Daniel duduk tegang di sebuah kafe yang tenang, menunggu kedatangan Maura, mantan istrinya. Mereka sudah lama terpisah, dan kali ini, Maura yang menghubunginya.
"Hai, Daniel. Lama sekali kita tidak bertemu, ya?"
"sudah benar-benar lama." sahut Daniel
Maura duduk di hadapan pria itu lalu memesan satu buah jus alpukat
"Aku merindukan momen-momen kita bersama, Daniel. Aku merasa kalau kita baru saja menikah."
Daniel tertawa menyeringai dan membuat Maura menoleh
"apa ada yang lucu?" tanyanya
Daniel menghela nafas panjang
"rasanya sedikit tidak enak didengar ketika kamu bahas mengenai pernikahan Komang itu adalah masa lalu dan kau tahu kalau pernikahan kita hanyalah pernikahan kontrak saat perjanjian selesai maka kita pun bercerai," pungkasnya
perempuan itu seketika terdiam, dia menghubungi Daniel memang untuk mengajaknya kembali merajut sebuah hubungan lagi, siapapun yang pernah menikah dengan Daniel pasti akan menemui pria itu lagi karena hanya dengan Daniel lah mereka bisa mendapatkan pundi-pundi uang yang cukup banyak.
Mereka berdua duduk dalam keheningan sejenak, merenungkan apa yang telah mereka lewati.
"tidakkah kau ingin mencoba nya?" tanya Maura
"Kurasa tidak! Aku telah menikah lagi dengan seseorang, Ayuni."
Maura terlihat terkejut
"Ayuni? Kapan itu terjadi?"
Daniel menatap datar wajah perempuan yang saat ini duduk di hadapannya.
"apa aku harus mengatakan tentang kehidupan kepadamu? kita sudah bercerai dan lagi pula pernikahan kontrak itu perjalanannya 2 tahun, jadi bersikaplah seperti teman padaku jangan pernah berpikir untuk kembali merajut pernikahan,"
Maura menghela nafas dalam-dalam "Aku tidak tahu, Daniel. Semua ini terlalu cepat untukku." ucap Maura
"Aku mengerti kalau ini mengejutkan. Tapi aku ingin kita berdua tahu bahwa pernikahan kita yang dulu tidak akan pernah berhasil. itu hanyalah pernikahan kontrak, berapa kali aku harus mengingatkan ini padamu," ujar nya
"Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. tanpa mu, hidup ku terasa sulit."
Daniel terkekeh
"mungkin sulit untuk mu, bukan untukku!" jawab nya
Maura dan Daniel kembali terdiam, masing-masing merenungkan apa yang telah terjadi dalam hidup mereka.
Suasana telah berubah. terdapat keheningan yang tak terelakkan, seolah-olah masa lalu mereka menghantui tempat ini.
Maura duduk di hadapan Daniel, mata berkaca-kaca, dan ekspresi penuh harap. Dia mencoba menyampaikan perasaannya dengan tulus.
"Ku mohon, Daniel," pintanya dengan penuh rasa, "mari kita coba lagi. Aku tahu kalau pernikahan ini hanyalah pernikahan kontrak, aku tidak pergi walaupun kau sudah menikah dengan perempuan yang bernama Ayuni, aku rela menjadi madumu."
mendengar penuturan tersebut sontak Daniel tertawa terbahak-bahak, seorang mantan istri rela menjadi madu dari istri baru mantannya? ini benar-benar aneh.
Namun, reaksi Daniel sangat berbeda. Dia merasakan rasa marah yang dalam, yang telah terpendam begitu lama.
"Maura," bentaknya dengan keras, "kamu tidak mengerti. Kita sudah mencoba berkali-kali. Pernikahan kita hanyalah penderitaan dan kebingungan. Aku tidak akan kembali padamu! kau selalu merasa jika aku terus mengaturmu dan kau pun berpikir kalau aku adalah pria b******k yang kerap kali bergonta-ganti pasangan, jadi aku tidak ingin kembali kepadamu dengan segala sifat buruk itu," ucap Daniel
Air mata Maura semakin deras. Dia merasa hancur oleh penolakan ini.
"Tolong, Daniel," ia berusaha merayu, "beri aku kesempatan. Aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini."
Namun, Daniel tidak bisa lagi menahan kemarahannya.
"Cinta tidak cukup, Maura!" pekiknya dengan penuh frustrasi, "Aku lelah dengan segala drama dan pertengkaran kita. Aku sudah menutup bab itu dalam hidupku, dan aku tidak akan kembali padamu!"
Maura terluka dan putus asa.
