❗T u j u h b e l a s❗

568 Kata
Hari ini Ibu sudah diperbolehkan untuk pulang, meskipun setiap minggunya harus dilakukan pemeriksaan ke rumah sakit. "Hati-hati ya, Bu," ucap Pak Aarav sambil membantu Ibu duduk di kursi rodanya. Dari awal Ibu masuk rumah sakit sampai Ibu diperbolehkan untuk pulang, Pak Aarav selalu senantiasa membantu kami. Aku tidak pernah memaksa dan memintanya, tetapi dia yang selalu berinisiatif. Pria itu, selain melakukan pendekatan denganku, ternyata dia juga melakukan pendekatan dengan keluargaku. "Ayo, Ra," ucap Ibu sambil menepuk tanganku pelan. Aku tersadar dari lamunanku dan langsung buru-buru mengangguk. Aku mendorong kursi roda Ibu, sedangkan Pak Aarav membawa tas yang berisi perlengkapan Ibu selama di rumah sakit. Sesampainya di mobil, aku dan Pak Aarav membantu Ibu untuk duduk di bagian tengah, sedangkan kami berdua duduk di bagian depan. Tidak ada percakapan yang intensif selama kami berada di dalam mobil. Keheningan yang lebih mendominasi. "Terima kasih ya Nak Aarav. Maaf jadi terus-menerus merepotkan," ucap Ibu saat kami sudah sampai di rumah. Pak Aarav membalas dengan senyum lebarnya kemudian menggeleng pelan. "Gapapa, Bu. Saya sama sekali tidak keberatan," ucapnya dengan nada yang terdengar ramah. "Sekali lagi terima kasih ya," sorot mata Ibu menatapku lalu berbalik menatap Pak Aarav, "kamu temani dulu ya Pak Aarav. Dia sepertinya belum makan siang. Kalian berdua makan dulu sana." "Iya, Bu," aku menoleh menatap Pak Aarav yang juga sedang menatapku, "ayo, Pak. Kita ke dapur." "Iya," ucapnya setelah itu kami berdua berjalan beriringan memasuki dapur. Aku menunjuk ke arah meja makan. "Bapak duduk di situ dulu. Saya mau masak," tanpa merespons ucapanku, pria itu langsung duduk di kursi meja makan, "mau dimasakkan apa?" tanyaku. "Apa aja." Aku membuka kulkas lalu melihat bahan-bahan makanan yang tersedia di sana. Tidak ada apapun selain telur. Kemarin aku sempat membeli beberapa potong ikan, tapi saat ini sudah ludes. Mungkin sudah dimakan oleh adik-adikku. "Adanya cuma telur, Pak," aku melirik ke arahnya, "mau dibuatkan telur dadar atau telur ceplok?" tanyaku sambil mengambil dua telur dari dalam kulkas. "Kamu sukanya apa?" ucapnya berbalik bertanya. "Telur dadar." "Yaudah. Masak telur dadar aja." Aku berdeham lantas mulai memasak menu itu. Beberapa saat kemudian, dua telur dadar sudah tersedia di dalam piringku dan juga piring Pak Aarav. "Mau pakai nasi gak?" "Kamu pakai ga?" "Pakai." "Yaudah saya juga." Aku menuangkan nasi untuknya dan juga untukku. Setelah itu aku duduk tepat di hadapannya lalu kami makan dengan diselimuti keheningan. "Enak," ucap Pak Aarav setelah dia menghabiskan makanannya, "kamu bisa masak apa lagi?" "Apa aja bisa. Soalnya tadi cuma ada telur, jadinya aku masak itu aja." Pak Aarav mengangguk lantas dia meminum air putih di gelasnya. "Kalau masak sup ayam, bisa?" tanyanya setelah beberapa saat kami terdiam. Aku mengangguk pelan lalu mengambil piring kosongku dan juga piring kosong Pak Aarav, berjalan ke arah wastafel lalu mencucinya. "Bisa, Pak. Kenapa emangnya?" tanyaku penasaran. "Itu makanan kesukaan saya." "Oh, iya." "Kalau enggak keberatan, kapan-kapan saya mau makan sup buatan kamu," ucapnya dengan santai, tetapi cukup membuatku mematung. Kalau Pak Aarav mau sup, dia bisa membeli saja, tanpa harus aku masakkan. Lagi juga, masakanku tidak seenak itu. "Keberatan, tidak?" tanyanya. Aku menyelesaikan kegiatan cuci piringku lalu kembali duduk di hadapannya. "Iya, nanti aku buatkan. Kalau aku punya waktu buat ke pasar." Pak Aarav menarik kursinya sehingga dia lebih dekat denganku. "Di depan sana, saya lihat ada supermarket. Kita beli di sana aja. Sekarang bisa." Pak Aarav tidak sabaran sekali. Kapan-kapan kan bisa. "Mau tidak, Dhara?" tanyanya lagi. Ih. Dosen satu ini. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN