguk pelan. Beberapa saat kemudian, aku dan Pak Aarav sudah berada di dalam mobilnya. Pagi ini kebetulan adalah hari Minggu yang berarti kami berdua sama-sama meliburkan diri dari aktivitas masing-masing. "Mau ke mana?" tanyanya setelah sekian lama bibirnya rapat. Hening. Tanpa suara. Aku melirik sekilas ke arahnya lalu kembali menatap ke arah jalan. "Kita kan lagi on the way ke rumah sakit, Pak," ucapku mengingatkan. Dia berdeham. "Setelah dari rumah sakit. Kita pergi ke mana lagi?" Aku terdiam beberapa saat, berusaha mencerna kata-katanya. Aku kembali mengingat-ingat ini hari apa, demi mengurangi kesalahan, aku mengecek di ponsel, dan benar saja hari ini adalah hari Minggu yang berarti tidak ada jadwal bimbingan. "Kita enggak bimbingan kan, Pak? Tadi Bapak bilangnya cuma mau jenguk Ibu." Dia menoleh ke arahku, menampilkan wajah garangnya. "Saya juga tidak ingin membimbing skripsi kamu, hari ini," ucapnya ketus. Aku mengembuskan napas pelan. Sabar. Sabar. Enggak boleh emosi. Harus menghormati pria ini. "Yaudah, Pak. Kalau begitu seharusnya Bapak enggak perlu tanya sehabis dari rumah sakit kita ke mana dong. Bisanya kita kan pergi kalau mau bimbingan, tapi hari ini enggak ada jadwal bimbingan." Dia mengecilkan AC mobil ini lalu memberhentikan mobilnya saat lampu merah. "Saya mau pergi berdua sama kamu. Pergi sebagai pria dan perempuannya. Bukan pergi sebagai dosen dan mahasiswinya," ucapnya lalu dia kembali menjalankam mobilnya. Maksudnya? Dia benar-benar ingin pendekatan denganku? Ceritanya kami akan kencan? Pertanyaanku benar-benar terjawab saat sepulangnya dari rumah sakit, Pak Aarav membawaku ke Mall terdekat. Awalnya dia mengajakku untuk makan malam, aku menurut saja. Namun, tidak sampai disitu. Selesai dengan kegiatan makan malam kami, Pak Aarav memesan tiket bioskop untuk kami berdua. "Kita nonton horor, Pak?" tanyaku saat kami berdua sedang duduk di depan studio sambil menunggu jam penayangan film. Pak Aarav mengangguk pelan. "Kamu suka popcorn?" tanyanya. Belum sempat aku menjawab, pria itu sudah lebih dahulu meninggalkanku. Sambil menunggunya aku kembali menatap dua tiket yang tergenggam di tanganku. Film horor? Firasatku mulai tidak enak. Jujur saja aku takut dengan hantu. Tidak kebayang nanti di dalam seperti apa reaksiku saat menonton ini. Aku takut kalau bertindak memalukan. "Dhara." Lamunanku buyar saat mendengar namaku dipanggil. Aku menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Pak Aarav yang sedang membawa sekotak popcorn dan dua air mineral di tangannya, "ayo, masuk," ucapnya setelah itu kami bersama-sama memasuki studio bioskop. Firasatku benar adanya. Di sepanjang film aku terus-menerus memeluk Pak Aarav karena ketakutan. Pria itu hanya terdiam sambil membalas pelukanku. "Dhara," panggilnya saat di tengah-tengah film berjalan, "kamu jangan pernah nonton horor dengan pria lain ya? Kecuali dengan saya," lanjutnya. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN