bc

Menikahi Aca

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
campus
like
intro-logo
Uraian

"Walau dia pacarmu, jika Tuhan mengatakan kamu jodohku dia bisa apa?"

Lagi-lagi ini drama perjodohan, mengapa ada perjodohan dimuka bumi ini Tuhan? Nahas! Tak ia sangka akan mengalami hal ini, hal yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya, jangankan untuk memikirkan terlintas saja tak pernah. Sejak di bangku SMA sampai akhir kuliah Aca dan Nafa menjalin hubungan, tak Aca sangka bahwa ternyata jodohnya adalah Nabil, sahabat Nafa sendiri. Perjodohan Nabil dan Aca memang terbilang mendadak, bahkan sangat mendadak. Apakah di dalam drama perjodohan ini akan ada lanjutan drama backstreet? Apakah Aca dan Nabil akan menyembunyikan ini semua dari Nafa? Bagaimana mereka menjalani ini semua? Sampai akhirnya dimanakah hati Aca akan sungguh-sungguh berlabuh? Ah terlalu banyak pertanyaan, baca saja ya!

chap-preview
Pratinjau gratis
Awal
"Gue mau minuman soda satu!" pinta wanita berambut pendek itu saat lelaki di sampingnya mulai bangkit. Pria berbadan tinggi kekar itu menatap pria yang sedang memandangi laptop dihadapannya. "Boleh Naf?" tanyanya. "Nggak! Soda terus, nggak baik atuh," jawabnya Nafa dengan pandangan yang masih fokus ke layar laptop. Wanita tadi merengek. "Ya udah air mineral aja!" ujarnya lagi dengan raut wajah kesal. *** 3 mahasiswa yang sedang berada kantin kampus. Kenalin, pria tinggi kekar itu bernama lengkap Arsyan Nabil Al-Fahmi mahasiswa jurusan psikologi, ia merupakan sosok mahasiswa religius. Panggilannya Nabil. "Ambilin air mineral aja Bil, dia udah keseringan minum soda." Nah pria yang sedang fokus pada layar laptop itu Nafa, Nafaza Ananta Putra Baskara. Sosok anak tunggal kaya raya. Ia satu kelas dengan Nabil. Keduanya merupakan incaran para gadis di kampus, tak heran paras keduanya mampu membuat para gadis tergila-gila. Ups! Jangan salah, Nafa sudah ada yang punya. Ya wanita pecinta soda tadi. Namanya, Aca. Bernama lengkap Maysara Sijiuna Utami. Mahasiswi jurusan Seni. Mereka menjalin kasih sudah cukup lama, sejak bangku SMA. Berkumpulnya mereka bertiga memang terbilang cukup sering. Tak heran, saat ini ketiganya menginjak semester tua alias lagi sibuk-sibuknya skripsi-an. "Sayang, jangan fokus-fokus banget lah!" tegas Aca saat melihat keringat ambis sang kekasih mulai mengalir. Nabil bagaimana? Ya, dia sudah terbiasa melihat kemesraan mereka. Ia tidak terlalu peduli, walau sesekali ia menasehati Nafa untuk segera menikahi Aca. "Cepat nikah deh Naf, gue nggak mau sahabat gue terlalu lama berbuat dosa." Begitu tuturnya. Tapi begitulah dengan Nafa. Hanya iya-iya saja. *** Masih di kantin kampus. "Iya Yah Nabil pulang sekarang." Terlihat Nabil sedang mengangkat telepon dari Ayahnya. "Disuruh pulang Bil?" tanya Aca. "Iya, gue duluan ya!" "Bro gue duluan," pamitnya kepada Nafa seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman. Nafa yang tadinya masih fokus ke layar laptop itu, menatapnya, "mau kemana lo? tumben cepat balik?" "Gue mau anterin bokap ke rumah temennya," jawab Nabil sebelum akhirnya pergi dari sana. "Hati-hati bro!" pungkas Nafa. Nabil tak pernah mau menyalami Aca. Ya, karena prinsipnya kalau bukan mahram ia tak mau menyentuhnya. Disana masih