"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan tanpamu, Daniel," bisiknya sambil menangis, "ini sangat sulit bagiku."
Daniel berdiri dengan tegas, dia merasa telah membuat keputusan yang tak terelakkan.
"Kamu akan menemukan jalanmu, Maura," ujarnya dengan suara tegas, "hidup kita harus berlanjut, terlepas dari apa yang terjadi di antara kita."
Maura tetap duduk, menangis dengan penuh duka,
Di kafe yang sebelumnya hangat dan tenang, sebuah pertengkaran yang memilukan terjadi. Daniel dan Maura duduk berhadapan, tetapi atmosfer segera berubah menjadi tegang.
Daniel memulai dengan suara tajam yang memecah hening. "Maura, aku tidak tahan lagi. Kita selalu berakhir dalam pertengkaran, dan aku sudah lelah dengan ini semua! kupikir kau ingin membicarakan sesuatu yang penting tapi ternyata hanya membicarakan sesuatu yang tidak masuk akal"
Maura, dengan mata merah karena frustrasi, tidak tinggal diam. "Kamu juga tidak berusaha cukup keras, Daniel! Kita bisa mencoba lebih keras untuk menjadikan ini berhasil!"
ketegangan semakin meningkat, dan beberapa mata di kafe mulai memperhatikan mereka, mencoba untuk tidak terlalu jelas mendengar percakapan mereka.
Daniel, semakin marah, menggelengkan kepala dengan keras. "Kita sudah mencoba itu, Maura, berulang kali! Apakah kamu tidak bisa melihat bahwa pernikahan kita hanyalah sumber penderitaan?"
Suasana semakin memanas, dan suara mereka semakin tinggi, menciptakan situasi yang semakin memalukan di kafe yang tadinya tenang.
Maura, dengan nada tinggi, menyerukan, "Aku tidak akan menyerah begitu saja, Daniel! Aku mencintaimu, dan aku percaya kita bisa melewati semua ini!"
Daniel bangkit dari kursinya dengan marah, mencuri perhatian semua orang di sekitarnya. "Aku sudah cukup! Aku sudah membuat keputusan, dan itu adalah akhirnya!"
Percakapan mereka semakin memanas, pertengkaran yang penuh emosi ini tidak lagi bisa dipadamkan. Kafe yang awalnya menjadi tempat kedamaian kini menjadi saksi dari pertengkaran yang berapi-api antara Daniel dan Maura.
Daniel duduk dengan tegas di kursinya, pandangannya tajam saat ia berbicara dengan Maura. Suaranya berisi keyakinan yang tidak bisa digoyahkan.
"Maura," katanya dengan jelas dan tegas, "kamu harus mengerti satu hal. Pernikahan kita dulu, itu hanyalah pernikahan kontrak belaka. Ini bukan tentang cinta, ini bukan tentang kedekatan. Itu salah satu keputusan terburuk dalam hidupku, dan sekarang saatnya kita akhiri kontrak ini."
Maura, dengan mata berair dan hati yang terluka, mencoba merespon, "Tapi, Daniel, aku berharap kita bisa memberi kesempatan pada pernikahan kita."
Namun, Daniel tidak mengizinkan dirinya ragu. Dia menjawab tanpa keraguan, "Tidak, Maura. Kita tidak bisa terus memaksakan sesuatu yang sejak awal salah. Ini tidak adil bagi kita berdua."
Kesedihan dalam diri Maura semakin dalam. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan tanpamu, Daniel."
Daniel mencoba menjadi lebih pelan dalam kata-katanya, "Kamu akan menemukan jalanmu, Maura. Saatnya kita berdua melanjutkan hidup masing-masing, tanpa pernikahan ini yang hanya membuat kita tidak bahagia."
Daniel merasa hidupnya semakin rumit, mantan istrinya yang dulu adalah pernikahan kontrak, sekarang satu per satu datang mencoba memohon kembali. Mereka datang dengan berbagai alasan dan alasan, tetapi Daniel dengan tegas menolak mereka semua. Baginya, pernikahan kontrak itu tidak pernah memiliki cinta yang sejati, dan dia tidak ingin kembali ke dalam situasi yang sama.
Masing-masing mantan istrinya mencoba membujuknya dengan kata-kata manis dan kenangan masa lalu, tetapi Daniel tetap kukuh pada keputusannya. Baginya, cinta adalah kunci dalam sebuah pernikahan, bukan sekadar perjanjian bisnis atau kemapanan finansial.
Setiap pertemuan dengan mantan-mantan istrinya hanya membuatnya semakin yakin bahwa dia telah membuat keputusan yang benar dengan berpisah dari pernikahan-pernikahan kontrak tersebut.