Enam tahun kemudian di negara Y.
Institut Riset BAHANA.
Natalie sedang berada di dalam laboratorium memeriksa data yang padat. Namun tiba-tiba jaringan komputer di tempat itu mengalami kerusakan.
Detik selanjutnya seluruh jaringan di institut riset tersebut telah diretas dan dibuat lumpuh oleh peretasnya.
Terdengar teriakan frustasi dari orang-orang yang berada di luar laboratorium ...
"Mulai buat masalah lagi? Dua bayi kecil keluarga Aletta ini!"
"Aletta! Tolong selamatkan kami!"
Tak lama kemudian, sejumlah bayangan memasuki kantor Natalie. Mereka meminta bantuan dengan diiringi oleh suara alarm yang berhitung mundur.
Sepuluh ...
Sembilan ...
Delapan ...
Tujuh ...
Begitu hitungan mundur mencapai angka satu jadi semua data di institut riset itu akan hilang. Melihat situasi ini, Natalie yang merasa putus asa pun segera menelpon seseorang.
"Sayang, tolong jangan terlalu marah! Aku pulang, aku akan pulang sekarang juga. Segera berhenti!"
Dari ujung telepon, suara anak kecil yang lembut terdengar dengan nada yang agak aneh.
"Oh, bukankah ini Miss Aletta ahli parfum Internasional yang baru terkenal?
Natalie yang mendengar hal itu hanya bisa mengucapkan kata maaf.
"Sayang, maafkan aku. Ibu tidak bermaksud seperti ini. Akhir-akhir ini ibu sangat sibuk, satu set parfum harus diluncurkan tapi rumus terakhirnya selalu salah, karena masalah itu ibu selalu pulang terlambat ...."
"Aku akan pulang sekarang! Segera! Jadi tolong hentikan, jangan serang jaringan Institut Riset lagi. Ibu sangat memohon pada kalian!"
Si Baby kecil di seberang sana mendesah kasar dan berkata dengan nada dingin, “Hm...Apa sangat sulit bagimu untuk mengingat bahwa kamu memiliki keluarga. Kupikir kamu akan tinggal di institut untuk waktu yang lama dan lupa bahwa kamu memiliki dua anak yang pintar!”
Natalie yang mengetahui sifat pemarah anaknya langsung tersenyum tipis dan mulai merayu putranya. "Bagaimana mungkin ibu lupa? Kalian adalah kesayanganku! Ibu sangat mencintai kalian! Sini cium-cium."
Anak kecil di telepon yang mulai mendapat kenyamanan dari ibunya itu akhirnya berhenti mengoperasikan komputer.
"Hmph .... sudahlah. Aku hanya akan memberi waktu setengah jam untuk ibu sampai di rumah. Jika tidak, aku akan terus menyerang institut riset."
Setelah berkata demikian, bocah itu langsung menutup telepon dengan bangga.
Begitu juga dengan Natalie yang juga menghela napas lega, berbalik dan memberi tanda OK kepada semua orang yang berada di ruangan itu.
Para staf yang sebelumnya merasa tegang, segera kembali ke tempat mereka.
Asisten Anne membawa berkas masuk dari luar dan tanpa dapat menahan diri tertawa terbahak-bahak.
“Siapa yang tahu sekelompok orang berbakat ini harus menghadapi ancaman dari dua bayi lucu?” ucapnya.
Sedangkan Natalie yang mendengar hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Semua orang di institut itu tahu, dua bocah di rumahnya adalah tipe yang tak bisa diatur. Mereka sangat aktif dan cerdas. Namun, karakter mereka juga sangat mirip Arga Pratama-pria busuk yang sudah membuangnya di masa lalu.
...
Setelah malam itu, Natalie kembali ke kediaman keluarga Kuncoro tapi ia diusir oleh orang tua kandungnya.
Natalie pikir dia tidak akan pernah memiliki hubungan apapun dengan Arga selama sisa hidupnya setelah itu. Namun, siapa yang menyangka percintaan semalam yang mereka lakukan, membuatnya hamil dan itu adalah kehamilan kembar empat.
Akan tetapi fisik Natali mengalami masalah. Dia paksa menerima kenyataan untuk menggugurkan anaknya atau mempertahankan sehingga membuatnya mandul seumur hidup. Saat itu, dokter tidak menyarankan untuk melahirkan anak-anaknya dan menyuruh melakukan aborsi.
Saat itu Natalie merasa sangat tertekan. Semua pilihan yang dikatakan dokter sama-sama sulit baginya. Apalagi dia hidup di negeri asing seorang diri tanpa dukungan dan tanpa adanya keluarga sama sekali. Namun, setelah mempertimbangkan beberapa hari, Natalie akhirnya memutuskan untuk tetap melahirkan anaknya.
Sayangnya selama proses persalinan terjadi, ada sebuah kejadian yang tidak terduga sehingga menyebabkan kematian bayi laki-laki dan bayi perempuan. Sekarang, yang tersisa hanya sepasang kakak dan adik perempuan di rumah.
Kedua anak itu sangat pintar dan juga memiliki paras yang sangat cantik.
Anak tertua Naresha Kuncoro memiliki kepribadian yang tenang dan bijaksana, hobinya mengotak-atik komputer, menguasai semua hal yang mencakup pemrograman, mahir berbicara dalam empat bahasa, serta memiliki keahlian menulis dan melukis yang luar biasa. Dia adalah anak yang sangat berbakat.
Adik perempuan Natasha Kuncoro, dia adalah gadis kecil yang sangat aktif dan energetik, kemampuannya mengikuti minat Natalie-sang ibu dalam pembuatan parfum dan keterampilan medis, sering kali memiliki ide-ide kreatif dan tahu bagaimana cara meracik obat untuk sakit kepala atau demam di usianya yang masih sangat kecil.
Kecantikan, kecerdasan serta kelucuannya membuat kedua kedua bocah itu selalu mencuri pusat perhatian dan disukai banyak orang kemanapun mereka pergi.
Memikirkan mereka hati Natalie kembali merasa hangat. Dia juga sangat merindukan putri-putri cantiknya.
"Aku tidak akan berbicara lagi padamu karena harus cepat pulang,” ucap Natalie pada asistennya, Anne.
"Kalau tidak sampai di rumah dalam waktu setengah jam, maka institut riset lagi-lagi akan menjadi sasaran." Dia melepas jas putihnya, sambil terus berbicara.
"Ya, sebaiknya kau memang harus pergi sekarang," balas Anne.
"Ingatlah untuk mengemas barang-barangmu karena besok kamu akan kembali ke negara asalmu." Annie tersenyum sambil mengingatkan Natalie tentang kepulangannya.
Mendengar tentang hal itu, Natalie mengerutkan kening.
Beberapa tahun terakhir, selain meraih kesuksesan di bidang kedokteran, tak hanya itu, dia bersama sahabat baiknya yang bernama Dian Juano, juga membuka sebuah perusahaan parfum bernama BAHANA GROUP.
Karena rumus-rumusnya dikembangkan olehnya bersama timnya selalu berhasil, reputasi mereka mencuat di tingkat internasional. Banyak orang dari perusahaan lain mencarinya karena ingin bekerja sama dengan mereka.
Bahkan sekarang mereka sudah mengembangkan perusahaan dengan membuka cabang di negara asalnya. Semula cabang itu adalah tanggung jawab Dian Juano.
Namun, karena ibu Dian Juano sakit parah, dia kesulitan untuk menangani semuanya, dan akhirnya Dian Juano meminta Natalie kembali untuk membantu management.
"Aku tahu, kita bertemu di bandara besok pagi."
Natalie merespon dengan sedikit sedih lalu meninggal Anne dan bergegas pulang ke rumah. Begitu sampai di rumah, Natalie menerima protes keras dari kedua anaknya yang merasa marah karena dia terlalu sibuk di perusahaan sehingga jarang ada waktu untuk mereka berdua.