tersisa Nafa dan Aca. Nafa yang fokus dengan layar laptop dan Aca yang fokus dengan makanannya. "Kita pulangnya kapan yang?" tanya Aca. "Jam 8 aja ya," jawab Nafa. Malam ini kantin terlihat cukup sepi. Liburan semester memang belum tiba, tapi banyak yang menyelesaikan ujian akhir semester mereka lebih awal, jadi tak heran banyak mahasiswa yang sudah pulang kampung. "Huh capek banget!" Nafa dengan kasar menutup laptopnya, lalu mengacak-acak rambutnya. Tampak jelas ia sedang pusing. "Ya udah istirahat dulu jangan terlalu dipaksain," ujar Aca yang sangat mengetahui karakter Nafa yang begitu ambis. Nafa bangkit lalu mengambil minuman soda yang ada di lemari es kantin. "Tuh kan soda!" Aca terlihat kesal. "Kalau aku boleh, kamu nggak boleh," ucap Nafa. "Curang!" "Mau?" tawar Nafa menyodorkan sebotol minuman bersoda itu. Dengan wajah imut dan polos Aca sungguh meminta minuman itu pada Nafa. "No! Kalau mau harus cium dulu," ujar Nafa lagi. Tanpa menunggu lama kecupan bibir kecil Aca mendarat di pipi mulus Nafa. "Ah, nih buat ayang!" ucap Nafa dengan senyuman sumringah pasca mendapat kecupan dari sang kekasih. *** Kali ini Nafa sedang ingin menikmati angin malam dengan kekasihnya itu, berkeliling kota menaiki motor. Nafa yang biasanya ke kampus membawa mobil hari ini memilih untuk menaiki motor. Sengaja, ia ingin mengajak Aca berkeliling kota malam ini. "Kamu lebih suka naik motor atau mobil?" tanya Nafa kepada Aca. "Mau naik becak pun asal sama kamu aku suka," jawab wanita yang sedang dimabuk cinta itu. Nafa hanya tersenyum simpul mendengar jawaban sang kekasih. "Kapan kita nikah?" tanya Nafa lagi, begitu random dan acak. "Sekarang?" tawar Aca bercanda. "Mau mahar apa?" "Surat Ar-Rahman aja lah," jawab Aca seraya tertawa. Nafa ikut tertawa, dalam hati kecilnya ia merasa tertampar dengan jawaban Aca. Ia tak fasih mengaji dan tak pandai agama. "Peluk dong!" pinta Nafa. Nafa menarik tangan Aca lalu membuatnya melingkar di pinggulnya. "Nafa dan Aca, saling cinta selamanya!" ucap Nafa disaksikan angin malam, bulan, bintang di malam dingin itu. *** Malam itu mereka nikmati dengan berkeliling kota melihat bangunan-bangunan gedung tinggi yang berjejeran menghiasi kota malam itu. "Mau makan apa?" tanya Nafa. "Aku udah kenyang, ini malah ngantuk banget saking kenyangnya," jawab Aca. "Ya udah, kita pulang ya!" ajak Nafa lagi. Dengan manjanya Aca justru semakin mengeratkan pelukannya. "Hmm ntar dulu!" rengeknya. Nafa tak bisa menolak jika Aca sudah bersikap manja seperti itu. "Ntr dicariin Abah loh!" ujar Nafa. "Ya udah deh pulang, tapi bawa motornya pelan-pelan ya biar nyampe nya lama," tuturnya. Nafa menuruti permintaan sang kekasih itu. Jujur ia juga masih ingin berlama-lama dengan Aca, tapi takut terlalu malam. Walau bawa motornya pelan-pelan tetap saja mereka akan sampai. Kini mereka sudah berada di depan rumah Aca. "Ada tamu ya yang?" tanya Nafa melihat ada mobil asing terparkir di depan rumah Aca. "Nggak tahu aku, mungkin temen Abah," tebak Aca. "Ya udah aku langsung aja kali ya," pamit Nafa. "Nggak mau mampir dulu yang?" "Lain kali aja, nggak enak ada tamu." Mereka pun berpisah. Nafa pulang dan Aca masuk ke dalam. "Assalamualaikum." "Waalaikumussalam," jawab beberapa orang yang ada di ruang