Keesokan harinya mereka benar-benar kembali ke negara asal Natalie. Mereka sudah sampai bandara, tapi Natalie terlihat sangat lesu dan tidak bersemangat sama sekali.
Dia merasa sedikit iri saat melihat dua putri kecilnya yang terlihat begitu keren dan sempurna, wajah mereka dilengkapi dengan kacamata hitam seolah-olah mereka berdua adalah bintang internasional. Fitur wajah cantik mereka memang mengagumkan bak dibuat dengan cermat oleh seorang seniman. Sepanjang perjalanan ini, mereka telah menarik perhatian banyak orang, bahkan ada yang tidak tahan, mengeluarkan ponsel mereka untuk mengambil foto.
Annie yang sedang menarik koper dan mengetahui hal itu tak kuasa menahan tawa dan berkata kepada Natalie, "Rasanya seperti kamu melahirkan dua anak kecil nakal yang luar biasa."
Natalie melihat dua anaknya yang sedang bermain-main di depan, tak membiarkan kedua bocah itu lepas dari pengawasannya. "Memang benar kan?" ucapnya.
Naresha yang mendengar perkataan Natalie berbalik badan, lalu dengan sangat manis dia berkata, "Ibu pantas mendapatkan ini, siapa suruh bekerja tanpa henti, bahkan tak peduli pada kesehatan tubuh sendiri."
“Benar, jika kita tidak mengurus ibu, kita tidak tahu apa yang akan terjadi padanya ..." sahut Natasha, adik kembarnya yang langsung menyetujui ucapan kakaknya.
Melihat kedua anaknya akan mulai menyalahkan lagi jadi Natalie segera berkata:"Iya iya, kata-kata kalian benar!" Dia tidak ingin terus menerus mendengar nasehat dua bayi kecilnya yang sok dewasa itu sekarang.
Mereka terus berbicara dan mengobrol satu sama lain, kemudian menaiki pesawat bersama-sama. Bersyukur penerbangan akan berlangsung selama belasan jam, sehingga telinga Natalie akhirnya merasa tenang paling tidak sampai mereka mendarat nanti.
Setelah menempuh perjalanan panjang sampai, akhirnya mereka turun dari pesawat. Natalie yang masih terjaga dari awal penerbangan sampai sekarang, pun merasa sedikit pusing dan lemas. Dia meminta Anne untuk melihat anak-anak dan barang bawaannya sementara ia akan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Tentu saja Anne tidak menolak.
Setelah Natalie mencuci mukanya dengan air dingin, secara bertahap wajahnya menjadi lebih segar. Begitu juga dengan energinya mulai kembali. Dia meninggalkan kamar mandi setelah itu untuk kembali mengawasi putri-putrinya secara langsung.
Natalie sedikit tercengang saat melihat Naresha yang sudah berganti pakaian. Padahal ketika mereka turun dari pesawat Naresha masih mengenakan pakaian santai yang dia kenakan saat naik pesawat, dengan kacamata hitam di wajahnya.
Namun dalam sekejap, bocah kecil itu sudah berganti pakaian menjadi setelan jas kecil yang sangat rapi. Di sampingnya, Natasya juga begitu, gadis itu masih mengenakan gaun bunga-bunga yang manis saat dia tinggal di kamar mandi, sekarang berubah menjadi gaun putri yang anggun.
Mereka berdua terlihat sangat serius!
Natalie tiba-tiba tertawa, berjalan ke depan kedua anaknya, dan berkata dengan candaan, "Anak-anak, nanti kita akan bertemu dengan bibi, bukan akan pergi ke pesta dansa, apa perlu berpakaian sedemikian rupa?"
Dua anak di depannya mendengarkan kata-kata sang ibu dengan wajah heran.
Apakah wanita cantik ini ... sedang berbicara dengan mereka?