tamu. "Nabil?" Aca cukup terkejut melihat sosok Nabil kini sedang duduk di samping Abahnya. "Loh kalian udah saling kenal?" tanya Abah. "Nabil temen Aca, bah." "Salim dulu sama Om Sulaiman, beliau sahabat Abah," ucap Abah. Pandangan Aca beralih ke sosok Pria yang terlihat seumuran dengan Abahnya itu, mirip Nabil. "Alhamdulillah loh kalau sudah kenal," ucap pria itu saat Aca bersalaman. "Makin bagus," sahut Abah lalu mereka tertawa ceria. Aca sangat bingung dengan suasana saat ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Ia melihat Nabil. Tapi Nabil tak kunjung menatapnya, alias nunduk. Ya, si Nabil hanya nunduk sedari tadi. Tak lama datanglah umi membawa beberapa cemilan. "Eh Ca, pulang sama siapa?" tanya Umi. "Nafa, mi." Sambil mencium tangan umi nya. Nabil seketika menatapnya saat ia menyebut nama Nafa. Lalu pandangan Nabil langsung beralih ke arah luar. Seolah mencari keberadaan Nafa sahabatnya itu. "Nak, Abah mau bicara boleh?" Abah tiba-tiba saja mengalihkan suasana menjadi lebih serius. Aca tak bisa berbicara karena masih bingung. Ia hanya mengangguk kebingungan. "Ini Nak Nabil, anaknya Om Sulaiman sahabat Abah. Kamu sudah kenal kan?" tanya Abah memastikan. Lagi-lagi Aca hanya mengangguk polos. "Dulu, saat kalian masih bayi Abah, umi, dan keluarga Nabil sudah setuju untuk menjodohkan kalian saat dewasa nanti, dan mungkin sekarang adalah waktu yang tepat," tutur Abah. "Hah?! Aku? Nabil? Perjodohan?!" Jelas saja Aca terkejut bukan main. "Wajarlah ya kalau kaget," sahut om Sulaiman lalu disambut oleh tawa dari mereka. "Sumpah ini nggak lucu! Nabil Lo ngomong dong! Jangan kayak patung!" batinnya. "Nggak apa-apa nak, wajar kalau kamu terkejut. Toh juga nikahnya nggak malam ini kok," ujar Abah lagi. Aca sudah tak bisa berkata-kata lagi. Ia sangat kecewa. "NIKAH?" Lagi-lagi batinnya menjerit tak karuan. "Tapi Abah, Aca..." Aca masih berusaha untuk beralasan tapi sayangnya ia tak tahu alasan apa yang harus ia lontarkan. "Aca kenapa? Nanti aja lah Ca, yang penting Abah udah kasih tahu Aca dulu," pungkas Abah. Aca sangat menyayangkan semua ini. Ia tak tahu bagaimana caranya protes. Karena memang ia tipikal anak yang tak pernah melawan perintah orang tua. Tapi kali ini sungguh ia tak setuju. Umi datang dengan tiba-tiba saat Aca sedang termenung memikirkan ini di kamar. "Ca..." panggilnya dengan suara menenangkan. Aca terlihat membelakangi Uminya. Ternyata wanita itu sedang menyembunyikan tangisnya. Tapi apa gunanya menyembunyikan tangis dari sosok Ibu? Percuma, ia pasti tahu. "Umi tahu ini pasti berat buat Aca, tapi Umi juga nggak bisa bantu Ca. Aca tahu sendiri kan Abah sangat tegas dan keras kepala," ucap Umi. "Nafa, Mi," lirih Aca. Sosok Ibu yang sedang berusaha membuat tegar anaknya. Umi memeluk Aca dengan hangat. Hanya umi yang tahu hubungan Aca dan Nafa, karena Abah sangat melarang Aca untuk berpacaran. Umi paham betul kondisi Aca saat ini. "Maafin Umi ya," ucap Umi dengan berat. "Aca nggak mau lepasin Nafa, mi." "Kalau Aca nggak lepas sekarang, nantinya akan semakin sulit," ucap Umi lagi. "Aca nggak mau nikah sama Nabil, Nabil itu sahabat Nafa Mi." Umi terdiam sejenak. "Pikirkan matang-matang, umi tahu Aca sudah dewasa," pungkas Umi.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook